Penulis
KOMPAS.com - Cuaca ekstrem yang melanda Sumatera dalam beberapa pekan terakhir memicu banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Menurut Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, kondisi ini bukan fenomena biasa. Ia menilai cuaca ekstrem tersebut dipicu oleh anomali siklon tropis yang terbentuk sangat dekat dengan garis ekuator (khatulistiwa).
Baca juga:
"Tahun ini agak menarik perhatian para meteorologis karena siklon tropis terjadi di dekat ekuator, bahkan di bawah lintang lima derajat," ujar Sonni Setiawan, dilansir dari Antara, Rabu (3/12/2025).
Fenomena ini disebut sebagai Siklon Tropis Senyar. Kejadian ini makin kuat karena ada interaksi beberapa sistem atmosfer lain.
Foto udara sampah dari kayu gelondongan yang hanyut di danau Singkarak di Nagari Muaro Pingai, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Minggu (30/11/2025). Sampah kayu gelondongan tersebut menumpuk di sepanjang jalur banjir bandang beberapa hari terakhir. ANTARA FOTO/Wawan Kurniawan/Lmo/nzDalam analisisnya, Sonni menyebut bahwa Siklon Tropis Senyar berinteraksi dengan gelombang Ekuatorial Rossby, Madden Julian Oscillation (MJO) yang berada pada Fase 6 di Pasifik Barat tropis, IOD (Indian Ocean Dipole), serta La Nina yang menurutnya semakin intens karena termodulasi aktivitas sunspot.
La Nina dan IOD yang ditandai dengan menghangatnya suhu muka laut membuat pasokan uap air sangat berlimpah.
Uap air ini menjadi bahan baku terbentuknya depresi tekanan. Depresi tekanan dapat berkembang menjadi bibit siklon tropis dan kemudian tumbuh menjadi siklon tropis.
Kondisi atmosfer disebut semakin aktif akibat kehadiran gelombang Rossby Ekuator dan MJO, yang dapat menguatkan proses konvergensi pada fase awal pembentukan siklon tropis.
Kombinasi sistem atmosfer itu membentuk awan Cumulonimbus (CB) dalam jumlah besar. Awan ini memicu hujan ekstrem berkepanjangan di Sumatra, bahkan dalam beberapa kasus dapat terjadi lebih dari 24 jam.
Dalam waktu bersamaan, lanjut dia, wilayah Indonesia juga berada dalam pengaruh dua bibit siklon serta Siklon Tropis Fina. Kondisi ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, banjir pesisir, dan angin kencang.
Sonni menegaskan bahwa siklon tropis merupakan gangguan atmosfer berskala sinoptik yang bisa memicu bencana hidrometeorologi di wilayah tropis.
"Siklon tropis merupakan gangguan atmosfer berskala sinoptik yang dapat memicu bencana hidrometeorologi di wilayah yang dilaluinya, terutama dalam durasi harian di kawasan tropis," tutur Sonni.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya