KOMPAS.com - Pembakaran bahan bakar fosil tidak hanya merusak iklim dunia, tapi juga mengancam kesehatan sedikitnya 1,6 miliar orang melalui polutan beracun yang dihasilkannya.
Karbon dioksida, gas rumah kaca utama dari pembakaran bahan bakar fosil, tidak secara langsung merusak kesehatan, tetapi menyebabkan pemanasan global.
Namun, pembakaran batu bara dan minyak untuk pembangkit listrik, serta pembakaran bahan bakar fosil di fasilitas industri, mencemari udara dengan partikel halus yang disebut PM2.5. Partikel ini memiliki dampak serius pada kesehatan saat terhirup.
Sebuah peta interaktif baru dari Climate Trace--sebuah koalisi akademisi dan analis yang melacak polusi dan gas rumah kaca, menunjukkan bahwa PM2.5 dan racun lainnya mencemari udara di dekat rumah sekitar 1,6 miliar orang.
Baca juga: Di Negara Minyak, Sekjen PBB Minta Subsidi Bahan Bakar Fosil Dipangkas
Dari jumlah tersebut, sekitar 900 juta orang berada di jalur fasilitas industri "super-emisi" yang melepaskan dosis udara beracun dalam jumlah sangat besar seperti pembangkit listrik, kilang minyak, pelabuhan, dan tambang.
Melansir Guardian, Rabu (24/9/2025) organisasi tersebut menyoroti 10 wilayah perkotaan yang sangat terpengaruh oleh super-emisi termasuk Karachi di Pakistan, Guangzhou di China, Seoul di Korea Selatan, dan juga New York di AS.
Al Gore, mantan wakil presiden AS dan salah satu pendiri Climate Trace, mengatakan ada hubungan yang jelas antara kesehatan manusia dan pembakaran bahan bakar fosil.
"Fasilitas yang membakar bahan bakar fosil adalah sumber dominan polusi yang mendorong krisis iklim. Polusi udara partikulat yang juga mereka ciptakan jatuh ke lingkungan sekitar dan menyebabkan kematian 8,7 juta orang per tahun," katanya.
Baca juga: Manajer Aset Investasikan 7,3 Miliar Dollar AS ke Obligasi Bahan Bakar Fosil
"Sekarang kita dapat melihat dengan jelas bagaimana dan di mana orang-orang terpapar polusi berbahaya ini, para pemimpin kita harus melakukan sesuatu untuk menguranginya," paparnya lagi.
Lebih lanjut, Climate Trace nantinya akan tersedia untuk umum dan memungkinkan masyarakat melihat gumpalan polusi udara yang mengalir di udara di lebih dari 2.500 wilayah perkotaan, berkat deteksi dari satelit dan sensor.
Alat tersebut menampilkan secara gamblang hubungan langsung antara krisis iklim dan polusi udara yang sangat mengancam kesehatan publik. Itu juga akan menemukan dan memperlihatkan komunitas mana yang paling berisiko adalah hal yang sangat penting saat ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya