Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AI Bantu Perluasan dan Perawatan Ruang Terbuka Hijau di Kota

Kompas.com, 25 Maret 2026, 16:35 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Penghijauan kota menjadi cara melawan krisis iklim. Ruang terbuka hijau (RTH) dapat membantu mendinginkan kota dan membuat udara lebih bersih. 

Pepohonan dan taman di tengah "hutan beton" juga mendorong kebiasaan jalan kaki yang mengurangi lalu lintas kendaraan.

Baca juga:

Namun, perawatan dan perencanaan masa depan RTH kota menghadapi tantangan yang sangat kompleks.

Arah pergerakan dan perkembangan RTH ke depan semakin sulit dilacak karena sepenuhnya dikelola oleh kota itu sendiri. Tak terkecuali, bagi ibu kota Amerika Serikat (AS), Washington, D.C.

Merawat ruang terbuka hijau di kota

Contoh kasus di Washington, D.C.

Ilustrasi Gedung Putih di Washington, D.C., Amerika Serikat. Penghijauan kota jadi cara melawan krisis iklim. Ruang terbuka hijau (RTH) dapat membantu mendinginkan kota dan membuat udara lebih bersih. Shutterstock Ilustrasi Gedung Putih di Washington, D.C., Amerika Serikat. Penghijauan kota jadi cara melawan krisis iklim. Ruang terbuka hijau (RTH) dapat membantu mendinginkan kota dan membuat udara lebih bersih. 

Meskipun telah memanfaatkan hutan kota dan ruang hijau untuk menciptakan kota yang lebih layak huni bagi penduduknya, Washington, D.C. tetap menghadapi masalah layaknya metropolitan lainnya. Salah satunya perluasan skala dan perawatan RTH.

"Para ahli kehutanan perkotaan memiliki rencana di seluruh kota dan melakukan survei pohon skala besar sambil juga merawat pohon-pohon individual sesuai kebutuhan, tapi mereka ingin memiliki cara yang lebih efektif untuk memantau seluruh sistem," kata profesor pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Northeastern University, Fang Fang, dilansir dari Phys.org, Rabu (25/3/2026).

Saat ini, studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Urban Forestry & Urban Greening menyediakan alat perencanaan dan penilaian bagi para ahli kehutanan, yang dapat membuka perspektif baru dalam perawatan RTH di perkotaan.

Studi dari Northeastern University itu memaparkan model AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan butan) pembelajaran mendalam yang memproses citra satelit dan fotografi Google Street View untuk menganalisis RTH di Washington, D.C. secara tiga dimensi.

Fang dan tim penelitinya bekerja sama dengan Divisi Kehutanan Perkotaan Departemen Transportasi Distrik (DDOT) menganalisis lebih dari 80.000 gambar satelit dan Google Street View.

Dengan menggabungkan gambar satelit untuk tampilan dari atas dan Google Street View sebagai orientasi vertikal melalui permukaan tanah, para ahli kehutanan perkotaan akan memperoleh sudut pandang baru.

Kombinasi teknik ini memungkinkan para ahli kehutanan perkotaan untuk mempelajari RTH pada berbagai skala.

"Untuk tujuan praktis dan operasional kami, (studi ini) membantu kami memahami dengan cara baru batasan program kami," tutur wakil direktur Divisi Kehutanan Perkotaan DDOT Washington, D.C., Earl Eutsler.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau