Selain peningkatan jumlah alat yang digunakan untuk dekarbonisasi, laporan tersebut juga menemukan bahwa perusahaan-perusahaan sedang membuat kemajuan dalam mengurangi intensitas emisi.
Menurut laporan tersebut, meskipun perusahaan-perusahaan terbesar di dunia telah meningkatkan pendapatan agregat sebesar 7 persen sejak 2016, emisi mereka secara keseluruhan tetap stagnan, dibandingkan dengan penurunan intensitas emisi sebesar 6 persen yang dilaporkan tahun lalu.
Baca juga: Asia ESG PIA Digelar, Pertemukan 39 Perusahaan yang Berkomitmen Jalankan ESG
Secara keseluruhan, laporan tersebut menemukan bahwa 75 persen perusahaan telah mengurangi intensitas emisi mereka, dan lebih dari setengahnya telah memangkas emisi Cakupan 1 dan 2 absolut mereka.
Meskipun ada kemajuan, laporan tersebut menemukan bahwa hanya 16 persen dari perusahaan yang diteliti saat ini berada di jalur yang tepat untuk mencapai nol-bersih dalam operasional mereka pada tahun 2050 dan persentase tersebut hanya mewakili 4 persen dari total emisi seluruh kelompok.
Sementara 36 persen lainnya, meski belum berada di jalur nol-bersih, tengah mengurangi emisi mereka.
Selain itu, laporan tersebut menemukan bahwa penghasil emisi terbesar adalah yang paling kecil kemungkinannya untuk menetapkan target nol-bersih penuh atau berada di jalur menuju nol-bersih.
“Pada tahun 2025, konteks aksi iklim perusahaan terus berkembang. Prioritas politik bergeser, regulasi sedang diperdebatkan, dan jalan menuju nol bersih sama sekali tidak mudah. Namun, ambisi perusahaan tidak pudar. Malah, ambisinya semakin menguat,” tulis laporan Accenture.
Baca juga: Kata Walhi, RI dan Brasil Kontraproduktif Atasi Krisis Iklim jika Transisi Energi Andalkan Lahan
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya