Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Perubahan Iklim di Brasil Sebabkan Harga Kopi Dunia Naik Tajam

Kompas.com, 1 Oktober 2025, 14:50 WIB
Add on Google
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com – Harga kopi dunia melonjak tajam pada Agustus 2025. Laporan International Coffee Organization (ICO) mencatat, Indikator Komposit Harga Kopi (I-CIP) naik 14,6 persen menjadi rata-rata 297,05 sen AS per pon dibanding bulan sebelumnya.

Kenaikan tertinggi terjadi pada jenis robusta  yang melesat 19,1 persen menjadi 199,13 sen AS per pon.

Mengutip laporan ICo, Rabu (1/10/2025), lonjakan harga dipicu berbagai faktor, mulai dari dampak tarif 50 persen Amerika Serikat terhadap kopi Brasil, destocking yang tinggi di pasar, laporan penurunan kualitas biji kopi, hingga mendekatnya tenggat regulasi Uni Eropa (EUDR) yang mendorong importir menambah stok.

Baca juga: Tropenbos Kembangkan Agroforestri Karet dan Kopi Liberika di Kalbar

Selain itu, gelombang pembelian panjang (long position) oleh roaster di pasar berjangka turut memperkuat tren kenaikan harga.

Meski harga melonjak, ekspor kopi global justru menurun. Pada Juli 2025, total ekspor kopi hijau tercatat 10,3 juta kantong atau turun 0,7 persen dibanding Juli 2024.

"Ekspor dari Brasil—produsen terbesar dunia—anjlok 16,8 persen menjadi 2,67 juta kantong. Sebaliknya, Kolombia, Honduras, dan Vietnam mencatatkan peningkatan pengiriman", tulis laporan tersebut.

Jika dilihat per wilayah, ekspor Amerika Selatan turun paling dalam, yakni sebesar 18,5 persen menjadi 4,4 juta kantong. Sebaliknya, Asia & Oseania melonjak 22,7 persen, terutama didorong ekspor Vietnam yang naik 29,4 persen menjadi 1,7 juta kantong serta Indonesia yang meningkat 20,4 persen menjadi 960.000 kantong.

Afrika juga tumbuh 4,4 persen berkat kinerja Uganda dan Ethiopia, sementara Meksiko dan Amerika Tengah naik 7,2 persen.

Pergeseran Pasar

Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran tren pasar. Negara-negara Asia, khususnya Vietnam dan Indonesia, semakin memainkan peran penting dalam pasokan kopi dunia, seiring penurunan ekspor dari Brasil akibat faktor musiman dan logistik.

Menurut ICO, Indonesia bahkan mencatat pertumbuhan ekspor dua digit dalam sembilan dari sepuluh bulan terakhir tahun kopi 2024/25.

Di sisi lain, penurunan stok kopi bersertifikat di pasar berjangka London dan New York semakin memperketat pasokan.

Baca juga: Kemenperin: Produksi 1,4 Juta Ton, Kopi Indonesia Kian Kompetitif

Pada akhir Agustus 2025, stok Arabika turun 7,9 persen menjadi 770.000 kantong, level terendah sejak April 2024. Stok Robusta juga merosot 4,6 persen menjadi 1,13 juta kantong. Kondisi ini diperkirakan akan menjaga harga tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang.

Bagi Indonesia, situasi ini memberi peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, harga Robusta yang menguat dapat meningkatkan nilai ekspor mengingat mayoritas produksi nasional berasal dari jenis ini.

Namun, di sisi lain, tingginya harga global berpotensi menekan industri hilir dalam negeri, termasuk produsen kopi kemasan dan kafe yang mengandalkan pasokan lokal maupun impor.

Analis memperkirakan, dengan tren stok yang menipis dan permintaan yang masih kuat, harga kopi berpotensi bertahan tinggi hingga akhir 2025.

Kondisi Iklim di Brasil Pengaruhi Pasar

Laporan ICO tersebut juga menyoroti faktor iklim di Brasil sebagai pemicu kenaikan harga kopi dunia.

Pada pertengahan Agustus 2025, terjadi frost atau embun beku yang meski skalanya relatif kecil, diperkirakan tetap merusak hingga 500.000 kantong kopi pada tahun panen 2024-2025.

Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran pasar, mengingat Brasil adalah produsen kopi terbesar dunia sehingga gangguan kecil sekalipun bisa berdampak signifikan terhadap harga global.

Baca juga: Bukan Cuma Limbah, Ampas Kopi Bisa Jadi Beton Kuat dan Berkelanjutan

Selain itu, laporan awal Agustus menunjukkan sebagian biji kopi Brasil memiliki kepadatan di bawah rata-rata meski ukuran fisiknya besar. Penurunan kualitas ini membuat estimasi hasil panen sedikit direvisi turun, sehingga menambah tekanan positif pada harga.

Kombinasi faktor iklim tersebut memperkuat sentimen pasar bahwa pasokan dari Brasil berpotensi lebih ketat dari perkiraan semula.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemenhut Optimalkan Operasi Pemadaman Karhutla di 4 Provinsi Sumatera
Kemenhut Optimalkan Operasi Pemadaman Karhutla di 4 Provinsi Sumatera
Pemerintah
Produsen Mobil Terkemuka Sembunyikan Data Emisi Hingga 33 Persen
Produsen Mobil Terkemuka Sembunyikan Data Emisi Hingga 33 Persen
Pemerintah
Krisis Iklim Bikin Ibukota Malaysia dan Kota Satelitnya Kerap Dilanda Banjir
Krisis Iklim Bikin Ibukota Malaysia dan Kota Satelitnya Kerap Dilanda Banjir
Pemerintah
TransitionZero Luncurkan Platform Pemodelan Sistem Energi untuk Asia Tenggara
TransitionZero Luncurkan Platform Pemodelan Sistem Energi untuk Asia Tenggara
Swasta
Akal-Akalan Perusahaan Hadapi Aturan Emisi, Pindahkan Pabrik Polutif ke Tempat Lain
Akal-Akalan Perusahaan Hadapi Aturan Emisi, Pindahkan Pabrik Polutif ke Tempat Lain
Pemerintah
Air Bersih Langka, Kelaparan dan Krisis Pangan Dunia Mengintai
Air Bersih Langka, Kelaparan dan Krisis Pangan Dunia Mengintai
Pemerintah
Pendanaan Minim, RI Masih Butuh Rp163 Triliun untuk Jaga Biodiversitas
Pendanaan Minim, RI Masih Butuh Rp163 Triliun untuk Jaga Biodiversitas
Pemerintah
Dorong Pembangunan Berkelanjutan, IKA Unpad Luncurkan Forum Ekonomi Hijau
Dorong Pembangunan Berkelanjutan, IKA Unpad Luncurkan Forum Ekonomi Hijau
LSM/Figur
Filter Rokok Turut Merusak Lingkungan lewat Limbah, Polusi, dan Emisi
Filter Rokok Turut Merusak Lingkungan lewat Limbah, Polusi, dan Emisi
LSM/Figur
Gelombang Panas Picu Harga Jual Listrik di Eropa Jadi Negatif
Gelombang Panas Picu Harga Jual Listrik di Eropa Jadi Negatif
Pemerintah
Kehadiran DSI Disebut Bisa Permudah Implementasi EUDR untuk Produk Sawit
Kehadiran DSI Disebut Bisa Permudah Implementasi EUDR untuk Produk Sawit
LSM/Figur
Dari Literasi ke Aksi, Komunitas Buibu Baca Buku Gerakkan Kepedulian Iklim di 16 Provinsi
Dari Literasi ke Aksi, Komunitas Buibu Baca Buku Gerakkan Kepedulian Iklim di 16 Provinsi
LSM/Figur
Pemerintah akan Wajibkan Masyarakat Kembalikan Air Tanah ke Bumi
Pemerintah akan Wajibkan Masyarakat Kembalikan Air Tanah ke Bumi
Pemerintah
Bappenas Proyeksikan Kerugian Ekonomi akibat Krisis Iklim Capai Rp 2.005 Triliun
Bappenas Proyeksikan Kerugian Ekonomi akibat Krisis Iklim Capai Rp 2.005 Triliun
Pemerintah
PBB Minta Dunia Bersiap Hadapi Ancaman El Niño
PBB Minta Dunia Bersiap Hadapi Ancaman El Niño
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau