JAKARTA, KOMPAS.com - Hutan hujan Amazon berisiko menjadi sabana yang lebih kering dalam waktu satu abad akibat perubahan iklim dan deforestasi.
Dalam seabad terakhir, Amazon semakin rentan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan yang dipicu perubahan iklim serta perluasan deforestasi.
World Resources Institute memperkirakan Amazon di Brasil kehilangan 28.000 km persegi wilayah hutannya pada 2024.
Studi bertajuk Pronounced Loos of Amazon Rainforest Resilience Since the Early 2000s (2022) berpendapat perubahan iklim dan deforestasi mengantarkan Amazon menuju titik kritis, yang mengubah hutan hujan rimbun menjadi padang rumput kering.
Ilmuwan iklim dari Universitas Exeter yang memimpin studi itu, Chris Boulton menilai, lokasi terjadinya deforestasi di Amazon sangat penting untuk dipertimbangkan.
Deforestasi di area dekat Samudera Atlantik dapat mencegah evapotranspirasi di tepi hutan, sehingga menyebabkan semakin sedikit air mengalir ke bagian yang lebih dalam.
Namun, sejumlah peneliti lain berpendapatan berbeda. Berdasarkan studi berjudul Deforestation Could Pust Amazonia Close to a Tipping Point Under Future Climate Change(2025), para peneliti meninjau kembali masa depan Amazon yang tidak pasti.
Para peneliti menguji bagaimana Amazon akan merespon dampak gabungan perubahan iklim dan deforestasi dengan menggunakan model komputer.
Para peneliti menggunakan model kolom tunggal yang dalam riset ini hanya mensimulasikan satu lokasi rata-rata pada cekungan hutan hujan tropis terbesar di dunia itu untuk mewakili seluruh wilayah yang dialiri Sungai Amazon.
Jenis permodelan ini menangkap kompleksitas model iklim global 3D, tetapi tidak memperhitungkan bagaimana kelembaban dan curah hujan dapat berubah di berbagai wilayah cekungan.
Berdasarkan hasil model tersebut, para peneliti mengidentifikasi tiga titik kritis dalam sistem Amazon.
Pertama, penurunan tutupan hutan sebesar 65 persen. Kedua, penurunan kelembaban dari Samudra Atlantik sebesar 10 persen. Ketiga, penurunan curah hujan sebesar 6 persen.
Di luar ambang batas ini, perubahan kecil pada iklim atau tutupan hutan di wilayah tersebut dapat mendorong Amazon melewati batas, kemudian mengubah ekosistemnya menjadi padang rumput.
Inti dari perubahan ini adalah siklus umpan balik antara lahan, vegetasi, dan kelembapan di atmosfer.
Pohon menyerap air dari tanah melalui akarnya dan melepaskan uap air ke atmosfer lewat daunnya, penguapan, serta transpirasi. Uap air itu mengembun di atmosfer dan membentuk hujan.
Air hujan meresap ke dalam tanah, sehingga pohon dapat mengaksesnya. Siklus ini pun terus berlanjut.
Menurut rekan penulis studi sekaligus seorang profesor ilmu sistem Bumi dari Universitas Cambridge, Andrew Friend, dengan lebih sedikit pohon, evapotranspirasi serta curah hujan berkurang, sehingga mengeringkan hutan dan pada akhirnya mengubahnya menjadi sabana.
"Perubahan ini bisa disebabkan oleh deforestasi, tetapi perubahan iklim juga bisa menjadi penyebabnya, yang mengubah jumlah total air yang masuk ke cekungan dari Samudra Atlantik," ucapnya, dilansir dari Live Science.
Para peneliti dalam riset tersebut mengakui keterbatasan model mereka yang tidak mampu mengatasi perbedaan spasial di seluruh cekungan karena hanya berfokus pada satu titik.
Berdasarkan skenario perubahan iklim terendah, para peneliti memproyeksikan deforestasi yang berkelanjutan dapat menghancurkan hutan hujan Amazon dalam 100 tahun ke depan.
"Perubahan iklim dan deforestasi harus dikurangi selama 10-20 tahun ke depan jika kita ingin yakin bahwa sistem ini akan tetap utuh. Pemahaman kita masih jauh dari lengkap, dan kita mungkin salah tentang bagaimana sistem akan merespons ancaman-ancaman ini, tetapi tidaklah bijaksana untuk bergantung pada kemungkinan ini," tutur Friend.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya