Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi EY: Mayoritas Perusahaan akan Tingkatkan Anggaran Keselamatan Kerja

Kompas.com, 12 September 2025, 08:21 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber esgdive


KOMPAS.com - Laporan dari Ernst & Young mengungkapkan hampir empat dari lima perusahaan dan instansi pemerintah di seluruh dunia berencana untuk meningkatkan anggaran untuk inisiatif lingkungan, kesehatan, dan keselamatan kerja (EHS) dalam tiga tahun ke depan.

Hal tersebut dilakukan sebagai respons terhadap meningkatnya angka kecelakaan dan kematian di tempat kerja.

Melansir ESG Dive, Selasa (9/9/2025), menurut Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dalam laporannya tahun 2023, kecelakaan dan penyakit akibat kerja telah merenggut nyawa 3 juta orang di seluruh dunia setiap tahunnya. Angka itu naik 5 persen dibandingkan tahun 2015.

ILO juga menyatakan bahwa sebagian besar dari 2,6 juta kematian diakibatkan oleh penyakit kerja, seperti neoplasma ganas, serta penyakit yang berhubungan dengan sistem peredaran darah dan pernapasan. Kematian lainnya disebabkan oleh kecelakaan.

Baca juga: ZSL: Hanya 18 Persen Perusahaan Kehutanan Tropis Ungkap Asal Bahan Baku

Pertanian, konstruksi, kehutanan, perikanan, dan manufaktur adalah industri dengan risiko paling tinggi.

Sehingga mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan menjadi alasan utama mengapa kemudian perusahaan-perusahaan bakal meningkatkan anggaran EHS selama tiga tahun terakhir.

"Hal ini hampir bisa dipastikan sebagai respons terhadap tingginya tingkat kematian dan cedera di tempat kerja di banyak pasar," tulis EY dalam laporannya.

Melalui belanja EHS pula, perusahaan bisa meningkatkan efisiensi, memperkuat reputasi, serta meningkatkan ketahanan dan kinerja bisnis.

Program EHS mencakup berbagai hal, mulai dari manajemen limbah dan keselamatan kerja hingga konservasi air dan dukungan kesehatan mental.

Laporan EY menyatakan bahwa hampir tiga dari empat perusahaan yang secara proaktif berinvestasi dalam program EHS mengatakan mereka berhasil mengurangi biaya saat terjadi gangguan tak terduga.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan 64 persen responden yang hanya mengambil pendekatan reaktif terhadap tantangan EHS.

Menurut EY juga, di antara para perusahaan yang disebut EHS leaders, 81 persen mengatakan bahwa program mereka telah meningkatkan nilai komersial. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan 59 persen dari responden lainnya.

Sementara itu hampir empat dari lima responden menyatakan bahwa pendekatan EHS telah berhasil meningkatkan efisiensi operasional. Peningkatan ini termasuk peningkatan produktivitas, inovasi yang lebih baik, dan penurunan insiden terkait kesehatan.

Baca juga: WHO: Panas Ekstrem akibat Perubahan Iklim Bikin Pekerja Stres

Laporan EY juga mencatat, para responden yang berencana meningkatkan anggaran EHS kemungkinan besar akan memfokuskan dana tersebut untuk mencapai tujuan keberlanjutan, mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan karyawan, serta mencapai kemajuan teknologi.

"Berinvestasi di bidang EHS tidak hanya membantu mematuhi peraturan, tetapi juga meningkatkan kemampuan perusahaan untuk beroperasi secara efektif dan bertanggung jawab," kata Jessica Wollmuth, salah satu pemimpin global EHS di EY, dalam sebuah pernyataan.

Ia menambahkan, perusahaan seharusnya memprioritaskan belanja EHS meskipun ada volatilitas pasar dan kendala anggaran saat ini.

Dalam studi ini EY mensurvei 526 pemimpin tingkat C-suite dan eksekutif EHS di 34 negara dari berbagai industri.

Survei ini dilakukan pada bulan Maret dan April tahun ini, melibatkan perusahaan dengan pendapatan atau anggaran tahunan setidaknya 500 juta dolar AS.

Baca juga: Hadapi Krisis Iklim, Bone dan TTS Masukkan Pangan Lokal ke Kurikulum

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau