Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ide Baru: Ranting Anggur Jadi Pengganti Plastik, 17 Hari Terurai

Kompas.com, 15 Agustus 2025, 18:34 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bagian pohon anggur yang dulunya dipangkas dan dibakar di kebun anggur, kini bisa segera digunakan untuk membungkus bahan makanan Anda.

Para ilmuwan telah mengembangkan film (lapisan) biodegradable dari pangkasan pohon anggur yang menyerupai plastik, namun bisa terurai dalam waktu sedikit lebih dari dua minggu.

Terobosan ini berasal dari South Dakota State University (SDSU), yang dipimpin oleh Associate Professor Srinivas Janaswamy, dan dilakukan berkolaborasi dengan ahli pohon anggur, Anne Fennell.

Hasil terbaru menunjukkan bahwa film yang dicetak dari selulosa yang diekstrak dari ranting pohon anggur memiliki sifat transparan, kuat, dan cepat terurai secara hayati.

Seperti yang kita ketahui kebanyakan kemasan hanya digunakan sekali lalu dibuang, dan bahan dasarnya adalah minyak bumi.

Baca juga: Minuman dalam Kemasan Plastik Kecil Paling Berbahaya bagi Lingkungan

Kemasan ini bertahan di tempat pembuangan sampah dan lautan selama berabad-abad, sementara hanya sebagian kecil saja yang didaur ulang. Kepingan mikro- dan nanoplastik juga terlepas dan menyebar ke mana-mana.

Melansir Earth, Rabu (13/8/2025) ide pemanfaatan pohon anggur ini bermula setelah sebuah diskusi di kampus.

Fennell, yang juga seorang profesor agronomi, hortikultura, dan ilmu tumbuhan, menyadari bahwa ranting anggur kaya akan selulosa dan diproduksi dalam jumlah besar setiap musim dingin. Namun, sebagian besar ranting tersebut hanya dihancurkan menjadi mulsa, dikomposkan, atau dibakar.

"Setiap tahun, kami memangkas sebagian besar biomassa dari pohon anggur. Ranting yang dipangkas itu lalu dicacah, dijadikan kompos untuk dikembalikan ke tanah, atau dibakar. Saya pun berpikir kenapa tidak kita gunakan saja bahan ini untuk membuat film (lapisan) bernilai tinggi?,” katanya.

Tim peneliti mengeringkan dan menggiling ranting-ranting anggur. Setelah itu, mereka mengekstrak residu selulosa yang mirip kapas, melarutkannya, dan mencetaknya di atas lempengan kaca untuk membentuk lembaran tipis dan seragam. Hasilnya terlihat seperti film kemasan yang bening.

Baca juga: Riset Ungkap 88 Titik Timbunan Sampah di Kali Surabaya, Dikuasai Plastik

Tes menunjukkan kombinasi sifat-sifat yang luar biasa. Film dari pohon anggur tersebut transparan, yang merupakan sifat penting untuk kemasan.

Film ini juga kuat. Dalam tes kekuatan tarik, kinerjanya lebih baik dari kantong plastik biasa. Selain itu, film ini bisa terurai secara hayati (biodegradasi) di dalam tanah dalam waktu 17 hari dan tidak meninggalkan residu berbahaya.

“Dengan menggunakan pangkasan pohon anggur yang kurang dimanfaatkan sebagai sumber selulosa untuk film kemasan, ini dapat meningkatkan pengelolaan limbah di lahan dan mengatasi masalah global polusi plastik,” jelas Janaswamy.

“Pengembangan film ramah lingkungan dari selulosa pohon anggur merupakan pendekatan praktis untuk keberlanjutan. Ini membantu melestarikan lingkungan dan sumber dayanya, serta berkontribusi pada bioekonomi sirkular,” tambahnya.

Kemasan film yang terbuat dari pohon anggur yang bisa hilang dalam 17 hari bukanlah solusi sempurna untuk semua masalah. Namun, ini adalah langkah nyata menuju rak-rak toko yang lebih bersih, tempat sampah yang lebih bersih, dan lautan yang lebih bersih.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Sustainable Food Technology.

Baca juga: Plastik Rusak Lingkungan, tapi Subsidinya Diprediksi Naik 150 Miliar Dollar AS

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau