Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Guru Besar UGM: RI Mestinya Pajaki Minuman Berpemanis dan Beri Subsidi Makanan Sehat

Kompas.com, 26 Desember 2025, 19:04 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Guru Besar Bidang Promosi dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM) Universitas Gadjah Mada, Fatwa Sari Tetra Dewi, menilai Indonesia masih belum serius menangani obesitas. Padahal, pengendalian obesitas berpengaruh langsung terhadap naik-turunnya prevalensi berbagai PTM, seperti hipertensi.

Fatwa mengatakan, upaya pencegahan obesitas di Indonesia hingga kini masih didominasi pendekatan individu atau dilakukan setelah seseorang mengalami masalah klinis. Pencegahan belum banyak menyasar level komunitas maupun kebijakan.

“Jadi, masih belum ke arah pencegahan yang paling awal,” ujar Fatwa dalam webinar, Sabtu (20/12/2025).

Menurut dia, pencegahan obesitas seharusnya dilakukan berbasis komunitas dan disesuaikan dengan lokasi. Di sekolah, misalnya, pencegahan dapat dilakukan melalui kurikulum gizi dan aktivitas fisik, pembatasan jajanan tinggi kalori, serta olahraga rutin.

Sementara di tempat kerja, pencegahan dapat dilakukan lewat program kesehatan kerja, skrining indeks massa tubuh (BMI), konseling gizi, hingga kebijakan active breaks.

Selain itu, Fatwa menilai pencegahan obesitas juga harus dilakukan pada level makro melalui kebijakan publik. Salah satunya, kebijakan pangan dan minuman, seperti pajak minuman bergula, pembatasan penjualan di sekolah, pengaturan pemasaran makanan tinggi gula, garam, dan lemak kepada anak, serta pelabelan gizi yang jelas, termasuk front of pack labelling.

“Makanan dan minuman berpemanis ini seharusnya dipajaki agar harganya lebih mahal. Sebaliknya, makanan dan minuman sehat perlu disubsidi,” kata Fatwa.

Pangan Sehat

Langkah lain adalah menciptakan lingkungan yang mendukung konsumsi pangan sehat, seperti membatasi peredaran makanan ultra-proses dan mempermudah akses masyarakat terhadap buah dan sayur. Ia juga menekankan pentingnya standar makanan sehat di kantin sekolah, tempat kerja, dan rumah sakit.

Pencegahan berikutnya berkaitan dengan kebijakan tata ruang yang mendorong aktivitas fisik, antara lain pembangunan kota yang ramah pejalan kaki dan pesepeda, penyediaan ruang terbuka hijau, serta fasilitas olahraga publik.

Namun, Fatwa menilai koordinasi lintas sektor dalam pencegahan obesitas di tingkat makro belum berjalan optimal. Implementasi kebijakan antar daerah pun masih sangat bervariasi, sehingga kualitas pencegahan belum merata.

“Kerja sama lintas sektor belum bersinergi dengan baik. Fasilitas olahraga yang tersedia juga belum mencukupi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Selain kebijakan, pola asuh keluarga dinilai turut berperan dalam membentuk gaya hidup anak hingga dewasa. Anak perlu diperkenalkan gaya hidup sehat sejak dini, termasuk kebiasaan makan sayur dan melakukan aktivitas fisik bersama keluarga.

“Itu bisa terlihat dari pilihan aktivitas keluarga. Jika keluarga terbiasa berwisata sambil beraktivitas fisik, seperti berenang, maka anak sejak kecil dilatih mencintai kegiatan yang aktif,” kata Fatwa.

Sebelumnya, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, Ade Meidian Ambari, menyebut terdapat lima faktor utama yang mendorong peningkatan prevalensi obesitas di Indonesia.

Faktor tersebut antara lain sistem pangan yang memudahkan akses makanan ultra-proses, faktor sosial-ekonomi perkotaan, pemasaran makanan tinggi kalori kepada anak dan remaja, gaya hidup obesogenik, serta belum adanya regulasi komprehensif terkait pajak minuman bergula, pelabelan gizi, dan desain kota ramah aktivitas fisik.

Ade menilai, intervensi berbasis individu seperti diet dan olahraga kerap tidak efektif jika tidak dibarengi perubahan lingkungan. Pasalnya, lingkungan obesogenik sudah terbentuk kuat di Indonesia.

“Perubahan regulasi, termasuk pajak minuman manis terutama di sekolah, sangat penting. Saat ini justru makanan sehat lebih mahal dibandingkan makanan obesogenik,” ujar Ade.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau