Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perangi Greenwashing, Industri Fashion Segera Luncurkan Paspor Produk

Kompas.com, 29 Desember 2025, 20:13 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Produk pakaian yang masuk ke Eropa sebentar lagi harus memenuhi kewajiban untuk menyertakan 'paspor digital' yang membuktikan kredibilitas ramah lingkungannya.

Dengan adanya paspor tersebut konsumen dapat memindai kode QR atau tag elektronik untuk melihat paspor produk digital (DPP) pakaian dan memeriksa apakah klaim ramah lingkungan merek tersebut benar.

Melansir Eco Business, Jumat (19/12/2025) selanjutnya paspor akan memberi tahu konsumen bahan pembuatan pakaian, berapa banyak energi, air, dan bahan kimia yang digunakan untuk membuatnya, serta siapa yang terlibat dalam setiap tahap produksinya.

Pemasok tekstil dari Bangladesh, eksportir pakaian terbesar kedua di dunia, mungkin perlu menerapkan versi awal paspor tersebut paling cepat pada tahun 2027, menurut analisis oleh Layanan Penelitian Parlemen Eropa.

“Seiring meningkatnya perhatian konsumen terhadap keberlanjutan dan transparansi, paspor produk digital dapat menjadi alat kunci untuk memberikan catatan rinci tentang jejak lingkungan setiap potong kain,” kata Asif Ibrahim, wakil ketua perusahaan manufaktur pakaian yang berbasis di Dhaka, Newage Group of Industries.

Baca juga: Kulit, Cashmere, dan Wol Penyumbang Metana Terbesar Industri Fashion

Laporan LSM Greenpeace yang berbasis di Inggris tahun 2023 mengatakan beberapa merek dan pemasok telah menyesatkan konsumen. Misalnya mereka mengatakan bahan terbuat dari daur ulang. Akan tetapi sebagian serat daur ulang bukan berasal dari sisa tekstil.

“Memberikan data yang autentik dan dapat dilacak dari seluruh rantai pasokan adalah kunci untuk menghentikan masalah greenwashing,” kata Rezwan Ahmed, CEO Aus Bangla Jutex Ltd, sebuah perusahaan yang memproduksi tas, topi, dan celemek dari kapas daur ulang dan organik.

Persiapan produsen

Ibrahim mengatakan produsen kecil masih jauh dari siap untuk memenuhi persyaratan Uni Eropa (UE) yang bertujuan untuk menghentikan produsen yang melebih-lebihkan klaim ramah lingkungan mereka.

Kendati demikian, pemasok dari Bangladesh mulai bekerja sama dengan perusahaan teknologi untuk bersiap menghadapi perubahan ini.

Ahmed telah bermitra dengan Aware, sebuah perusahaan Belanda yang bekerja sama dengan beberapa pemasok fesyen, menggunakan blockchain terdesentralisasi untuk mencatat data yang relevan saat kain menjadi pakaian jadi.

Produsen kemudian memasukkan data penting seperti jumlah benang, konsumsi air, atau warna, kemudian platform Aware menghasilkan kode QR untuk konsumen.

“Para produsen akan memiliki kendali atas apa yang mereka ungkapkan kepada merek dan konsumen mereka - karena kami ingin memberikan kepemilikan data kepada produsen,” kata Md. Muyeed Hasan, manajer negara Bangladesh di Aware.

Baca juga: Riset: Serat Plastik Dongkrak Emisi Industri Fashion 7,5 Persen

Pabrik pengolahan kapas, pencucian, dan pewarnaan, serta produsen pakaian jadi, semuanya akan mengunggah data dan sertifikat yang relevan ke profil digital mereka, kemudian harus menambahkan detail tentang setiap batch produksi secara real-time.

Klaim tentang penggunaan energi dan air akan diverifikasi oleh pihak ketiga

Lebih lanjut, aturan UE ini juga mengharuskan produsen garmen kecil untuk meningkatkan kapasitas perangkat keras dan perangkat lunak mereka serta cara mereka mengelola data.

Untuk mencapai fase tersebut produsen garmen kecil pun dapat bermitra dengan pihak lain untuk meningkatkan kapasitasnya.

Contohnya, DigiProdPass yang berbasis di Inggris telah bermitra dengan asosiasi produsen garmen Bangladesh, BGMEA, untuk membantu produsen kecil memenuhi persyaratan paspor baru.

“Para pemasok akan membutuhkan dukungan dari merek fesyen global dan organisasi pembangunan untuk meningkatkan kapasitas mereka sementara pemerintah harus memberikan insentif kepada para pengadopsi awal,” tambah Ibrahim.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
 Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
Pemerintah
Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan
Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan
Pemerintah
Pertamina Usul Blending SAF 1 Persen Rute Jakarta-Bali, Jaga Keseimbangan Emisi dan Harga Tiket Pesawat
Pertamina Usul Blending SAF 1 Persen Rute Jakarta-Bali, Jaga Keseimbangan Emisi dan Harga Tiket Pesawat
BUMN
Angka Vaksinasi Naik Tipis, Jutaan Anak Masih Belum Terlindungi
Angka Vaksinasi Naik Tipis, Jutaan Anak Masih Belum Terlindungi
Pemerintah
Samator Lanjutkan Revitalisasi Sungai Jagir, Targetkan Penataan Sepanjang 775 Meter
Samator Lanjutkan Revitalisasi Sungai Jagir, Targetkan Penataan Sepanjang 775 Meter
Swasta
PalmCo Dorong Pemerintah Perjelas Batas Kawasan Hutan untuk Beri Kepastian Hukum
PalmCo Dorong Pemerintah Perjelas Batas Kawasan Hutan untuk Beri Kepastian Hukum
BUMN
Emisi Melejit, Bakteri Pemakan Metana Kewalahan
Emisi Melejit, Bakteri Pemakan Metana Kewalahan
LSM/Figur
UE Tindak Tegas 27 Negara Anggota Soal Aturan Bangunan Ramah Lingkungan
UE Tindak Tegas 27 Negara Anggota Soal Aturan Bangunan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Emisi Perjalanan Penonton Piala Dunia Jauh Lebih Tinggi Dibanding Acaranya
Emisi Perjalanan Penonton Piala Dunia Jauh Lebih Tinggi Dibanding Acaranya
Pemerintah
Studi: Kebakaran Hutan Kanada Bikin Puluhan Spesies Burung di New York Lebih Sulit Ditemukan
Studi: Kebakaran Hutan Kanada Bikin Puluhan Spesies Burung di New York Lebih Sulit Ditemukan
LSM/Figur
ITB Kembangkan Pepton dari Maggot untuk Kurangi Ketergantungan Impor
ITB Kembangkan Pepton dari Maggot untuk Kurangi Ketergantungan Impor
LSM/Figur
Kebijakan Perlindungan Tanah Terbukti Sehatkan Lahan Pertanian
Kebijakan Perlindungan Tanah Terbukti Sehatkan Lahan Pertanian
Pemerintah
El Nino Bukan Vonis Kekeringan
El Nino Bukan Vonis Kekeringan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau