Sedangkan perjanjian dagang Indonesia dengan AS masih tertunda. Menurut Alvin, data menunjukkan ekspor sawit dari Indonesia ke AS mendapatkan tekanan yang besar. Indonesia mengekspor 1,54 juta ton minyak sawit ke AS senilai 1,59 miliar dollar AS pada 2024.
Namun, dalam tujuh bulan pertama tahun 2025, volume ekspor Indonesia ke AS sudah anjlok sebesar 25,8 persen.
Di saat yang sama, Malaysia memanfaatkan momentum tersebut dengan mengekspor minyak sawit ke AS pada tujuh bulan pertama 2025, hampir menyentuh nilai ekspor setahun penuh di tahun 2024.
“Setiap penurunan pengiriman dari Indonesia, Malaysia memanfaatkannya,” ucapnya.
Pasar energi AS, terutama diesel terbarukan, sedang kekurangan bahan baku minyak nabati. Produksi minyak kedelai AS tetap tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan biodiesel dan diesel terbarukan. AS masih kekurangan sekitar 4 miliar pon bahan baku minyak nabati, yang semestinya menjadi peluang bagi sawit dari Indonesia.
Indonesia tetap tidak perlu mengasingkan pasar AS, meski kebutuhan minyak sawitnya secara volume jauh lebih kecil daripada Tiongkok dan India. Ini mengingat Tiongkok dan India sebagai pasar utama sedang mengurangi impor minyak sawit akibat harga yang dianggap kurang kompetitif ketimbang minyak kedelai dari Brasil dan Argentina.
Apalagi, kebijakan domestik Indonesia, seperti mandatori biodiesel B50, berdampak terhadap ekspor minyak sawit dan stabilitas makro. Kebutuhan tambahan sekitar 3,5 juta ton untuk program B50, kata dia, berpotensi menggerus volume ekspor dan memperburuk neraca perdagangan.
“Neraca pembayaran Indonesia telah menjadi negatif, dan ini sebagian berkaitan dengan berkurangnya ekspor. Nilai tukar berjangka menunjukkan rupiah akan jatuh ke rekor terendah terhadap dolar AS,” ujar Alvin.
Baca juga: Bappenas Ingatkan Dampak Ekspansi Sawit yang Terlalu Cepat dan Kesampingkan Keberlanjutan
Bahkan, rupiah sudah melemah ke titik terendah sepanjang masa terhadap dolar Singapura, ringgit Malaysia, baht Thailand, dan dong Vietnam. Ia memperingatkan bahwa Indonesia perlu lebih berhati-hati dalam menyeimbangkan tujuan energi domestik dengan kebutuhan ekspor.
"Indonesia perlu memaksimalkan ekspor untuk menghindari defisit perdagangan. Rencana B50 bertentangan dengan maksimalisasi ekspor,” tutur Alvin.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya