Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ilmuwan Surati SBTi: Solusi Iklim Berbasis Alam Lebih Murah dan Cepat

Kompas.com, 14 September 2025, 17:00 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Puluhan ilmuwan, yang mayoritas di antaranya mewakili Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang alam, mendesak Science Based Targets initiative (SBTi) untuk berbuat lebih banyak.

Mereka meminta SBTi untuk mendorong perusahaan agar berinvestasi dalam penghilangan karbon dari proyek-proyek konservasi dan restorasi alam, sebagai bagian dari strategi net-zero mereka.

Sekitar 30 ilmuwan mengirim surat kepada kelompok kerja ahli SBTi, di mana mereka tengah dalam proses memperbarui Standar Net Zero untuk bisnis skala besar.

Melansir Edie, Jumat (12/9/2025), surat dari para ilmuwan itu menyatakan bahwa solusi iklim berbasis alam (NCS), seperti restorasi hutan bakau dan penghijauan, menawarkan skalabilitas dan efektivitas biaya yang cepat tidak seperti kebanyakan teknologi penghilangan karbon buatan manusia.

NCS juga memberikan manfaat yang lebih luas bagi alam dan masyarakat.

Baca juga: SBTi Rilis Standar Net Zero untuk Bank dan Investor, Atur soal Pinjaman hingga Asuransi

Dalam suratnya, peneliti menuliskan beberapa pihak telah salah menilai mengenai solusi berbasis alam dan menganggap manfaatnya tidak akan bertahan lama.

Anggapan tersebut membuat perusahaan enggan berinvestasi pada solusi berbasis alam, padahal itulah yang paling dibutuhkan saat ini untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

Di sisi lain penerapan kebijakan yang ketat kemungkinan akan menciptakan inefisiensi, sistemik, ketidakadilan, dan hambatan yang tidak menguntungkan pada tindakan iklim yang saat ini ada.

Selain itu juga para ilmuwan menyebut aturan yang dibuat berdasarkan asumsi yang belum tentu benar. Mereka, misalnya mempertanyakan apakah penyimpanan karbon secara secara geologis benar-benar seaman dan setahan lama yang diklaim.

Baca juga: Demi Target Iklim Global, SBTi Luncurkan Standar Net Zero untuk Sektor Energi Listrik

Surat dari para ilmuwan ini juga telah dikirimkan kepada badan pengawas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengawasi aturan pasar karbon global, yang dikenal sebagai Pasal 6.4 dari Perjanjian Paris.

Sebelumnya, organisasi nirlaba independen yang berfokus pada kebijakan iklim dan keberlanjutan global NewClimate Institute menerbitkan sebuah penilaian tentang bagaimana 35 perusahaan besar menggunakan solusi penghilangan karbon baik yang berbasis alam maupun buatan manusia untuk mencapai target iklim mereka.

Penilaian tersebut mengungkapkan bahwa perusahaan di sektor penerbangan, mode, dan energi dan utilitas adalah yang paling sering berinvestasi pada proyek penghilangan karbon berkualitas rendah, seperti menanam pohon di lokasi yang berisiko tinggi terhadap cuaca ekstrem.

Agroforestri juga menjadi pilihan umum, yaitu berinvestasi pada pohon yang nantinya akan ditebang untuk menghasilkan bubur kertas, kertas, atau kayu.

Sementara itu, perusahaan-perusahaan teknologi cenderung mengambil pendekatan yang lebih maju.

Baca juga: Citizen Science Mulai Didorong untuk Riset Perairan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau