Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rahfit Syahputra
Guru Sejarah

Guru Sejarah, Penulis Lintas Media

Menggugat Kemerdekaan Ekologis

Kompas.com, 2 Desember 2025, 07:47 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

BENCANA tanah longsor dan banjir di Sumatera: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Menyisakan dampak materil dan non materil yang memilukan. Mulai dari manusia hingga hewan turut merasakan imbasnya. Ini tentunya merasuki kesadaran empati kita terhadap segenap korban namun juga menimbulkan kegelisahan dan pertanyaan. Pasalnya, gelondongan yang dibawa oleh banjir besar (Galodo), kini berserakan di pemukiman warga dan laut.

Salah satu pantai di Kota Padang, menjadi contoh nyata betapa keindahan ombak, corak laut yang artistik, kini dipenuhi oleh tumpukan potongan kayu. Bencana di beberapa wilayah di Sumatera, seolah sedang menyampaikan pesan pilu tentang keadaan ekologis negeri ini. Mereka seakan-akan menyingkap tabir keserakahan segelintir manusia yang perbuatannya berimbas pada kesengsaraan banyak pihak khususnya masyarakat setempat.

Kini publik mulai menumbuhkan kesadaran kritisnya, mereka mempertanyakan apakah bencana banjir di Sumatera ada kaitannya dengan fenomena deforestasi atau tidak. Terlepas dari itu semua, pada dasarnya publik telah menanti sejak lama kemerdekaan ekologis negeri ini. Artinya, membangun Indonesia tanpa mendatangkan efek destruktif bagi kelangsungan ekosistem manusia, hewan, dan alam.

Baca juga: Kerusakan Hutan Picu Banjir Sumatera, Deforestasi Indonesia Nomor Berapa di Dunia?

Normalisasi Deforestasi?

Melihat beberapa fenomena di negeri ini, terjadinya sebuah bencana, banjir misalnya, acap dianggap sebagai "kodrat" atau pengaruh cuaca ekstrem daripada mengelaborasi musabab lain. Misalnya deforestasi yang dipandang normal. Uni Eropa pada tahun 2023 telah mengesahkan regulasi anti-deforestasi yang dikenal sebagai European Union Deforestation Regulation (EUDR). Regulasi ini akan diberlakukan untuk memastikan komoditas yang masuk Uni Eropa tidak berkaitan dengan aktivitas deforestasi (ipb.ac.id/news, 16/02/2024).

Wahyuni dan Suranto dalam penelitiannya telah menyoroti betapa deforestasi menjadi ancaman bagi mahluk hidup, penurunan luas hutan karena konvensi lahan untuk infrastruktur, pemukiman, pertanian, pertambangan, dan perkebunan yang pada gilirannya menimbulkan dampak serius seperti pemanasan global (Wahyuni dan Suranto, 2021:158).

Pemanasan global sebagaimana dilansir dari Kompas.com (19/06/2023) berdampak pada 16 hal, tiga di antaranya suhu semakin panas, perubahan iklim, dan badai yang lebih kuat. Menengok keadaan yang terjadi di Sumatera, intensitas hujan serta badai yang telah berlangsung beberapa minggu terakhir menyebabkan terjadinya banjir. Hal ini memantik pikiran kita untuk mempertanyakan, apakah mungkin badai disebabkan oleh pemanasan global? Berhubung hutan-hutan di wilayah itu mengalami penyusutan yang cukup besar.

Khusus di Sumatera Barat, Global Forest Watch melaporkan bahwa dari 2021 hingga 2024 daerah tersebut telah kehilangan 44% tutupan pohon yang terjadi di hutan alam. Mungkinkah ini menjadi “penyumbang” terhadap terjadinya pemanasan global sehingga curah hujan dan badai di daerah tersebut meningkat?

Terlepas apakah deforestasi itu legal atau ilegal, kenyataannya berdampak siginifikan terhadap kerugian materil dan non materil masyarakat yang berada di lingkungan setempat.

Gelondongan kayu yang menghujani pemukiman penduduk hingga bertumpuk di laut pasca banjir di Sumatera menjadi salah satu bukti bahwa kondisi ekologis kita sedang dipertanyakan.

Bencana banjir dan longsor di Sumatera menjadi alarm bagi daerah lain sekaligus menandakan bahwa alam Indonesia perlu perawatan intensif. Alam kini menegur kita agar memetik segenap pelajaran supaya tertib dalam memanfaatkan apa-apa yang tersedia di bumi Indonesia. Mesti paham batas-batas pemanfaatan alam daripada sekadar menikmati hasil ekonomis untuk segelintir kelompok.

Opini Arifin Muhammad Ade yang terbit di Kompas.id (24/08/2024) bertajuk “Memimpikan Kemerdekaan Ekologis” menegaskan “Jika kita melihat sektor lingkungan hidup di negeri ini menggunakan teropong ekologi, betapa kita tidak pernah merdeka di sektor ini sejak menyatakan diri terbebas dari segala bentuk penjajahan.”

Ini menjadi refleksi kita agar segera berbenah untuk menyelesaikan pekerjaan rumah (krisis ekologi) yang kian menumpuk. Hutan alam sejatinya dapat meminimalisir efek atau terjadinya banjir dan longsor.

Kita tidak menolak pembangungan, namun deforestasi atas nama investasi kiranya perlu mempertimbangkan analisis yang jauh ke depan: keselamatan keanekaragaman hayati, mitigasi bencana longsor, mitigasi bencana banjir bandang, dan sebagainya perlu difikirkan secara komprehensif. Harus sudah ada alternative penyelesaiannya sebelum mengalihfungsikan hutan untuk keperluan ekonomi daerah/negara.

Baca juga: Banjir di Aceh dan Sumatera, WALHI Soroti Deforestasi 1,4 Juta Hektar dan Krisis Iklim

Ekopedagogi di Institusi Pendidikan

"Alam Takambang Jadi Guru" demikianlah bunyi filosofi orang Minangkabau agar memperlakukan alam sebagai guru, bukan sekadar mengeksploitasi segala sumber daya yang tersedia di dalamnya. Filosofi ini dapat dipandang berkelindan dengan upaya memahamkan murid, menumbuhkan kecerdasan ekologis murid melalui pembelajaran dengan pendekatan ekopedagogi.

Mungkin, pendekatan ekopedagogi di institusi pendidikan telah hadir sejak beberapa dekade terakhir. Dengan tidak mengesampingkan sejumlah tantangan mendidik saat ini, kita harus kembali memaksimalkan pembelajaran berbasis lingkungan agar anak bangsa semakin sadar atas perannya sebagai penjaga lingkungan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
LSM/Figur
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
LSM/Figur
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Swasta
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Pemerintah
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau