JAKARTA, KOMPAS.com - Mikroplastik kini terbukti mencemari air hujan, makanan, hingga pakaian. Hal tersebut diketahui usai Greenpeace Indonesia bersama Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) dan Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima) mengajak warga Semarang, Jawa Tengah meneliti paparan mikroplastik ditemukan melalui uji coba Citizen Science.
Kepala Laboratorium Ecoton, Rafika Aprilianti, menyebut pihaknya meminta partisipan membawa sampel air minum, swab kulit, dan makanan lalu diuji menggunakan mikroskop.
"Selain itu, kami juga mengajak pengunjung menampung air hujan sebanyak 1-2 liter dari lingkungan sekitar mereka untuk mengetahui seberapa jauh penyebaran mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Rafika dalam keterangannya, Selasa (25/11/2025).
Baca juga: Mikroplastik Cemari Udara di 18 Kota, Jakarta Pusat Catat Konsentrasi Tertinggi
Studi menunjukkan, Semarang menduduki posisi keempat sebagai kota dengan kontaminasi mikroplastik di udara paling tinggi. Penelitian yang dilakukan di 18 kota/kabupaten di Indonesia ini menemukan hubungan erat antara cemaran mikroplastik di udara dengan kebiasaan membakar sampah yang akhirnya mencemari hujan.
Rafika mencatat, komposisi mikroplastik di udara didominasi poliolefin yang berasal dari pecahan kantong plastik dan kemasan, polyamide dan PTFE dari serat pakaian, komponen otomotif, serta pelapis tahan panas.
"Polyester dan polyisobutylene yang umumnya berasal dari tekstil dan material ban, juga ditemukan di dalam sampel. Menunjukkan beragamnya sumber polusi mikroplastik di udara," papar dia.
Pembakaran sampah plastik menyumbang 55 persen mikroplastik ke udara. Sementara aktivitas transportasi berkontribusi 33,3 persen.
“Korelasi ini menunjukkan bahwa profil polimer di udara sangat mencerminkan pola aktivitas manusia di kota mulai dari sistem pengelolaan sampah yang buruk, tingginya aktivitas transportasi, hingga beban tekstil rumah tangga,” kata Rafika.
Menurut riset Greenpeace Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), sampel mikroplastik pun ditemukan di dalam urine, darah, dan feses manusia. Studi yang dilakukan pada Januari 2023-Desember 2024 itu menemukan mikroplastik pada 95 persen sampel dari 67 partisipan.
Baca juga: RDF Rorotan Beroperasi November, Diklaim Bisa Redam Sebaran Mikroplastik
Jenis plastik Polyethylene Terephthalate atau PET dari kemasan plastik sekali pakai menjadi jenis mikroplastik yang paling banyak mengontaminasi tubuh partisipan dengan total 204 partikel terdeteksi.
Ahli Saraf FKUI, Pukovisa Prawirohardjo, mengkapkan partisipan dengan pola konsumsi plastik sekali pakai yang tinggi berisiko mengalami penurunan fungsi 36 kali lipat.
“Kami menemukan hubungan yang berarti antara fungsi kognitif dengan paparan mikroplastik. Gangguan fungsi kognitif yang dialami partisipan penelitian mencakup diantaranya pengaruh pada kemampuan berpikir, mengingat, dan mengambil keputusan,” jelas Pukovisa.
Fungsi kognitif partisipan dianalisis menggunakan Montreal Cognitive Assessment Indonesia (MoCA-Ina) bersama tim dokter dari Divisi Neurobehavior Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup mencatat, 434.244 ton sampah di Semarang pada 2024, dengan 17,2 persen di antaranya sampah plastik.
Di tingkat global Organisation for Economic Co-operation and Development melaporkan peningkatan sampah plastik di seluruh dunia hingga lebih dari dua kali lipat, dari 213 juta ton menjadi 460 juta ton sepanjang 2000 sampai 2019.
Sementara itu, Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia, Ibar F Akbar, mendesak langkah konkret dari pemerintah dan produsen untuk mengurangi kontaminasi mikroplastik.
“Pemerintah perlu memperbaiki sistem pengelolaan sampah berbasis pemilahan, mempercepat dan memperluas larangan plastik sekali pakai, melarang mikroplastik primer, serta mendorong transisi ke sistem kemasan guna ulang untuk mengurangi pencemaran dan dampak lingkungan,” ucap Ibar.
Baca juga: BRIN Jelaskan Bagaimana Bakar Sampah Bisa Datangkan Hujan Mikroplastik
Selain itu, harus menetapkan standar pengujian mikroplastik yang ketat serta ambang batas kontaminasi dalam produk pangan dan lingkungan. Produsen juga perlu mengurangi produksi dan distribusi plastik sekali pakai secara signifikan, sebagai tanggung jawab mengelola sampah plastik, lalu beralih ke sistem kemasan guna ulang dan isi ulang.
"Produsen juga perlu meningkatkan transparansi komposisi plastik dalam produknya serta peta jalan pengurangan sampah oleh produsen,” sebut dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya