Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia Bisa Jadi Eksportir Hidrogen Bersih, Ada 4 Penentu Kesuksesannya

Kompas.com, 13 September 2025, 17:00 WIB
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Peta Jalan Nasional memperkirakan permintaan hidrogen di Indonesia akan mencapai 11,7 juta ton per tahun pada 2060. Bahkan, potensi produksinya diperkirakan lebih besar, yaitu mencapai 17,5 juta ton per tahun.

Potensi besar ini membuka peluang bagi Indonesia untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga mengekspor hidrogen ke luar negeri.

Direktur Utama Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menilai Indonesia berpeluang menjadi eksportir hidrogen hijau di masa depan.

"Nah, kalau sekarang Indonesia dikenal sebagai pengekspor batu bara, mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama, kita bisa dikenal sebagai pengekspor hidrogen bersih," ujar Fabby dalam webinar, Jumat (12/9/2025).

Namun hingga kini, pengembangan hidrogen hijau di Indonesia masih terkendala biaya produksi yang mahal. Padahal, hidrogen hijau merupakan faktor penting dalam dekarbonisasi industri, terutama sektor baja.

Penggunaan hidrogen hijau juga diproyeksikan meluas ke sektor kimia, pupuk, kaca, otomotif, hingga tekstil. Menurut IESR, kebutuhan nyata hidrogen hijau baru akan muncul pada 2030.

Fabby menekankan, Indonesia masih memiliki waktu untuk mengakselerasi pemanfaatan energi terbarukan agar harga listrik menjadi lebih kompetitif. Dengan begitu, hidrogen hijau dapat diproduksi dengan biaya yang lebih terjangkau.

Baca juga: Sederet Upaya Keberlanjutan Astra Group, Bangun PLTS hingga Kembangkan Bahan Bakar Hidrogen

Empat Faktor Penentu Keberhasilan

Berkaca dari pengalaman global maupun nasional, Fabby menyebut ada empat faktor utama yang menentukan keberhasilan proyek hidrogen hijau.

Pertama, menurunkan biaya teknologi melalui insentif awal. Teknologi baru sangat dibutuhkan agar keekonomiannya lebih kompetitif.

Kedua, perjanjian offtake yang bankable, sebagai syarat penting agar investor berani berinvestasi di proyek hidrogen hijau.

Ketiga, kedekatan dengan sumber daya, permintaan akhir, dan infrastruktur.

"Proyek yang jauh dari sumber pasokan, yang tidak mendekati permintaan akan sulit bertahan karena tingginya biaya transportasi," tutur Fabby.

Keempat, dukungan kebijakan yang konsisten, stabil, dan dapat diprediksi.

Tantangan Insentif dan Pasar

Sementara itu, Manajer Program Dekarbonisasi IESR, Juniko Nur Pratama, menekankan bahwa tantangan utama pengembangan hidrogen hijau adalah kebutuhan insentif yang kuat, kepastian pasar, dan standar sertifikasi produk.

"Kalau kami melihat dari skema pasar karbon, mungkin kenapa saat ini Indonesia atau industri ini masih belum bisa menurunkan emisi karbonnya dengan teknologi yang mahal, karena memang tidak adanya tekanan dari pasar," ucapnya.

Tanpa tekanan pasar, banyak industri lebih memilih membayar pajak atau carbon offset (tebus karbon) ketimbang melakukan dekarbonisasi yang mahal, termasuk melalui hidrogen hijau.

Akhirnya, lanjut Juniko, pemerintah perlu menaikkan harga karbon disertai dukungan keuangan bagi industri yang terkena dampak langsung.

Baca juga: Hidrogen Hijau Jadi Solusi Dekarbonisasi Industri di Negara Berkembang

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau