Penulis
KOMPAS.com – Isu perubahan iklim kini tak lagi berdiri sendiri. Kerusakan alam dan hilangnya keanekaragaman hayati (biodiversitas) telah menjadi risiko finansial yang signifikan bagi bisnis global.
Untuk mengatasi krisis ganda ini, sebuah kerangka pelaporan baru bernama Taskforce on Nature-related Financial Disclosures (TNFD) muncul sebagai pilar yang mendesak korporasi untuk tidak hanya mengungkap risiko iklim, tetapi juga risiko yang terkait dengan alam.
Salah satu sesi diskusi panel Lestari Summit 2025 pada Kamis (2/10/2025), di Jakarta, mengangkat tajuk “Accelerating Green Investment in Indonesia Through Nature-Positive Disclosure,” secara khusus melihat TNFD sebagai gerbang utama Indonesia menarik modal dan investasi hijau yang transformatif.
Diskusi menghadirkan Imam Muttaqien (Vice President Safeguard PT PLN Persero), Fiona Armintasari (Sustainable Finance Specialist WWF Indonesia), dan Bimo Soewadji (Co-Founder & CEO CarbonEthics).
Imam Muttaqien menyampaikan, sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memegang peran sentral dalam transisi energi, PT PLN menyadari betul bahwa operasional mereka sangat bergantung pada alam.
Dia menjelaskan, adopsi TNFD telah menjadi strategi kunci perusahaan untuk mengelola risiko operasional dan memenuhi tuntutan investor. PLN yang saat ini sedang gencar mencari pendanaan global untuk proyek energi terbarukan, melihat transparansi sebagai prasyarat utama.
“Di sektor energi, risiko iklim dan alam berjalan beriringan. TNFD membantu kami memetakan di mana aset kami rentan, misalnya jika pembangkit air terpengaruh deforestasi hulu atau kenaikan permukaan laut," ungkapnya.
"Melalui TNFD, kami bisa menunjukkan kepada investor bahwa kami mengelola risiko alam secara komprehensif, bukan sekadar basa-basi,” ujar Imam Muttaqien.
Dia menambahkan, komitmen terhadap transparansi ini secara langsung meningkatkan bankability proyek-proyek hijau PLN dan membuka pintu bagi kemitraan dengan lembaga keuangan internasional.
Dalam kesempatan sama, Fiona Armintasari, Sustainable Finance Specialist WWF-Indonesia, menyoroti peran penting TNFD dalam mempercepat penciptaan instrumen keuangan inovatif di Indonesia.
Dari perspektif keuangan berkelanjutan, TNFD dipandang sebagai alat yang memberdayakan lembaga keuangan untuk menyaring risiko alam dalam portofolio pinjaman dan investasi mereka.
Kerangka ini memungkinkan investor mengalihkan modal dari kegiatan yang merusak (nature-negative) ke solusi yang mendukung alam (nature-positive).
“TNFD adalah jembatan yang menghubungkan konservasi dengan pasar modal. Lembaga keuangan tidak hanya harus menghindari pendanaan yang merusak hutan atau pesisir, tetapi juga wajib menciptakan nature-based finance,” jelas Fiona.
Dia menyebut, kerangka TNFD menjadi dasar bagi pengembangan produk seperti nature bond atau biodiversity credit yang dapat digunakan untuk membiayai proyek restorasi, sehingga risiko alam diubah menjadi peluang investasi yang memberikan dampak long-lasting bagi lingkungan.
Bimo Soewadji, Co-Founder & CEO CarbonEthics, melihat tantangan utama dalam implementasi TNFD adalah bagaimana mengukur dan menilai kerusakan alam yang seringkali tidak terhitung dalam laporan keuangan tradisional.
Pelaporan ini memerlukan data spasial yang akurat dan metodologi ilmiah.
“Selama ini, kita menganggap air bersih, udara segar, dan perlindungan dari badai sebagai given. TNFD memaksa korporasi untuk mengintegrasikan nilai jasa ekosistem ini ke dalam buku besar mereka," ujarnya.
"Kita perlu menggunakan risk filter screen dan data geospasial untuk tahu seberapa dekat operasional perusahaan dengan kawasan keanekaragaman hayati penting," tutur Bimo.
Dia menambahkan, pengungkapan yang kredibel harus didukung oleh metrik yang spesifik, serupa dengan Science-Based Targets (SBTi) untuk iklim, guna memastikan setiap investasi hijau benar-benar memiliki dampak yang genuin dan transformatif terhadap kelestarian alam.
Baca juga: Indonesia Jadi Poros Utama Investasi Hijau China, Nilai Capai Rp 3.900 Triliun
Secara keseluruhan, adopsi kerangka TNFD di Indonesia merupakan langkah strategis yang vital.
Melalui pendekatan LEAP (Locate, Evaluate, Assess, Prepare), TNFD tidak hanya meningkatkan akuntabilitas dan transparansi, tetapi juga menjamin bahwa investasi hijau yang masuk akan diarahkan pada bisnis yang paling tangguh dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat peran Indonesia sebagai pemimpin dalam pembangunan nature-positive di Asia Tenggara.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya