KOMPAS.com - Laporan Kondisi Iklim tahun 2024 yang diterbitkan oleh American Meteorological Society mengungkapkan dalam periode tersebut perubahan iklim terus memecahkan rekor iklim.
Rekor yang tercatat di antaranya mulai dari konsentrasi gas rumah kaca dan suhu global mencapai tingkat tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya, hingga lautan menyerap lebih banyak panas.
Selain itu juga permukaan air laut naik ke titik tertinggi yang pernah tercatat serta gletser yang mencair es lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya.
Temuan tersebut didapatkan setelah para ahli menggunakan data dari satelit, stasiun cuaca, pelampung laut, dan catatan inti es.
Selama puluhan tahun, laporan ini telah menjadi gambaran utama kondisi iklim Bumi, melacak perubahan penting dan peristiwa ekstrem di seluruh dunia.
Untuk mengetahui seperti rekor iklim yang terjadi pada 2024, berikut uraiannya seperti dikutip dari Earth, Minggu (17/8/2025).
Baca juga: KSBSI Minta Pemerintah Perhatikan Nasib Buruh yang Terdampak Perubahan Iklim
Karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida semuanya mencatat rekor baru pada tahun 2024. Rata-rata level CO2 mencapai 422,8 part per million (ppm), naik 52 persen dari masa pra-industri.
Pembakaran bahan bakar fosil dan pertanian tetap menjadi sumber terbesar. Meningkatnya gas rumah kaca menahan lebih banyak panas, mendorong umpan balik yang lebih kuat, seperti uap air yang lebih tinggi di atmosfer dan perubahan cara tanah menyimpan karbon.
Untuk tahun kedua berturut-turut, planet ini memecahkan rekor suhu permukaan. Angka yang tercatat naik hingga 0,72 derajat C di atas rata-rata tahunan 1991-2020.
Fenomena El Niño yang kuat, yang dimulai pada pertengahan 2023 dan berakhir pada musim semi 2024, ikut mendorong kenaikan suhu.
Suhu ekstrem tidak hanya terbatas di daerah tropis. Eropa, Asia, dan Amerika Selatan mengalami tahun terpanasnya. Gelombang panas berlangsung lebih lama dan terjadi pada waktu-waktu yang sebelumnya jarang terjadi.
Udara yang lebih hangat menahan lebih banyak kelembapan, dan pada tahun 2024 ini terbukti.
Atmosfer membawa uap air pada tingkat yang memecahkan rekor. Satu dari lima wilayah di Bumi mencapai rekor tertinggi kekeringan sepanjang masa, dua kali lipat dari angka tahun 2023.
Peristiwa hujan lebat juga mencetak rekor. Misalnya saja, Dubai mengalami hujan 250 mm dalam satu hari, tiga kali lipat dari rata-rata tahunannya.
Sementara itu, beberapa tempat mengalami banjir, tempat lain menghadapi kekeringan berkepanjangan dan panas ekstrem.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya