Meskipun demikian, analisis menunjukkan bahwa pola konsumsi dan perdagangan sama pentingnya dengan tempat penangkapan ikan.
Negara-negara Eropa mengimpor ikan dalam volume besar dari seluruh kawasan, yang kemudian mengubah jalur paparan dan meningkatkan asupan PFAS di wilayah-wilayah yang tingkat pencemaran lokalnya relatif lebih rendah.
"Para penulis menyimpulkan bahwa paparan tersebut umumnya rendah dan, secara keseluruhan, telah menurun seiring dengan penghentian produksi PFAS secara bertahap, tapi mereka juga memperingatkan bahwa pasar produk laut internasional bertanggung jawab atas redistribusi risiko paparan ini ke seluruh dunia," jelas Campo.
Dari perspektif kesehatan masyarakat, temuan tersebut menunjukkan bahwa wilayah yang lebih kaya menghadapi paparan makanan yang lebih tinggi karena konsumsi ikan dan intensitas perdagangan yang lebih tinggi.
Baca juga: Masyarakat Adat Enggros Papua Mulai Budi Daya Ikan Nila di Air Laut
Sementara itu, peneliti senior di Institute of Environmental Assessment and Water Research di Spanyol, Dr. Pablo Gago menuturkan, paparan PFAS terhadap manusia tidak hanya bergantung pada kontaminasi lingkungan setempat, tapi juga dinamika perdagangan pangan global.
"Studi ini memiliki kualitas ilmiah yang tinggi dan menonjol karena ambisinya serta ketahanan metodologisnya. Studi ini mengintegrasikan data global tentang kontaminasi PFAS di lingkungan laut, model bioakumulasi dalam rantai makanan, konsumsi ikan, dan perdagangan internasional, mencakup lebih dari 99 persen produksi ikan laut global," jelas Gago.
Para penulis mengingatkan, studi ini hanya berfokus pada ikan laut dan tidak mencakup sumber PFAS lainnya dari makanan dan lingkungan, yang berarti total paparan pada manusia kemungkinan besar lebih besar dari yang diperkirakan.
Baca juga: Kemenko Pangan: MBG Kurang Ikan, Perlu Manfaatkan Pangan Akuatik
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya