KOMPAS.com - Hampir sebulan pasca-banjir melanda, kondisi masyarakat di tengah dan pesisir timur Aceh disebut masih memprihatikan. Dari 16 daerah terdampak bencana, kerusakan terparah terjadi di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Meski masa tanggap darurat telah diperpanjang, kondisinya masih belum membaik.
Distribusi logistik untuk korban bencana banjir di Aceh disebut masih belum merata. Di perkotaan, distribusi bahan pokok sudah membaik, mengingat kedekatannya dengan jalan bebas nasional.
Baca juga:
Namun, untuk wilayah yang jauh dari pusat kota dan terisolasi, bantuan masih sangat minim, bahkan, hingga saat ini beberapa daerah di tengah Aceh hanya bisa diakses dengan jalan kaki.
"Ini cukup memprihatikan, bagaimana mereka bisa bertahan dengan keterbatasan hampir satu bulan," ujar Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, Riswandi dalam webinar, Selasa (23/12/2025).
Mayoritas pengungsi masih tinggal di tenda-tenda darurat yang dibangun secara swadaya. Tenda-tenda darurat tersebut dinilai tidak layak untuk dihuni karena tidak ada sanitasi dan air bersih. Hal ini diperparah dengan fasilitas kesehatan yang tidak memadai.
Fasilitas kesehatan untuk korban terdampak bencana banjir di Aceh masih terkonsentrasi di kawasan perkotaan saja.
Riswandi lantas mengkritik "janji" percepatan penanganan pasca-bencana jika masuk masa tanggap darurat, yang tidak sesuai kenyataan di lapangan.
"Sebagian besar masyarakat masih mempertanyakan, apakah benar-benar cepat dan tepat ya. Kalau kami lihat faktanya, memang distribusi tenda darurat yang layak dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) itu tidak sesuai kenyataan. Karena saya punya keluarga yang tinggal di Aceh Tengah. Itu masih banyak tenda-tenda darurat enggak layak pakai,"jelas Riswandi.
Foto udara warga menyeberangi sungai dengan jembatan darurat di wilayah Tenge Besi, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Sabtu (20/12/2025). Akses warga pejalan kaki masih harus melintasi jembatan darurat dari batang kayu dan kendaraan roda dua harus menyeberangi arus sungai saat debit air surut, sementara roda empat tidak dapat melintas, akibat jalan dan jembatan penghubung antara Bener Meriah menuju Takengon, Kabupaten Aceh Tengah putus diterjang banjir bandang pada Rabu (26/11). Menurut Riswandi, kelambanan dalam penanganan pasca-bencana akan berdampak jangka panjang terhadap kesehatan fisik dan mental masyarakat.
"Semakin lama mereka memperoleh bantuan dalam masa tanggap darurat itu, dampak jangka panjangnya akan semakin buruk terhadap human capital mereka," ucapnya.
Dengan begitu masifnya kerusakan dan lokasi bencana yang terpencar, kata Riswandi, pemerintah daerah terlihat kewalahan dalam mendistribusikan bantuan.
Baca juga:
Gedung SDN 12 Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Rabu (24/12/2025)Kata dia, situasi pasca-bencana banjir bandang saat ini berbeda dengan tsunami di Aceh pada 2004 lalu, yang lokasi terdampaknya terkonsentrasi di kawasan pesisir timur dan barat.
Di sisi lain, saat ini masyarakat Aceh yang tidak terdampak bencana banjir secara langsung, seperti di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar, juga merasakan kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-harinya.
Putusnya beberapa jembatan dan ruas jalan nasional mengakibatkan keterbatasan pasokan bahan baku, gangguan listrik, dan kenaikan harga kebutuhan pokok.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya