KOMPAS.com - Hubungan antara plastik dan perubahan iklim biasanya berfokus pada bagaimana plastik menjadi penyebab krisis.
Seperti yang kita ketahui lebih dari 98 persen plastik dibuat menggunakan bahan bakar fosil, dan polusi iklim dilepaskan di setiap tahap siklus hidupnya, mulai dari produksi hingga pembuangan.
Namun yang kurang dibahas adalah bagaimana perubahan iklim yang memicu gelombang panas, kebakaran, dan banjir intens bisa meningkatkan polusi plastik, menyebarkannya lebih luas dan bahkan membuatnya lebih berbahaya.
Sebuah tim ilmuwan meneliti ratusan studi dan menemukan banyak bukti bahwa perubahan iklim memperburuk polusi plastik di air, tanah, atmosfer, dan satwa liar kita.
Analisis tersebut diterbitkan Kamis di jurnal Frontiers in Science.
Baca juga: Industri Pelayaran Komitmen Atasi Krisis Polusi Plastik di Lautan
“Polusi plastik dan iklim merupakan krisis bersama yang saling memperburuk,” kata penulis utama Frank Kelly, seorang profesor di Sekolah Kesehatan Masyarakat Imperial College London, dikutip dari CNN, Kamis (27/11/2025).
Kenaikan suhu, kelembapan, dan sinar matahari memecah plastik, membuatnya rapuh dan retak, mempercepat disintegrasinya menjadi pecahan-pecahan kecil.
Kenaikan suhu 10 derajat Celsius selama gelombang panas ekstrem dapat menggandakan laju degradasi plastik, catat studi tersebut.
Badai ekstrem, banjir, dan angin juga mempercepat penguraian plastik, memobilisasinya, dan menyebarkannya lebih luas.
Topan di Hong Kong, misalnya, meningkatkan konsentrasi mikroplastik di sedimen pantai hampir 40 kali lipat
Kebakaran hutan, yang dipicu oleh suhu tinggi dan kekeringan, membakar habis rumah, kantor, dan kendaraan, melepaskan mikroplastik dan senyawa yang sangat beracun ke atmosfer.
Perubahan iklim juga dapat membuat plastik lebih berbahaya.
Suhu yang lebih tinggi dapat membantu plastik menyerap dan melepaskan kontaminan berbahaya dengan lebih mudah, serta meningkatkan kemampuannya untuk melarutkan bahan kimia berbahaya yang terkandung di dalam plastik itu sendiri.
Ketika krisis ganda polusi plastik dan perubahan iklim bertabrakan, dampaknya terhadap hewan, terutama kehidupan laut, dapat menjadi signifikan.
Studi ini menyarankan beberapa solusi untuk krisis ini, termasuk mengurangi penggunaan plastik, penggunaan kembali dan daur ulang, serta mendesain ulang produk dan menghilangkan plastik sekali pakai yang tidak perlu.
Baca juga: Studi: Sejumlah Kecil Plastik Mematikan Bagi Hewan Laut
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya