Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perdagangan Ikan Global Berpotensi Sebarkan Bahan Kimia Berbahaya, Apa Itu?

Kompas.com, 22 Desember 2025, 21:44 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perdagangan seafood global telah menyebarkan paparan per- dan polyfluoroalkyl (PFAS), yang sering disebut "bahan kimia abadi", jauh melampau lokasi asal pencemaran.

Sebab, ikan yang diperdagangkan membawa bahan kimia tersebut dari perairan yang tercemar ke konsumen di seluruh dunia. 

Baca juga:

"Per- dan polyfluoroalkyl substances (PFAS) adalah kelompok lebih dari 4.700 senyawa kimia sintetis," kata peneliti di Food Safety and Environment Research Group dari Desertification Research Centre di Valencia, Spanyol, Dr. Julian Campo, dilansir dari Independent.co.uk, Senin (22/12/2025).

Studi tersebut mengamati kandungan PFA pada lebih dari 200 spesies ikan laut. Kemudian, studi tersebut menemukan, perdagangan internasional telah mengalihkan paparan bahan kimia tersebut dari wilayah yang sangat tercemar ke negara-negara yang memiliki tingkat polusi lebih rendah.

Eropa, secara khusus, muncul sebagai pusat utama dalam aliran paparan ini, meskipun wilayah tersebut tidak memiliki stok ikan yang paling tercemar.

Bahaya bahan kimia PFAS yang dibawa ikan

PFAS bisa menyebabkan kerusakan hati dan kanker

Penelitian mengungkap ikan hasil perdagangan global mengandung bahan kimia abadi (PFAS) yang berbahaya bagi kesehatan manusia.FREEPIK/DASHU83 Penelitian mengungkap ikan hasil perdagangan global mengandung bahan kimia abadi (PFAS) yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

PFAS adalah kelompok besar zat kimia sintetis yang digunakan dalam berbagai produk, mulai dari peralatan masak anti lengket hingga busa pemadam api.

Zat ini dikenal karena persistensinya yang ekstrem di lingkungan dan tubuh manusia sehingga dilabeli  "bahan kimia abadi".

"PFAS sangat beracun dan menimbulkan potensi bahaya yang jelas bagi kesehatan manusia karena dapat bertindak sebagai pengganggu endokrin, selain menyebabkan kerusakan hati, penyakit tiroid, obesitas, serta dikaitkan dengan masalah kesuburan dan kanker," tutur Campo.

Dalam studi ini, peneliti menggabungkan data perikanan global, model jaring makanan laut, dan pengukuran PFAS dari lebih dari 3.000 lokasi pengambilan sampel air laut.

Tujuannya adalah memprediksi konsentrasi pada 212 spesies ikan laut yang dapat dikonsumsi.

Mereka kemudian memvalidasi prediksi tersebut menggunakan pengukuran nyata dari 150 sampel ikan yang dikumpulkan di 14 negara.

Ikan dari beberapa wilayah di Asia dan Oseania, termasuk Arab Saudi, Thailand, dan pantai timur Australia, menunjukkan konsentrasi PFAS tertinggi relatif terhadap rata-rata global, sedangkan ikan dari Afrika dan Amerika Utara memiliki konsentrasi terendah.

Spesies yang berada di puncak rantai makanan secara konsisten mengandung lebih banyak PFAS. Ikan air tawar ditemukan mengandung kadar yang jauh lebih tinggi dibanding ikan laut.

Baca juga:

Distribusi PFAS lewat perdagangan ikan global

Penelitian mengungkap ikan hasil perdagangan global mengandung bahan kimia abadi (PFAS) yang berbahaya bagi kesehatan manusia.FREEPIK/FREEPIK Penelitian mengungkap ikan hasil perdagangan global mengandung bahan kimia abadi (PFAS) yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Meskipun demikian, analisis menunjukkan bahwa pola konsumsi dan perdagangan sama pentingnya dengan tempat penangkapan ikan.

Negara-negara Eropa mengimpor ikan dalam volume besar dari seluruh kawasan, yang kemudian mengubah jalur paparan dan meningkatkan asupan PFAS di wilayah-wilayah yang tingkat pencemaran lokalnya relatif lebih rendah.

"Para penulis menyimpulkan bahwa paparan tersebut umumnya rendah dan, secara keseluruhan, telah menurun seiring dengan penghentian produksi PFAS secara bertahap, tapi mereka juga memperingatkan bahwa pasar produk laut internasional bertanggung jawab atas redistribusi risiko paparan ini ke seluruh dunia," jelas Campo.

Dari perspektif kesehatan masyarakat, temuan tersebut menunjukkan bahwa wilayah yang lebih kaya menghadapi paparan makanan yang lebih tinggi karena konsumsi ikan dan intensitas perdagangan yang lebih tinggi.

Baca juga: Masyarakat Adat Enggros Papua Mulai Budi Daya Ikan Nila di Air Laut

Sementara itu, peneliti senior di Institute of Environmental Assessment and Water Research di Spanyol, Dr. Pablo Gago menuturkan, paparan PFAS terhadap manusia tidak hanya bergantung pada kontaminasi lingkungan setempat, tapi juga dinamika perdagangan pangan global.

"Studi ini memiliki kualitas ilmiah yang tinggi dan menonjol karena ambisinya serta ketahanan metodologisnya. Studi ini mengintegrasikan data global tentang kontaminasi PFAS di lingkungan laut, model bioakumulasi dalam rantai makanan, konsumsi ikan, dan perdagangan internasional, mencakup lebih dari 99 persen produksi ikan laut global," jelas Gago.

Para penulis mengingatkan, studi ini hanya berfokus pada ikan laut dan tidak mencakup sumber PFAS lainnya dari makanan dan lingkungan, yang berarti total paparan pada manusia kemungkinan besar lebih besar dari yang diperkirakan.

Baca juga: Kemenko Pangan: MBG Kurang Ikan, Perlu Manfaatkan Pangan Akuatik

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Pemerintah
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Pemerintah
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
LSM/Figur
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Pemerintah
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Swasta
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
Pemerintah
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
LSM/Figur
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Pemerintah
Wacana Konversi 120 Juta Motor Listrik Berisiko Gagal dan Bebankan Keuangan Negara
Wacana Konversi 120 Juta Motor Listrik Berisiko Gagal dan Bebankan Keuangan Negara
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau