Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perubahan Iklim dan Deforestasi Ubah Hutan Amazon Menjadi Sabana dalam Waktu Seabad

Kompas.com, 18 Agustus 2025, 19:55 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Hutan hujan Amazon berisiko menjadi sabana yang lebih kering dalam waktu satu abad akibat perubahan iklim dan deforestasi.

Dalam seabad terakhir, Amazon semakin rentan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan yang dipicu perubahan iklim serta perluasan deforestasi.

World Resources Institute memperkirakan Amazon di Brasil kehilangan 28.000 km persegi wilayah hutannya pada 2024.

Studi bertajuk Pronounced Loos of Amazon Rainforest Resilience Since the Early 2000s (2022) berpendapat perubahan iklim dan deforestasi mengantarkan Amazon menuju titik kritis, yang mengubah hutan hujan rimbun menjadi padang rumput kering.

Ilmuwan iklim dari Universitas Exeter yang memimpin studi itu, Chris Boulton menilai, lokasi terjadinya deforestasi di Amazon sangat penting untuk dipertimbangkan.

Deforestasi di area dekat Samudera Atlantik dapat mencegah evapotranspirasi di tepi hutan, sehingga menyebabkan semakin sedikit air mengalir ke bagian yang lebih dalam.

Namun, sejumlah peneliti lain berpendapatan berbeda. Berdasarkan studi berjudul Deforestation Could Pust Amazonia Close to a Tipping Point Under Future Climate Change(2025), para peneliti meninjau kembali masa depan Amazon yang tidak pasti.

Para peneliti menguji bagaimana Amazon akan merespon dampak gabungan perubahan iklim dan deforestasi dengan menggunakan model komputer.

Para peneliti menggunakan model kolom tunggal yang dalam riset ini hanya mensimulasikan satu lokasi rata-rata pada cekungan hutan hujan tropis terbesar di dunia itu untuk mewakili seluruh wilayah yang dialiri Sungai Amazon.

Jenis permodelan ini menangkap kompleksitas model iklim global 3D, tetapi tidak memperhitungkan bagaimana kelembaban dan curah hujan dapat berubah di berbagai wilayah cekungan.

Berdasarkan hasil model tersebut, para peneliti mengidentifikasi tiga titik kritis dalam sistem Amazon.

Pertama, penurunan tutupan hutan sebesar 65 persen. Kedua, penurunan kelembaban dari Samudra Atlantik sebesar 10 persen. Ketiga, penurunan curah hujan sebesar 6 persen.

Di luar ambang batas ini, perubahan kecil pada iklim atau tutupan hutan di wilayah tersebut dapat mendorong Amazon melewati batas, kemudian mengubah ekosistemnya menjadi padang rumput.

Inti dari perubahan ini adalah siklus umpan balik antara lahan, vegetasi, dan kelembapan di atmosfer.

Pohon menyerap air dari tanah melalui akarnya dan melepaskan uap air ke atmosfer lewat daunnya, penguapan, serta transpirasi. Uap air itu mengembun di atmosfer dan membentuk hujan.

Air hujan meresap ke dalam tanah, sehingga pohon dapat mengaksesnya. Siklus ini pun terus berlanjut.

Menurut rekan penulis studi sekaligus seorang profesor ilmu sistem Bumi dari Universitas Cambridge, Andrew Friend, dengan lebih sedikit pohon, evapotranspirasi serta curah hujan berkurang, sehingga mengeringkan hutan dan pada akhirnya mengubahnya menjadi sabana.

"Perubahan ini bisa disebabkan oleh deforestasi, tetapi perubahan iklim juga bisa menjadi penyebabnya, yang mengubah jumlah total air yang masuk ke cekungan dari Samudra Atlantik," ucapnya, dilansir dari Live Science.

Para peneliti dalam riset tersebut mengakui keterbatasan model mereka yang tidak mampu mengatasi perbedaan spasial di seluruh cekungan karena hanya berfokus pada satu titik.

Berdasarkan skenario perubahan iklim terendah, para peneliti memproyeksikan deforestasi yang berkelanjutan dapat menghancurkan hutan hujan Amazon dalam 100 tahun ke depan.

"Perubahan iklim dan deforestasi harus dikurangi selama 10-20 tahun ke depan jika kita ingin yakin bahwa sistem ini akan tetap utuh. Pemahaman kita masih jauh dari lengkap, dan kita mungkin salah tentang bagaimana sistem akan merespons ancaman-ancaman ini, tetapi tidaklah bijaksana untuk bergantung pada kemungkinan ini," tutur Friend.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau