KOMPAS.com - Perdagangan seafood global telah menyebarkan paparan per- dan polyfluoroalkyl (PFAS), yang sering disebut "bahan kimia abadi", jauh melampau lokasi asal pencemaran.
Sebab, ikan yang diperdagangkan membawa bahan kimia tersebut dari perairan yang tercemar ke konsumen di seluruh dunia.
Baca juga:
"Per- dan polyfluoroalkyl substances (PFAS) adalah kelompok lebih dari 4.700 senyawa kimia sintetis," kata peneliti di Food Safety and Environment Research Group dari Desertification Research Centre di Valencia, Spanyol, Dr. Julian Campo, dilansir dari Independent.co.uk, Senin (22/12/2025).
Studi tersebut mengamati kandungan PFA pada lebih dari 200 spesies ikan laut. Kemudian, studi tersebut menemukan, perdagangan internasional telah mengalihkan paparan bahan kimia tersebut dari wilayah yang sangat tercemar ke negara-negara yang memiliki tingkat polusi lebih rendah.
Eropa, secara khusus, muncul sebagai pusat utama dalam aliran paparan ini, meskipun wilayah tersebut tidak memiliki stok ikan yang paling tercemar.
Penelitian mengungkap ikan hasil perdagangan global mengandung bahan kimia abadi (PFAS) yang berbahaya bagi kesehatan manusia.PFAS adalah kelompok besar zat kimia sintetis yang digunakan dalam berbagai produk, mulai dari peralatan masak anti lengket hingga busa pemadam api.
Zat ini dikenal karena persistensinya yang ekstrem di lingkungan dan tubuh manusia sehingga dilabeli "bahan kimia abadi".
"PFAS sangat beracun dan menimbulkan potensi bahaya yang jelas bagi kesehatan manusia karena dapat bertindak sebagai pengganggu endokrin, selain menyebabkan kerusakan hati, penyakit tiroid, obesitas, serta dikaitkan dengan masalah kesuburan dan kanker," tutur Campo.
Dalam studi ini, peneliti menggabungkan data perikanan global, model jaring makanan laut, dan pengukuran PFAS dari lebih dari 3.000 lokasi pengambilan sampel air laut.
Tujuannya adalah memprediksi konsentrasi pada 212 spesies ikan laut yang dapat dikonsumsi.
Mereka kemudian memvalidasi prediksi tersebut menggunakan pengukuran nyata dari 150 sampel ikan yang dikumpulkan di 14 negara.
Ikan dari beberapa wilayah di Asia dan Oseania, termasuk Arab Saudi, Thailand, dan pantai timur Australia, menunjukkan konsentrasi PFAS tertinggi relatif terhadap rata-rata global, sedangkan ikan dari Afrika dan Amerika Utara memiliki konsentrasi terendah.
Spesies yang berada di puncak rantai makanan secara konsisten mengandung lebih banyak PFAS. Ikan air tawar ditemukan mengandung kadar yang jauh lebih tinggi dibanding ikan laut.
Baca juga:
Penelitian mengungkap ikan hasil perdagangan global mengandung bahan kimia abadi (PFAS) yang berbahaya bagi kesehatan manusia.Meskipun demikian, analisis menunjukkan bahwa pola konsumsi dan perdagangan sama pentingnya dengan tempat penangkapan ikan.
Negara-negara Eropa mengimpor ikan dalam volume besar dari seluruh kawasan, yang kemudian mengubah jalur paparan dan meningkatkan asupan PFAS di wilayah-wilayah yang tingkat pencemaran lokalnya relatif lebih rendah.
"Para penulis menyimpulkan bahwa paparan tersebut umumnya rendah dan, secara keseluruhan, telah menurun seiring dengan penghentian produksi PFAS secara bertahap, tapi mereka juga memperingatkan bahwa pasar produk laut internasional bertanggung jawab atas redistribusi risiko paparan ini ke seluruh dunia," jelas Campo.
Dari perspektif kesehatan masyarakat, temuan tersebut menunjukkan bahwa wilayah yang lebih kaya menghadapi paparan makanan yang lebih tinggi karena konsumsi ikan dan intensitas perdagangan yang lebih tinggi.
Baca juga: Masyarakat Adat Enggros Papua Mulai Budi Daya Ikan Nila di Air Laut
Sementara itu, peneliti senior di Institute of Environmental Assessment and Water Research di Spanyol, Dr. Pablo Gago menuturkan, paparan PFAS terhadap manusia tidak hanya bergantung pada kontaminasi lingkungan setempat, tapi juga dinamika perdagangan pangan global.
"Studi ini memiliki kualitas ilmiah yang tinggi dan menonjol karena ambisinya serta ketahanan metodologisnya. Studi ini mengintegrasikan data global tentang kontaminasi PFAS di lingkungan laut, model bioakumulasi dalam rantai makanan, konsumsi ikan, dan perdagangan internasional, mencakup lebih dari 99 persen produksi ikan laut global," jelas Gago.
Para penulis mengingatkan, studi ini hanya berfokus pada ikan laut dan tidak mencakup sumber PFAS lainnya dari makanan dan lingkungan, yang berarti total paparan pada manusia kemungkinan besar lebih besar dari yang diperkirakan.
Baca juga: Kemenko Pangan: MBG Kurang Ikan, Perlu Manfaatkan Pangan Akuatik
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya