Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banjir Bandang Dinilai Munculkan Risiko terhadap Keanekaragaman Hayati Sumatra

Kompas.com, 22 Desember 2025, 13:26 WIB
Add on Google
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Bencana banjir bandang dan topan Senyar yang melanda kawasan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, dinilai memunculkan risiko baru terhadap keanekaragaman hayati Sumatra sekaligus keselamatan masyarakat di sekitarnya.

Perubahan lansekap pascabencana menjadi peringatan penting bahwa pengelolaan ekosistem Batang Toru memerlukan respons kebijakan yang lebih cepat, terkoordinasi, dan berbasis data.

Senior Vice President and Executive Chair Konservasi Indonesia, Meizani Irmadhiany, mengatakan peristiwa bencana tersebut menunjukkan keterkaitan erat antara perlindungan lingkungan dan keselamatan manusia.

Baca juga: Dari Konservasi hingga Ekonomi Sirkular, Begini Transformasi Taman Safari Cisarua Jelang Hari Keanekaragaman Hayati

Menurut dia, upaya konservasi tidak dapat dipisahkan dari penataan ruang yang adaptif serta pengelolaan risiko bencana.

“Perlindungan ekosistem, penataan ruang yang adaptif, serta pencegahan dan pengelolaan risiko bencana harus berjalan bersama agar pembangunan benar-benar berkelanjutan,” ujar Meizani dalam keterangan tertulis, Senin (22/12/2025).

Konservasi Indonesia mencatat perubahan fisik kawasan pascabencana berpotensi meningkatkan fragmentasi habitat akibat longsor dan pembukaan lahan, mengubah alur sungai dan kawasan sempadan, serta mendorong aktivitas manusia ke area yang semakin rentan.

Kondisi tersebut dinilai berisiko mengubah ruang jelajah satwa liar dan meningkatkan potensi konflik dengan manusia.

Sumatra Policy Manager Konservasi Indonesia, Dedy Iskandar, mengatakan berbagai isu yang berkembang di masyarakat pascabencana, termasuk temuan kayu di sejumlah desa terdampak, perlu dijawab melalui pendekatan berbasis bukti dan kajian ilmiah yang komprehensif.

“Isu yang berkembang tidak bisa dijawab dengan asumsi. Diperlukan analisis yang kuat agar pemerintah memiliki dasar yang jelas dalam mengambil langkah perbaikan,” kata Dedy.

Ia menambahkan kajian spasial pascabencana menjadi penting untuk memahami perubahan tutupan hutan dan lahan secara objektif. Namun, menurutnya, peta saja tidak cukup tanpa kajian menyeluruh terhadap aktivitas pemanfaatan ruang.

Dedy juga menilai Kelompok Kerja Ekosistem Batang Toru (POKJA EBT) perlu bergerak lebih cepat dan terkoordinasi untuk merespons dinamika pascabencana.

Menurut dia, Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Terpadu Ekosistem Batang Toru perlu segera didorong sebagai rujukan bersama lintas sektor.

Sementara itu, Program Manager Batang Toru Konservasi Indonesia, Doni Latuparisa, menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan ekosistem Batang Toru juga sangat bergantung pada kondisi desa-desa di sekitarnya.

“Ketika wilayah pinggiran mengalami kerusakan dan tidak tertangani dengan baik, tekanan terhadap kawasan inti akan terus meningkat,” ujar Doni.

Baca juga: Pembakaran Sisa Tanaman Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba

Ia menambahkan, hasil analisis Konservasi Indonesia menunjukkan dalam lima tahun terakhir terjadi pembukaan lahan sedikitnya 10.000 hektare di ekosistem Batang Toru.

Lebih dari 73 persen pembukaan lahan tersebut terjadi di wilayah hulu pada ketinggian di atas 700 meter di atas permukaan laut.

Menurut Doni, kondisi tersebut memperkuat urgensi penyesuaian rencana tata ruang agar pengelolaan kawasan tidak lagi bertumpu pada kondisi sebelum bencana, melainkan pada realitas lansekap terbaru beserta risiko ekologis dan kebencanaan yang menyertainya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau