Pihak yang mengkritik menyatakan bahwa aturan kepatuhan yang bertujuan menahan produk terkait deforestasi ini berpotensi membebani eksportir dan menaikkan biaya perdagangan komoditas dunia.
Pada saat yang sama, perkembangan politik di Amerika Serikat telah menghadirkan ketidakpastian baru. Kembalinya kebijakan yang skeptis terhadap iklim di bawah Presiden AS Donald Trump telah mengurangi momentum untuk tindakan lingkungan terkoordinasi, menurut para advokat.
Sementara para manajer aset semakin memandang hilangnya keanekaragaman hayati sebagai risiko sistemik yang setara dengan perubahan iklim, dengan dampak yang mencakup harga komoditas, kelangkaan air, dan gangguan rantai pasokan.
Lembaga keuangan kini mengintegrasikan risiko deforestasi ke dalam kerangka uji tuntas dan proses penyaringan portofolio, mencerminkan pergeseran yang lebih luas menuju pengungkapan keuangan terkait alam.
Jadi pesannya jelas, jika pemerintah dunia mengindahkan seruan ini, hutan dunia yang vital fungsinya bisa menjadi beban finansial, bukan hanya beban ekologis.
Baca juga: UNEP Kucurkan 100 Juta Dolar AS untuk Aksi Iklim, Indonesia Termasuk Penerima
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya