JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti Pusat Riset Teknologi Transportasi BRIN, Mohamad Ivan Aji Saputro, mengungkapkan bahwa dari total 683 bandara di Indonesia, hanya dua yang sudah menggunakan kendaraan listrik untuk menarik bagasi, kargo, dan peralatan pendukung darat atau baggage towing tractor (BTT).
Dua bandara tersebut adalah Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.
"BTT listrik saat ini digunakan hanya di bandara-bandara besar. Temuan kami di lapangan bandara-bandara lain masih menggunakan BTT jenis diesel," ujar Ivan dalam webinar, Rabu (19/11/2025).
Temuan BRIN menunjukkan bahwa meski investasi awal BTT listrik lebih mahal, secara finansial teknologinya memberikan indikasi kelayakan lebih tinggi dibandingkan BTT diesel. Tingkat keuntungan yang lebih besar membuat peralihan BTT diesel ke listrik dinilai menguntungkan bagi operator bandara maupun perusahaan ground handling.
Dari sisi lingkungan dan kesehatan, BTT listrik juga menghasilkan manfaat ekonomi lebih besar. Secara keseluruhan, peralihan ini dipandang cukup layak secara finansial sekaligus memberikan keuntungan ekonomi bagi operator dan masyarakat.
Baca juga: Studi: Bumi Makin Panas, Bandara Makin Bising
Penggunaan BTT listrik juga berpotensi menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sektor penerbangan hingga 31,7 persen. Dari sisi konsumsi energi, emisi tahunan bisa dipangkas 28 persen, dari 1,85 juta kg CO? menjadi 1,3 juta kg CO? per tahun.
"Selisih biaya emisi ini per unitnya (BTT) itu lebih kurang 167-223 juta itu, kalau dibandingkan tadi exsisting yang ada di bandara Soetta saja ada 43 unit, itu bisa dikalikan saja, itu sangat lumayan signifikan per tahunnya, memberikan dampak lingkungan dan ekonomi," tutur Ivan.
Ivan menambahkan, peralihan dari BTT diesel ke listrik membawa banyak manfaat lain, seperti penghematan devisa impor solar sebesar 10,4 persen, penghematan energi nasional 20,6 persen, dan penurunan biaya ekonomi RMS 6,2 persen. Dampak positif lainnya meliputi pengurangan polusi udara (5,6 persen), penurunan biaya kesehatan masyarakat (0,3 persen), serta pengurangan down time operasional hingga 25,5 persen.
Meski demikian, masih ada sejumlah kendala teknis. Salah satunya kapasitas baterai BTT listrik yang hanya mampu bertahan 8–10 jam, sementara bandara besar seperti Soetta beroperasi hampir 25 jam. Proses pengisian baterai juga membutuhkan waktu 4–6 jam.
"Kalau tidak ada cadangan baterai atau BTT yang lain tentunya akan mengganggu operasional pesawat, kebutuhan cadangan baterai itu diperhitungkan," ucapnya.
Sumber listrik juga menjadi persoalan lain. Pasokan daya untuk mengisi baterai BTT masih bergantung pada PLTU batu bara yang menyumbang emisi besar.
"Sumber listrik yang digunakan sebagai charging juga masih banyak dari batu bara, ini menyumbang emisi cukup tinggi karena di hulunya belum ramah lingkungan," ujar Ivan.
Baca juga: Emisi 20 Bandara Setara 58 PLTU Batu Bara pada 2019
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya