Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rekor Iklim 2024, dari Suhu Panas Ekstrem hingga Amukan Badai

Kompas.com, 18 Agustus 2025, 16:39 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Laporan Kondisi Iklim tahun 2024 yang diterbitkan oleh American Meteorological Society mengungkapkan dalam periode tersebut perubahan iklim terus memecahkan rekor iklim.

Rekor yang tercatat di antaranya mulai dari konsentrasi gas rumah kaca dan suhu global mencapai tingkat tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya, hingga lautan menyerap lebih banyak panas.

Selain itu juga permukaan air laut naik ke titik tertinggi yang pernah tercatat serta gletser yang mencair es lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya.

Temuan tersebut didapatkan setelah para ahli menggunakan data dari satelit, stasiun cuaca, pelampung laut, dan catatan inti es.

Selama puluhan tahun, laporan ini telah menjadi gambaran utama kondisi iklim Bumi, melacak perubahan penting dan peristiwa ekstrem di seluruh dunia.

Untuk mengetahui seperti rekor iklim yang terjadi pada 2024, berikut uraiannya seperti dikutip dari Earth, Minggu (17/8/2025).

Baca juga: KSBSI Minta Pemerintah Perhatikan Nasib Buruh yang Terdampak Perubahan Iklim

Gas Rumah Kaca Capai Level Tertinggi

Karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida semuanya mencatat rekor baru pada tahun 2024. Rata-rata level CO2 mencapai 422,8 part per million (ppm), naik 52 persen dari masa pra-industri.

Pembakaran bahan bakar fosil dan pertanian tetap menjadi sumber terbesar. Meningkatnya gas rumah kaca menahan lebih banyak panas, mendorong umpan balik yang lebih kuat, seperti uap air yang lebih tinggi di atmosfer dan perubahan cara tanah menyimpan karbon.

Suhu panas pecahkan rekor

Untuk tahun kedua berturut-turut, planet ini memecahkan rekor suhu permukaan. Angka yang tercatat naik hingga 0,72 derajat C di atas rata-rata tahunan 1991-2020.

Fenomena El Niño yang kuat, yang dimulai pada pertengahan 2023 dan berakhir pada musim semi 2024, ikut mendorong kenaikan suhu.

Suhu ekstrem tidak hanya terbatas di daerah tropis. Eropa, Asia, dan Amerika Selatan mengalami tahun terpanasnya. Gelombang panas berlangsung lebih lama dan terjadi pada waktu-waktu yang sebelumnya jarang terjadi.

Hujan dan Kekeringan Ekstrem

Udara yang lebih hangat menahan lebih banyak kelembapan, dan pada tahun 2024 ini terbukti.

Atmosfer membawa uap air pada tingkat yang memecahkan rekor. Satu dari lima wilayah di Bumi mencapai rekor tertinggi kekeringan sepanjang masa, dua kali lipat dari angka tahun 2023.

Peristiwa hujan lebat juga mencetak rekor. Misalnya saja, Dubai mengalami hujan 250 mm dalam satu hari, tiga kali lipat dari rata-rata tahunannya.

Sementara itu, beberapa tempat mengalami banjir, tempat lain menghadapi kekeringan berkepanjangan dan panas ekstrem.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
TPST Bantargebang Tak Bisa Diperluas Lagi, Sampah Jakarta Dibawa ke Mana?
TPST Bantargebang Tak Bisa Diperluas Lagi, Sampah Jakarta Dibawa ke Mana?
Pemerintah
Kepedulian Lingkungan Turun saat Seseorang Berlibur, Mengapa?
Kepedulian Lingkungan Turun saat Seseorang Berlibur, Mengapa?
LSM/Figur
Bantargebang Kritis, Sampah Jakarta Tembus 7.300 Ton per Hari
Bantargebang Kritis, Sampah Jakarta Tembus 7.300 Ton per Hari
Pemerintah
Usai Banjir Sumatera, Banyak Warga yang Tinggal di Pengungsian dengan Fasilitas Terbatas
Usai Banjir Sumatera, Banyak Warga yang Tinggal di Pengungsian dengan Fasilitas Terbatas
LSM/Figur
Dari Kulit Buah Jadi Energi, Eksperimen Sederhana yang Ubah Cara Pandang tentang Sampah
Dari Kulit Buah Jadi Energi, Eksperimen Sederhana yang Ubah Cara Pandang tentang Sampah
LSM/Figur
Sistem Pengelolaan Terpadu Bisa Tekan Biaya dan Emisi Limbah Makanan
Sistem Pengelolaan Terpadu Bisa Tekan Biaya dan Emisi Limbah Makanan
LSM/Figur
Kemenhut Terapkan Syarat Ketat untuk Pengelola Baru Bandung Zoo
Kemenhut Terapkan Syarat Ketat untuk Pengelola Baru Bandung Zoo
Pemerintah
Mandatori Biodiesel B50 Ditunda, Ini Alasan Tak Perlu Buru-buru
Mandatori Biodiesel B50 Ditunda, Ini Alasan Tak Perlu Buru-buru
Swasta
Daftar 10 Spesies Terancam Punah 2026, Belut hingga Tulip
Daftar 10 Spesies Terancam Punah 2026, Belut hingga Tulip
LSM/Figur
Gajah Sumatera Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Pastikan Pidanakan Pelaku
Gajah Sumatera Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Pastikan Pidanakan Pelaku
Pemerintah
Bulog Pasok Komoditas Pangan ke 648 KDMP di Jawa Timur
Bulog Pasok Komoditas Pangan ke 648 KDMP di Jawa Timur
BUMN
Dilarang Naik Gajah, Ini Alasan Kemenhut Hentikan Wisata Gajah Tunggang
Dilarang Naik Gajah, Ini Alasan Kemenhut Hentikan Wisata Gajah Tunggang
Pemerintah
IPB University Dorong Desa Kembangkan Koperasi dan Ekosistem Bisnis Berkelanjutan
IPB University Dorong Desa Kembangkan Koperasi dan Ekosistem Bisnis Berkelanjutan
Pemerintah
Peneliti Ungkap Kondisi Oksigen Laut Masa Depan lewat Plankton Purba
Peneliti Ungkap Kondisi Oksigen Laut Masa Depan lewat Plankton Purba
LSM/Figur
133.792 Petani Jawa Timur Kelola 198.326 Ha Hutan dalam Skema Perhutanan Sosial
133.792 Petani Jawa Timur Kelola 198.326 Ha Hutan dalam Skema Perhutanan Sosial
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau