KOMPAS.com - Para peneliti mengklaim bahwa jumlah sampah plastik yang dihasilkan secara global sepanjang 2025 telah melampaui kemampuan dunia untuk mengelolanya dengan aman.
Akibatnya, sepertiga dari seluruh sampah plastik yang diproduksi kemungkinan besar akan dibuang, dibakar, atau dibiarkan tercecer di lingkungan.
Peneliti dari organisasi bernama Earth Action For Impact mengungkapkan hal tersebut Jumat, (5/9/2025).
Hari itu mereka sebut sebagai 'Hari Kelebihan Sampah Plastik' (Plastic Overshoot Day), titik di tahun ini di mana sampah plastik melampaui kapasitas global untuk mengelolanya.
Melansir Edie, sekitar 225 juta ton sampah plastik akan diproduksi tahun ini, dengan rata-rata 28 kg dihasilkan per orang.
Baca juga: Peta Global Ungkap Wilayah Laut Paling Terancam Sampah Plastik
Secara global, hanya ada kapasitas untuk mengelola 68 persen dari sampah plastik ini secara memadai. Sisanya, sebanyak 72 juta ton, kemungkinan besar akan berakhir menjadi polusi.
Membakar, membuang, dan menimbun sampah plastik sembarangan masih menjadi masalah global, begitu juga dengan tempat pengelolaan sampah padat yang tidak dikelola dengan baik.
Berdasarkan perhitungan per kapita, jumlah sampah plastik meningkat 10 persen sejak 2021. Kenaikan ini disebabkan oleh penggunaan kemasan yang semakin banyak dan pembuangan tekstil sintetis yang lebih sering.
Secara absolut, sampah plastik global telah meningkat sebesar 5 ton, atau 0,2 persen, dari tahun ke tahun.
"Plastic Overshoot Day menyoroti ketidakseimbangan antara pola produksi kita dengan kapasitas kita untuk mengelola sampah secara bertanggung jawab. Ini bukanlah masalah yang bisa kita selesaikan hanya dengan daur ulang," ungkap Yoni Shiran, pemimpin bidang plastik di Systemiq, mitra dari Earth Action For Impact.
Upaya untuk menyelesaikan sampah plastik terus dicoba namun sayangnya menemu jalan buntu.
Misalnya saja, bulan lalu, negosiasi yang didukung PBB untuk menyelesaikan perjanjian global tentang penghentian polusi plastik gagal untuk kedua kalinya.
Baca juga: Bali Waste Cycle Sulap Sampah Plastik Jadi Papan hingga Kaki Palsu
Negosiasi ini memperlihatkan jurang pemisah yang lebar antara negara-negara yang memiliki ambisi tinggi, yang mendesak adanya target dan upaya terikat waktu untuk mengurangi produksi plastik, dengan negara-negara yang industri petrokimianya sangat bergantung pada produksi tersebut.
Saat ini, berbagai LSM mendesak adanya reformasi proses dalam negosiasi yang akan datang. Mereka menyarankan sebuah perjanjian yang lebih kuat dapat terwujud jika menggunakan sistem pemungutan suara mayoritas sederhana, atau mayoritas dua per tiga. Selain itu, mereka juga mengusulkan pertemuan yang lebih rutin antar negosiator resmi.
Earth Action For Impact pun menyoroti bagaimana banyak negara yang memproduksi sampah plastik jauh di atas kapasitas pengelolaan mereka, justru berupaya menghalangi perjanjian yang kuat. Negara-negara tersebut termasuk Tiongkok, Rusia, India, dan Iran.
"Ketiadaan perjanjian plastik global tidak serta-merta menghilangkan risiko bagi planet dan dunia usaha," ujar Sarah Perreard, salah satu CEO Earth Action for Impact.
Lebih lanjut, meskipun negosiasi antarnegara terus menemui jalan buntu, polusi plastik sesungguhnya telah memengaruhi iklim bisnis melalui pengetatan regulasi, gugatan hukum, dan meningkatnya liabilitas perusahaan. Secara finansial, alasan untuk bertindak sudah sangat jelas.
"Perusahaan yang saat ini sudah berupaya mengukur, melaporkan, dan meminimalkan risiko plastik akan mampu bersaing dan lebih tahan banting. Sementara itu, mereka yang menunda-nunda akan menghadapi konsekuensi finansial di kemudian hari," kata Perreard.
Organisasi think-tank keuangan, Planet Tracker, pada tahun 2023 memperingatkan bahwa biaya litigasi (tuntutan hukum) terkait plastik bisa mencapai 20 miliar dolar AS pada tahun 2030 di Amerika Serikat saja, dan 100 miliar dolar AS secara global.
Baca juga: Plastik Sumbang 15 Persen Emisi Global, dan Konsumsinya Diprediksi Melonjak
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya