Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Diversifikasi pangan berbasis sumber lokal bukan ancaman, melainkan kekuatan strategis yang mendukung ketahanan nasional secara menyeluruh. Kemajuan teknologi semakin memperkuat potensi biopangan sebagai fondasi pangan berkelanjutan.
Dunia kini mengarah pada pangan alternatif yang lebih efisien dan rendah emisi, seperti daging nabati berbasis kacang-kacangan, protein fermentasi dari jamur dan alga, serta mikroalga seperti spirulina dan chlorella yang kaya nutrisi dan dapat dibudidayakan tanpa lahan luas. Indonesia, dengan kekayaan biodiversitasnya, memiliki posisi ideal untuk menjadi pelopor dalam gelombang pangan masa depan ini.
Kekhawatiran bahwa penggunaan komoditas pertanian untuk energi akan mengurangi ketersediaan pangan memang sering muncul. Contohnya, ketika biodiesel sawit dikhawatirkan mengganggu pasokan minyak goreng, atau ketika singkong untuk etanol dianggap akan mengurangi bahan baku makanan dan industri. Kekhawatiran ini sah jika dilihat secara sektoral dan terpisah, namun pendekatan sempit semacam itu justru menghambat potensi besar.
Dalam kerangka ekonomi sirkular dan ekosistem terpadu, bioenergi dan biopangan tidak perlu dipertentangkan, keduanya justru dapat saling menguatkan. Kuncinya terletak pada optimalisasi pemanfaatan setiap bagian dari sumber daya hayati, termasuk limbahnya, sehingga tak ada yang terbuang.
Limbah pertanian, peternakan, dan pengolahan pangan bisa diolah menjadi energi, dan energi terbarukan itu kembali mendukung produksi pangan secara berkelanjutan. Dengan demikian, sektor energi dan pangan dapat tumbuh bersama, saling menopang dalam satu siklus yang efisien dan harmonis. Sinergi antara bioenergi dan biopangan inilah yang akan menjadi fondasi ekonomi hijau Indonesia di masa depan.
Ketika biodiesel dan bioetanol menggantikan impor BBM, cadangan devisa pun terselamatkan dan emisi karbon berkurang. Ketika sorgum, mocaf, dan sagu menggantikan gandum impor, nilai ekonomi tetap berputar di dalam negeri dan petani lokal mendapat kesejahteraan.
Pembangunan sektor ini akan menyerap banyak tenaga kerja, memperkuat industri pengolahan, dan mendorong hilirisasi yang menaikkan posisi tawar Indonesia di pasar global. Pemerintah telah menunjukkan komitmen melalui regulasi energi terbarukan, percepatan bauran EBT, dan dukungan terhadap industri berbasis hayati. Namun, kunci keberhasilan tetap pada penguasaan teknologi, investasi riset, dan pembangunan industri hilir yang menyerap nilai tambah.
Baca juga: Pertamina Genjot Pengembangan 3 Jenis Bioenergi
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya