Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tropenbos Kembangkan Agroforestri Karet dan Kopi Liberika di Kalbar

Kompas.com, 4 September 2025, 18:26 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Tropenbos Indonesia mengembangkan bisnis berkelanjutan dalam program agroforestri karet di Kecamatan Simpang Dua, Kalimantan Barat.

Sebelum tahun 2010, empat dari tujuh desa di Kecamatan Simpang Dua — yang berada di bawah hutan Gunung Juring — banyak tumbuh pohon karet.

Namun, setelah tahun 2010, penduduk desa mulai beralih ke sawit seiring dengan penurunan harga karet.

"Karet tadi (jadi) terancam penyakit dan sebagainya. Karena skala sawit semakin besar juga yang biasanya menjadi buruh di situ, dia enggak punya waktu untuk menyadap karet ya," ujar Direktur Tropenbos Indonesia, Edi Purwanto di kantor Kompas.com, Jakarta, Kamis (4/9/2025).

Baca juga: Bappenas: Keanekaragaman Hayati di Sumatera Terancam Perkebunan, Sulawesi oleh Tambang

Menurut Edi, sebagai jasa lingkungan, agroforestri karena lebih bagus daripada sawit. Maka, Tropenbos mencoba mempengaruhi penduduk di empat desa di Kecamatan Simpang Dua untuk kembali menggerakkan perekonomian melalui karet.

Tropenbos Indonesia membuat pelatihan dengan sekolah lapang, yang mengajarkan bagaimana mengolah dan memelihara karet dengan baik. Tropenbos Indonesia juga mengembangkan bibit karet baru.

Tropenbos Indonesia membentuk kelompok-kelompok tani serta Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) usai penduduk desa kembali tertarik dengan karet.

"(Kemudian), kami kasih dana sebagai awal (usaha dengan) membeli produk karet masyarakat. Lalu, mereka memasarkan ke suatu perusahaan di Kalbar, dan dibayar dengan harga lebih bagus. Dari situ, pendapatan mereka meningkat 30 persen petani karet tadi," tutur Edi.

Kenaikan pendapatan mendorong penduduk desa lain beralih dari buruh sawit ke petani karet. Bahkan, kata dia, ada orang yang keluar dari perusahaan perkebunan sawit untuk kembali menjadi petani karet.

Baca juga: Adena Coffee Berbagi Strategi Bangun Kopi Berkelanjutan dari Kebun

Tropenbos Indonesia membina 101 orang petani karet yang sekarang sudah terampil. UPPB yang tadinya hanya organisasi biasa, kata dia, saat ini sudah menjadi koperasi.

"Awal kami masuk itu tahun 2000. Tahun 2001 bikin sekolah lapangan dan pada 2002 bikin UPPB. Tahun 2003 itu sudah ada pemasaran karet pertama. Sekarang sudah pemasaran yang ke-20," ucapnya.

Selain karet, Tropenbos Indonesia mengembangkan kopi di Desa Podorukun, Kecamatan Seponti, Kabupaten Kayong Utara. Di antarnya, kopi liberika yang tumbuh di atas tanah bercampur gambut, robusta, dan beberapa varian kopi lainnya.

Kopi liberika pernah berjaya pada 1980-1990-an dan mulai meredup tahun 2000-an. Bahkan, saat ini kopi liberika mendapatkan pengakuan internasional.

"Setelah melihat harga kopi mulai bagus. Banyak kafe dan warkop di Kalbar itu luar biasa. Ada rencana akan ke sana (didaftarkan indikasi geografisnya). Ya, karena itu kopi yang baru mulai kami kembangkan setelah ditinggalkan," ujar Edi.

Baca juga: Agroforestri Efektif Jaga Biodiversitas Hutan Tropis, Gambut, Pesisir

Tropenbos Indonesia juga mengembangkan buah tengkawang dan kepayang, serta ikan nila.

"Kalau nila, perikanan itu baru saja, baru setahun ini. Jadi, belum bisa kami ceritakan," tutur Edi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau