Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bahaya di Balik Plastik yang Jadi Andalan, Ada Risiko Kanker hingga Fertilitas

Kompas.com, 22 Agustus 2025, 15:03 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

 JAKARTA, KOMPAS.com - Senior Advisor Nexus3 Foundation, Yuyun Ismawati Drwiega, mengungkapkan sebagian besar masyarakat telah terpapar mikroplastik. Dia mencatat, Indonesia termasuk konsumen mikroplastik per kapita tertinggi di dunia.

Namun, pemerintah dan industri masih kerap menyebutkan bahwa penggunaan plastik per kapita kita masih rendah, hanya 22 kilogram per orang per tahun.

"Masalahnya kita sekarang saja sudah paling tinggi di dunia, jadi mau harus sampai berapa. Plastik di dalam botol, misalnya, bahan kimianya bisa berpindah ke air," kata Yuyun dalam webinar, Kamis (21/8/2025).

Baca juga: Tahun Ini, Menteri LH Wajibkan Produsen Kelola Sampah Plastik Sendiri

Mikroplastik berdampak pada kesehatan manusia. Kontaminasinya dimulai dari makanan atau minuman hingga kontak mikroplastik pada kulit.

Saat ini jumlah zat kimia dalam plastik mencapai 16.000, dengan 2.000 tambahan bahan kimia setiap tahun. Yuyun menyampaikan, dari jumlah itu baru 1 persen yang diuji atau diamati tingkat bahayanya.

"Hanya sekitar 1 persen yang sudah masuk di dalam konvensi Montreal Protocol, Minamata Convention, Stockholm Convention. Jadi hanya 1 persen dari bahan kimia ini sudah diatur, dan 99 persen sebetulnya out of control atau tidak diatur," papar dia.

Berdasarkan penelitian, bahan kimia plastik berisiko memengaruhi metabolisme dan cara kerja hormon endokrin pada laki-laki, perempuan, maupun anak-anak. Dampaknya antara lain pada kesehatan reproduksi dan peningkatan kasus kanker.

"Studi menunjukkan bahwa 50 tahun terakhir ada penurunan tingkat fertilitas laki-laki. Sehingga dari perhitungan, tahun 2045 kesehatan reproduksi laki-laki akan menurun bahkan mendekati nol," ucap Yuyun.

Ia pun mewanti-wanti bahaya daur ulang plastik hitam. Sebab, proses produksinya berasal dari daur ulang berulang yang bercampur bahan kimia tambahan.

Plastik dapat terdegradasi menjadi mikroplastik yang masuk ke tubuh anak-anak, bahkan sudah terdeteksi dalam air liur bayi melalui mainan.

Baca juga: Plastik Rusak Lingkungan, tapi Subsidinya Diprediksi Naik 150 Miliar Dollar AS

Yuyun merekomendasikan agar pemerintah global memastikan adanya kontrol yang mengikat secara hukum terkait plastik, mengendalikan dan mengurangi produksi, menghilangkan bahan kimia beracun pada produksi plastik, hingga meningkatkan kapasitas kesehatan.

Sumbang Emisi

Direktur Yayasan Pikul, Torry Kuswardono, mengungkapkan plastik menyumbang 15 persen dari total emisi global. Ironisnya, meski dunia tengah berupaya menekan emisi, konsumsi plastik justru diperkirakan terus meningkat setiap tahunnya.

"Persoalan pelaku utama dari emisi terbesar di dunia ini berasal dari ekstrasi sumber daya fosil, terutama petroleum and gas salah satunya. Dan mereka enggak mau berubah," ucap Torry.

Industri plastik bergantung pada ekstraksi fosil, lantaran hampir semua jenisnya dibuat dari turunan minyak bumi dan gas alam. Sehingga, apabila ekstraksi fosil berhenti maka produksi plastik bakal turun drastis.

Menurut Torry, perusahaan minyak dan gas saat ini mulai mengalihkan bisnisnya dari energi ke produk berbasis polimer seperti plastik. Akibatnya, kebutuhan barang konsumsi berbahan plastik melonjak kendati terjadi penurunan emisi di sektor transportasi.

Efek plastik terhadap emisi gas rumah kaca (GRK) terjadi di semua tahapan mulai dari ekstraksi minyak bumi dan gas, proses penyulingan, penggunaan energi saat produksi, hingga menjadi limbah.

Baca juga: Tahun Ini, Menteri LH Wajibkan Produsen Kelola Sampah Plastik Sendiri

"Ketika plastik dibuang di alam, akan menghasilkan emisi juga bahkan lebih berbahaya, karena menurut beberapa riset menunjukkan bahwa ada proses-proses penguraian yang tidak sempurna lalu menjadi bahan beracun," kata dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau