Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Orang Tua Ingin Atasi Perubahan Iklim, Tapi Sulit Terapkan Gaya Hidup Minim Karbon

Kompas.com, 27 September 2025, 15:00 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Sebuah studi baru dari University of Bath menunjukkan bahwa meskipun para orang tua sangat mengkhawatirkan krisis iklim dan masa depan anak-anak mereka, banyak yang kesulitan untuk menjalani gaya hidup rendah karbon.

Tekanan waktu, kurangnya pilihan yang terjangkau, dan hambatan struktural menyebabkan kepedulian ini jarang diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Para peneliti mengatakan bahwa orang tua tetap menjadi kelompok yang krusial tetapi kurang diakui dalam kebijakan iklim. Padahal, mereka memiliki potensi besar untuk membentuk nilai-nilai lingkungan generasi berikutnya.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Population & Environment, meneliti bagaimana orang tua di Inggris yang memiliki anak di bawah usia 15 tahun memahami dan bertindak dalam isu perubahan iklim.

Baca juga: Paparan Polusi Udara saat Anak-Anak Berdampak Hingga Usia Remaja

Studi ini juga menilai apa yang disebut "kapabilitas karbon" orang tua yaitu kemampuan untuk membuat pilihan rendah karbon yang terinformasi dan efektif, serta memengaruhi orang lain.

Penelitian yang didasarkan pada survei terhadap 1.001 orang tua, 30 wawancara, dan dua kelompok diskusi ini kemudian menyimpulkan bahwa meskipun orang tua memiliki tanggung jawab besar terhadap masa depan anak-anak, mayoritas kesulitan untuk secara teratur mencontohkan gaya hidup rendah karbon di lingkungan rumah.

Melansir Phys, Jumat (26/9/2025) studi ini juga menemukan bahwa orang tua melaporkan penggunaan energi yang lebih tinggi, ketergantungan yang lebih besar pada mobil dan lebih banyak sampah plastik.

Orang tua juga mengungkapkan rasa bersalah atas dampak yang mereka timbulkan, tetapi mengatakan bahwa tekanan waktu, kenyamanan, dan kebutuhan anak-anak sering kali mengalahkan niat baik mereka.

Selain itu juga banyak orang tua ragu untuk mendiskusikan perubahan iklim dengan anak-anak mereka karena takut dapat menimbulkan kekhawatiran atau kecemasan. Namun, sebagian besar terbuka untuk belajar dan menginginkan panduan tentang cara melakukan percakapan tersebut.

Di sisi lain pendidikan iklim yang didapatkan anak-anak terkadang meningkatkan kesadaran dan tindakan dari pihak orang tua.

Baca juga: Anak-anak yang Lahir pada 2020 Akan Hadapi Cobaan Iklim yang Berat

"Orang tua adalah kelompok yang terlupakan dalam masyarakat meskipun memiliki pengalaman dan daya pengaruh yang luar biasa. Dengan perpaduan antara dukungan yang tepat dan perubahan struktural misalnya, transportasi umum yang lebih baik, produk ramah lingkungan yang harganya terjangkau, dan insentif untuk pola makan rendah karbon mereka berpotensi besar untuk menjadi contoh hidup rendah karbon yang kuat bagi generasi mendatang," ungkap Dr. Sam Hampton, Penulis utama dari University of Bath.

"Walaupun saat ini para orang tua belum secara rutin menjadi contoh gaya hidup rendah karbon, mereka memegang potensi besar untuk memengaruhi nilai-nilai dan tingkah laku anak-anak mereka. Ini berarti peran mereka sangat sentral bagi upaya penanganan iklim di masa depan," paparnya lagi.

Charlotte Howell, co-director dari Parents for Future menambahkan orang tua sangat merasakan betapa mendesaknya krisis iklim namun banyak yang terhambat batasan di luar kemampuan mereka.

Namun melalui dukungan pemerintah yang lebih besar dan kebijakan yang merangkul semua pihak, kita dapat mengubah kekhawatiran menjadi aksi nyata dan menciptakan dunia yang memang pantas didapatkan oleh anak-anak.

Baca juga: Perubahan Iklim Pangkas PDB Per Kapita Global Hingga 24 Persen pada 2100

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau