JAKARTA, KOMPAS.com – Konflik antara manusia dan satwa liar di Sumatera semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Hal ini terungkap dalam laporan Status Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia untuk ekoregion Sumatera dan Sulawesi yang dirilis Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, Selasa (19/8/2025).
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo A.A.T. Sambodo, menyebut terdapat sejumlah ancaman serius yang membayangi keberlanjutan ekosistem di Sumatera.
“Kalau melihat peta Sumatera, tahun 1990 warnanya masih semarak karena masih banyak hutan dan beragam bentang alam. Namun tahun 2021 sudah didominasi oleh perkebunan,” ujar Leonardo dalam peluncuran laporan yang disiarkan melalui kanal YouTube Bappenas RI.
Laporan mencatat setidaknya tujuh ancaman utama bagi keanekaragaman hayati Sumatera, yaitu perubahan tata guna lahan yang memicu fragmentasi habitat, kebakaran hutan, perburuan satwa liar dan penangkapan ikan berlebihan.
Lainnya adalah perubahan iklim yang memengaruhi siklus hidup satwa dan menyebabkan pengasaman air laut, penyebaran jenis asing invasif, maraknya alga berbahaya (MAB), ancaman biologis dari penyakit menular baru berbasis zoonosis.
Sementara itu, ekoregion Sulawesi memiliki tantangan berbeda. Dengan kekayaan satwa endemik akibat garis Wallace, Sulawesi menghadapi sepuluh ancaman besar terhadap biodiversitasnya.
Ancaman itu mencakup perburuan untuk daging satwa seperti rusa, dugong, paus sperma, lumba-lumba spinner, hingga paus pembunuh. Selain itu, juga ada perkebunan monokultur, pertambangan, perubahan iklim, bencana alam, penangkapan ikan berlebih, hingga sampah laut.
Perdagangan satwa liar, mulai dari penyu, kura-kura, burung bernyanyi, burung beo, hingga trenggiling, juga masih marak terjadi. Di sisi lain, Sulawesi juga dikenal sebagai wilayah dengan potensi tinggi munculnya penyakit zoonosis karena intensitas interaksi masyarakat dengan satwa liar.
“Dalam beberapa tahun terakhir, banyak ancaman di Sulawesi yang berkaitan dengan pertambangan. Ini menjadi fokus karena tiap pulau memiliki karakteristik ancaman dan dominasi aktivitas ekonominya masing-masing,” tutur Leonardo.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya