Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banjir Aceh Disebut Jadi Dampak Deforestasi, Tutupan Hutan Sudah Kritis Sejak 15 Tahun Lalu

Kompas.com, 24 Desember 2025, 18:35 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Aceh disebut telah melampaui ambang batas kehilangan tutupan hutan sejak tahun 2007. Berdasarkan hasil pemetaan Pemerintah Provinsi Aceh pada tahun 2007, seluruh wilayah di Serambi Mekkah sebenarnya tidak boleh lagi kehilangan tutupan hutan.

Tutupan hutan di Aceh saat itu memang masih lumayan luas atau 55 persen. Namun, setelah menggabungkan peta tutupan dengan curah hujan, kelerangan, kepadatan penduduk, daerah aliran sungai (DAS) dan data lainnya melalui metode overlay, terungkap bahwa tidak ada lagi daerah yang aman untuk pembukaan lahan.

Baca juga:

"Artinya, enggak ada lagi area yang bisa dikonversi menjadi tambang, menjadi sawit, atau menjadi komoditas lain," kata Executive Director Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh, Farwiza Farhan dalam webinar, Selasa (23/12/2025).

"Ketika Aceh mulai mengambil langkah-langkah yang mengganti tutupan hutan dengan komoditas lain, apa pun itu, akan meningkatkan risiko bencana yang ada di Provinsi Aceh. Itu sudah diketahui dari tahun 2007, which is (yang mana) 15 tahun yang lalu," tambah dia. 

Saat ini, akumulasi tindakan melanggar ambang batas penghilangan tutupan hutan di Aceh tercermin dari banjir yang dipicu curah hujan ekstrem. Skala kehilangan tutupan hutan terbesar di Aceh terjadi selama periode tahun 1990 sampai 2000-an.

Penyelenggara negara di Indonesia disebut cenderung melepas tanggung jawab dengan bersembunyi di balik dalih penghilangan tutupan hutan tidak terjadi kala mereka berkuasa.

"Kementerian Kehutanan bilang, 'Oh, saya enggak mengeluarkan izin tuh di masa saya berkuasa' atau Presiden yang sekarang mengatakan, 'Oh, tidak ada, saya tidak pernah mengizinkan, deforestasi di masa saya ini menjabat ke tahun, kan?'. Tapi kerusakan itu terus berlanjut seiring dengan bergantinya pemegang kekuasaan," jelas Fawzia.

"Jadi keputusan yang diambil 30-40 tahun yang lalu masih kita rasakan dampaknya sampai sekarang," lanjut dia.

Aceh kehilangan tutupan hutan, sudah lampaui ambang batas

Banyak kawasan beralih fungsi jadi hutan produksi dan area penggunaan lain

Foto udara warga menyeberangi sungai dengan jembatan darurat di wilayah Tenge Besi, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Sabtu (20/12/2025). Akses warga pejalan kaki masih harus melintasi jembatan darurat dari batang kayu dan kendaraan roda dua harus menyeberangi arus sungai saat debit air surut, sementara roda empat tidak dapat melintas, akibat jalan dan jembatan penghubung antara Bener Meriah menuju Takengon, Kabupaten Aceh Tengah putus diterjang banjir bandang pada Rabu (26/11). ANTARA FOTO/Khalis Surry Foto udara warga menyeberangi sungai dengan jembatan darurat di wilayah Tenge Besi, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Sabtu (20/12/2025). Akses warga pejalan kaki masih harus melintasi jembatan darurat dari batang kayu dan kendaraan roda dua harus menyeberangi arus sungai saat debit air surut, sementara roda empat tidak dapat melintas, akibat jalan dan jembatan penghubung antara Bener Meriah menuju Takengon, Kabupaten Aceh Tengah putus diterjang banjir bandang pada Rabu (26/11).

Di sisi lain, Aceh disebut tetap kehilangan tutupan hutan selama 15 tahun terakhir.

Misalnya, dalam 15 tahun terakhir, DAS Peusangan dan DAS Krung Gero kehilangan tutupan hutan yang relatif kecil. 

Hal ini disebabkan kawasan sekitar DAS Peusangan dan DAS Krung Gero sudah banyak beralih fungsi menjadi hutan produksi dan area penggunaan lain (APL).

Di hilir DAS Peusangan dan DAS Krung Gero, terdapat permukiman padat penduduk.

Menurut Farwiza, permukiman penduduk paling miskin di Aceh kemungkinan berada di daerah-daerah yang sering terdampak banjir yaitu permukiman di DAS Peusangan, DAS Krung Ger, dan DAS Aceh Tamiang yang berulang kali dilanda banjir.

"Yang menarik, kebetulan saya dikasih lihat sebuah studi yang masih on going (berjalan) soal lapisan kemiskinan, multidimensional poverty. Dugaannya tentu masyarakat di DAS Peusangan, DAS Krung Ger, dan DAS Aceh Tamiang yang berkali-kali mengalami bencana," kata Farwiza.

"Jadi build up of wealth, membangun kekayaan, membangun aset, kesempatan itu hilang dengan setiap bencana yang terjadi," tambah dia.

Baca juga:

Enggan menyalahkan komoditas tertentu

Farwiza enggan menyalahkan suatu komoditas tertentu sebagai penanggung jawab utama atas kerusakan hutan di Aceh.

Apalagi, komoditas penyebab kerusakan hutan dapat berubah dari waktu ke waktu, mulai dari kayu di tahun 1990-an hingga kelapa sawit untuk saat ini.

Bahkan, kemungkinan tambang akan berkontribusi terbesar dalam kerusakan hutan di Aceh ke depannya, seiring kenaikan harga emas.

"Yang bersalah itu spesies homo sapiens. Para pengambil kebijakan yang membuat kebijakan ugal-ugalan, menguntungkan diri sendiri sehingga kita semua membayar dampaknya, termasuk spesies lain," ucapnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Pemerintah
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
LSM/Figur
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Swasta
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Pemerintah
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pemerintah
Pengetahuan Jadi Bekal Petani dan Perajin Pangan untuk Lebih Mandiri
Pengetahuan Jadi Bekal Petani dan Perajin Pangan untuk Lebih Mandiri
Swasta
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Pemerintah
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
LSM/Figur
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Pemerintah
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
LSM/Figur
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Pemerintah
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Pemerintah
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
LSM/Figur
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
BUMN
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau