Penulis
KOMPAS.com - "Kalau bicara soal metana dari sampah, saya tahu-lah semua detailnya," kata Suyono, menerangkan kepakarannya dalam mengelola sampah organik menjadi metana.
Selama bertahun-tahun, ia ikut bertanggung jawab dalam produksi metana dari sampah organik di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Manggar, Balikpapan, yang menjadi lokasi binaan program Wasteco milik Pertamina.
"Tiap hari saya harus kontrol itu, pipa mana yang menghasilkan gas. Dari situ, saya pastikan mengalir ke warga," ujar Suyono menguraikan rutinitas hariannya ketika ditemui Kompas.com pada pertengahan Agustus lalu.
Produksi metana, katanya, bisa naik turun. Kuantitasnya tergantung pada jumlah sampah organik yang terakumulasi di TPA. Curah hujan yang cukup juga berpengaruh karena meningkatkan aktivitas penguraian sampah.
Ada faktor lain yang memengaruhi, yaitu keberadaan material pelapis di dasar landfill. Menurut Suyono, jika dilapisi, maka material organik, termasuk yang berbentuk cair, tidak merembes ke tanah, melainkan menjadi bahan baku produksi metana.
Kini, bisa dibilang Suyono hidup dari metana. Bukan hanya karena pekerjaannya sebagai teknisi memberinya penghasilan tambahan, tetapi juga karena istrinya, Karti, memanfaatkan gas metana tersebut untuk usaha.
"Saya bikin usaha keripik ini," kata Karti, seraya menunjukkan keripik pisang buatannya. "Karena pakai metana, harganya bisa murah. Cuma Rp 18 ribu ini (kemasan 500 gram). Coba pakai gas biasa, harganya enggak segini."
Berapa omzet dan keuntungannya? Karti mengaku tak pernah menghitung secara detail. Baginya, yang penting uangnya cukup untuk tambahan biaya sekolah anak-anak sekaligus memenuhi kebutuhannya sendiri.
"Saya bisa beli baju. Beli lipstik ini buat dandan dikit-dikit. Dari jualan ini. Tidak harus minta uang dari suami sekarang," katanya sambil menegaskan bahwa bisa menghasilkan uang sendiri adalah salah satu kepuasannya.
Manfaat metana dari TPA Manggar bukan hanya dirasakan Suyono dan Karti, melainkan juga komunitas mereka. Salah satunya berupa penghematan biaya karena tidak perlu lagi bergantung pada gas melon (tabung 3,5 kilogram).
Baca juga: Hari Kelebihan Sampah Plastik 2025: Dunia Gagal Kelola Sepertiga Produksi
"Untuk pakai metana ini, warga cuma bayar Rp 10 ribu per bulan. Biasanya, sebulan butuh 4 gas melon, sekarang cuma butuh satu. Itu pun hanya untuk cadangan kalau metana tidak ada. Banyak hematnya," ungkap Suyono.
Karti menambahkan, komunitasnya juga punya bank sampah yang memberi peluang tambahan penghasilan. "Jadi kadang kita juga enggak bayar metana sama sekali karena biayanya dipotong dari tabungan di bank sampah," jelasnya.
Saat ini, jaringan pipa gas metana sudah mencapai radius 8 kilometer. Setidaknya 380 rumah telah memanfaatkan gas metana dari sampah organik hasil olahan TPA Manggar yang luasnya mencapai 40 hektar.
Potensi gas metana yang bisa dihasilkan dari TPA tersebut sekitar 1,5 juta meter kubik. Namun, baru 60 persen yang berhasil dimanfaatkan. Satu landfill baru bahkan sedang disiapkan untuk menampung lebih banyak sampah dan mengoptimalkan produksi metana.
Menurut Pertamina, TPA Manggar saat ini menghasilkan 820.000 meter kubik gas metana per tahun. Program ini mampu menghemat biaya rumah tangga hingga Rp 456 juta per tahun sekaligus memangkas emisi karbon sebesar 296.356 ton CO?e per tahun.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya