Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tanaman Ternyata Tak Banyak Menyerap Karbon Dioksida, Mengapa?

Kompas.com, 1 Januari 2026, 21:26 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Tanaman dinilai mampu menyerap lebih banyak karbon dioksida (CO2) sehingga membantu memperlambat pemanasan global. Namun, riset terbaru yang menyertakan University of Graz, Austria, menunjukkan hasil yang berbeda.

Tanaman ternyata tidak menyerap karbon dioksida sebanyak yang selama ini diperkirakan oleh para peneliti. Penyebab utamanya adalah kesalahan dalam memperkirakan ketersediaan nitrogen di alam.

Baca juga:

Tanaman tak banyak menyerap karbon dioksida

Karbon dioksida termasuk pendorong utama perubahan iklim. Konsentrasinya terus meningkat akibat aktivitas manusia.

Pada saat yang sama, karbon dioksida juga dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Efek ini dikenal sebagai CO2 fertilization effect (efek pemupukan karbon dioksida).

Masalahnya, pertumbuhan tanaman tidak hanya bergantung pada karbon dioksida.

Tanaman juga membutuhkan nitrogen dalam jumlah cukup. Tanpa nitrogen, tanaman tidak dapat memanfaatkan karbon dioksida secara optimal.

Baca juga:

Nitrogen jadi faktor penentu

Studi terbaru mengungkap tanaman tidak menyerap karbon dioksida (CO2) sebanyak yang diperkirakan. Mengapa?Freepik/wirestock Studi terbaru mengungkap tanaman tidak menyerap karbon dioksida (CO2) sebanyak yang diperkirakan. Mengapa?

Nitrogen tidak bisa langsung digunakan oleh tanaman. Unsur ini harus diubah terlebih dahulu menjadi bentuk yang dapat diserap akar.

Proses ini dilakukan oleh mikroorganisme di tanah dan disebut biological nitrogen fixation (fiksasi nitrogen biologis).

Menurut Bettina Weber, biolog dari University of Graz, proses fiksasi nitrogen alami selama ini dinilai terlalu tinggi. Temuan tersebut dipublikasikan dalam riset yang dirilis awal tahun ini.

"Meskipun proses ini telah sangat dilebih-lebihkan dalam alam, proses ini telah meningkat sebesar 75 persen dalam 20 tahun terakhir akibat pertanian," kata Weber.

Ketimpangan inilah yang memicu kesalahan dalam model iklim global.

Kesalahan perkiraan nitrogen disebut berdampak besar terhadap model Earth System. Model ini digunakan secara luas untuk menilai tren iklim global, sekaligus menjadi dasar laporan iklim dunia.

Baca juga: Konsentrasi Karbon Dioksida Pecahkan Rekor Tertinggi dalam 800.000 Tahun

Studi terbaru mengungkap tanaman tidak menyerap karbon dioksida (CO2) sebanyak yang diperkirakan. Mengapa?Pexels/ Mikhail Nilov Studi terbaru mengungkap tanaman tidak menyerap karbon dioksida (CO2) sebanyak yang diperkirakan. Mengapa?

Sebuah studi baru yang diterbitkan di jurnal ilmiah PNAS menunjukkan bahwa banyak model iklim terlalu optimistis. Model tersebut menganggap ketersediaan nitrogen di alam jauh lebih besar dari kondisi sebenarnya.

Adapun studi ini dipimpin oleh Sian Kou-Giesbrecht dari Simon Fraser University, Kanada. Studi tersebut merupakan bagian dari kelompok kerja fiksasi nitrogen biologis, yang mana Weber menjadi bagian di dalamnya.

Kelompok kerja tersebut juga didukung oleh US Geological Survey John Wesley Powell Centre for Analysis and Synthesis.

Menurut Weber, tim peneliti membandingkan berbagai model Earth System dengan data fiksasi nitrogen terbaru. Hasilnya cukup mencolok.

"Kami membandingkan berbagai model Earth System dengan nilai fiksasi nitrogen saat ini dan menemukan bahwa model-model tersebut melebih-lebihkan laju fiksasi nitrogen pada permukaan alami sekitar 50 persen," jelas Weber.

Baca juga: Pertamina Pangkas Emisi 1,2 Juta Ton Karbon Dioksida, 110 Persen dari Target

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau