Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hari Kelebihan Sampah Plastik 2025: Dunia Gagal Kelola Sepertiga Produksi

Kompas.com, 8 September 2025, 17:00 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Para peneliti mengklaim bahwa jumlah sampah plastik yang dihasilkan secara global sepanjang 2025 telah melampaui kemampuan dunia untuk mengelolanya dengan aman.

Akibatnya, sepertiga dari seluruh sampah plastik yang diproduksi kemungkinan besar akan dibuang, dibakar, atau dibiarkan tercecer di lingkungan.

Peneliti dari organisasi bernama Earth Action For Impact mengungkapkan hal tersebut Jumat, (5/9/2025).

Hari itu mereka sebut sebagai 'Hari Kelebihan Sampah Plastik' (Plastic Overshoot Day), titik di tahun ini di mana sampah plastik melampaui kapasitas global untuk mengelolanya.

Melansir Edie, sekitar 225 juta ton sampah plastik akan diproduksi tahun ini, dengan rata-rata 28 kg dihasilkan per orang.

Baca juga: Peta Global Ungkap Wilayah Laut Paling Terancam Sampah Plastik

Secara global, hanya ada kapasitas untuk mengelola 68 persen dari sampah plastik ini secara memadai. Sisanya, sebanyak 72 juta ton, kemungkinan besar akan berakhir menjadi polusi.

Membakar, membuang, dan menimbun sampah plastik sembarangan masih menjadi masalah global, begitu juga dengan tempat pengelolaan sampah padat yang tidak dikelola dengan baik.

Berdasarkan perhitungan per kapita, jumlah sampah plastik meningkat 10 persen sejak 2021. Kenaikan ini disebabkan oleh penggunaan kemasan yang semakin banyak dan pembuangan tekstil sintetis yang lebih sering.

Secara absolut, sampah plastik global telah meningkat sebesar 5 ton, atau 0,2 persen, dari tahun ke tahun.

"Plastic Overshoot Day menyoroti ketidakseimbangan antara pola produksi kita dengan kapasitas kita untuk mengelola sampah secara bertanggung jawab. Ini bukanlah masalah yang bisa kita selesaikan hanya dengan daur ulang," ungkap Yoni Shiran, pemimpin bidang plastik di Systemiq, mitra dari Earth Action For Impact.

Upaya untuk menyelesaikan sampah plastik terus dicoba namun sayangnya menemu jalan buntu.

Misalnya saja, bulan lalu, negosiasi yang didukung PBB untuk menyelesaikan perjanjian global tentang penghentian polusi plastik gagal untuk kedua kalinya.

Baca juga: Bali Waste Cycle Sulap Sampah Plastik Jadi Papan hingga Kaki Palsu

Negosiasi ini memperlihatkan jurang pemisah yang lebar antara negara-negara yang memiliki ambisi tinggi, yang mendesak adanya target dan upaya terikat waktu untuk mengurangi produksi plastik, dengan negara-negara yang industri petrokimianya sangat bergantung pada produksi tersebut.

Saat ini, berbagai LSM mendesak adanya reformasi proses dalam negosiasi yang akan datang. Mereka menyarankan sebuah perjanjian yang lebih kuat dapat terwujud jika menggunakan sistem pemungutan suara mayoritas sederhana, atau mayoritas dua per tiga. Selain itu, mereka juga mengusulkan pertemuan yang lebih rutin antar negosiator resmi.

Earth Action For Impact pun menyoroti bagaimana banyak negara yang memproduksi sampah plastik jauh di atas kapasitas pengelolaan mereka, justru berupaya menghalangi perjanjian yang kuat. Negara-negara tersebut termasuk Tiongkok, Rusia, India, dan Iran.

"Ketiadaan perjanjian plastik global tidak serta-merta menghilangkan risiko bagi planet dan dunia usaha," ujar Sarah Perreard, salah satu CEO Earth Action for Impact.

Lebih lanjut, meskipun negosiasi antarnegara terus menemui jalan buntu, polusi plastik sesungguhnya telah memengaruhi iklim bisnis melalui pengetatan regulasi, gugatan hukum, dan meningkatnya liabilitas perusahaan. Secara finansial, alasan untuk bertindak sudah sangat jelas.

"Perusahaan yang saat ini sudah berupaya mengukur, melaporkan, dan meminimalkan risiko plastik akan mampu bersaing dan lebih tahan banting. Sementara itu, mereka yang menunda-nunda akan menghadapi konsekuensi finansial di kemudian hari," kata Perreard.

Organisasi think-tank keuangan, Planet Tracker, pada tahun 2023 memperingatkan bahwa biaya litigasi (tuntutan hukum) terkait plastik bisa mencapai 20 miliar dolar AS pada tahun 2030 di Amerika Serikat saja, dan 100 miliar dolar AS secara global.

Baca juga: Plastik Sumbang 15 Persen Emisi Global, dan Konsumsinya Diprediksi Melonjak

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau