Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pola Makan Termasuk Kunci untuk Cegah Pemanasan Global

Kompas.com, 1 Januari 2026, 18:04 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Hampir seluruh populasi dunia diproyeksikan perlu mengubah pola makan jika ingin menjaga kenaikan suhu bumi di bawah dua derajat celsius, menurut studi terbaru dari University of British Columbia, Kanada. 

Angka ini bukan perkiraan sembarangan. Temuan ini berasal dari analisis data emisi pangan global yang cukup luas, dilansir dari SciTechDaily, Kamis (1/1/2026).

Baca juga:

Studi tersebut dipimpin oleh Dr. Juan Diego Martinez saat menempuh program doktoral di Institute for Resources, Environment and Sustainability, University of British Columbia.

Ubah pola makan jika tak ingin pemanasan global terjadi

Kurangi konsumsi daging 

Hampir seluruh populasi dunia perlu mengubah pola makan jika ingin menjaga kenaikan suhu bumi di bawah dua derajat celsius. Simak selengkapnya.Dok. Freepik/jcomp Hampir seluruh populasi dunia perlu mengubah pola makan jika ingin menjaga kenaikan suhu bumi di bawah dua derajat celsius. Simak selengkapnya.

Hasil studi menunjukkan, sekitar 44 persen penduduk dunia perlu mengubah apa yang mereka makan.

Di Kanada, misalnya, angkanya bahkan lebih ekstrem. Setidaknya 90 persen warga Kanada harus menyesuaikan pola makan mereka agar tidak melampaui batas emisi yang aman.

Angka ini disebut masih konservatif. Data yang digunakan berasal dari tahun 2012. Sejak saat itu, populasi global terus bertambah dan emisi gas rumah kaca juga terus meningkat.

Proyeksi tahun 2050 menunjukkan bahwa sekitar 90 persen manusia kemungkinan harus mengubah pola makan mereka.

Para peneliti menganalisis data dari 112 negara yang mewakili 99 persen emisi gas rumah kaca dari sektor pangan global. Setiap negara dibagi ke dalam 10 kelompok pendapatan.

Dari titik tersebut, tim menghitung anggaran emisi pangan per orang. Perhitungan ini mencakup konsumsi makanan, produksi pangan, dan rantai pasoknya.

Hasilnya kemudian dibandingkan dengan batas maksimum emisi yang masih bisa ditoleransi bumi agar pemanasan global tetap di bawah dua derajat celsius, berdasarkan tujuan dari Perjanjian Paris.

Baca juga:

Sistem pangan menyumbang emisi besar

Hampir seluruh populasi dunia perlu mengubah pola makan jika ingin menjaga kenaikan suhu bumi di bawah dua derajat celsius. Simak selengkapnya.Dok. Freepik/timolina Hampir seluruh populasi dunia perlu mengubah pola makan jika ingin menjaga kenaikan suhu bumi di bawah dua derajat celsius. Simak selengkapnya.

Salah satu temuan penting dari studi ini adalah peran sistem pangan dalam krisis iklim. Lebih dari sepertiga emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia berasal dari sistem pangan.

Studi juga menemukan ketimpangan besar. Sekitar 15 persen kelompok penghasil emisi pangan tertinggi menyumbang 30 persen total emisi pangan global. Jumlah ini setara dengan gabungan emisi dari 50 persen populasi terbawah.

Kelompok dengan emisi tertinggi ini berasal dari individu kaya di negara dengan emisi tinggi, termasuk Brasil dan Australia.

Namun, masalahnya tidak berhenti di titik itu. Tidak sedikit orang di luar kelompok kaya juga mengonsumsi makanan melebihi batas emisi yang direkomendasikan.

Oleh sebab itu, perubahan pola makan tidak hanya menjadi tanggung jawab segelintir orang. 

Salah satu penyumbang emisi terbesar dari sektor pangan adalah daging sapi. Di Kanada, daging sapi menyumbang 43 persen emisi pangan rata-rata per orang.

Martinez menjelaskan bahwa jika komitmen dalam Protokol Kyoto dijalankan dengan konsisten sejak awal, konsumsi daging sapi mungkin tak menjadi masalah sebesar saat ini.

Sebagai informasi, dilaporkan oleh Kompas.com, Senin (10/2/2025), seekor sapi diperkirakan bisa mengeluarkan sekitar 70 kilogram gas metana ke atmosfer setiap tahunnya.

Namun, kondisi saat ini dinilai berbeda. Emisi pangan harus ikut ditekan agar dampak terburuk perubahan iklim bisa dihindari.

Martinez mengakui bahwa hal tersebut tidaklah mudah. 

"Saya dibesarkan di Amerika Latin, di mana makan banyak daging sapi merupakan bagian dari budaya, jadi saya mengerti betapa sulitnya permintaan ini," tutur Martinez. 

Baca juga: Lahan Gambut Dunia jadi Garis Depan Lawan Perubahan Iklim

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Pemerintah
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pemerintah
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
LSM/Figur
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Pemerintah
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Pemerintah
Cetak Rekor, El Niño Saat Ini Resmi Jadi Yang Terkuat dalam Sejarah
Cetak Rekor, El Niño Saat Ini Resmi Jadi Yang Terkuat dalam Sejarah
Pemerintah
Tekan Risiko Kebakaran Gambut, Sinergi Lintas Sektor di Cengal Diperkuat
Tekan Risiko Kebakaran Gambut, Sinergi Lintas Sektor di Cengal Diperkuat
Pemerintah
Pulihkan Pelayanan Pascabencana Sumatera, Kemendagri Konsolidasi Satu Data Desa
Pulihkan Pelayanan Pascabencana Sumatera, Kemendagri Konsolidasi Satu Data Desa
Pemerintah
APBN Harus Punya Alokasi Khusus Pemulihan dan Penanggulangan Bencana Iklim
APBN Harus Punya Alokasi Khusus Pemulihan dan Penanggulangan Bencana Iklim
LSM/Figur
Pemerintah Bersama Mercy Corps dan DBS Foundation Perkuat Literasi Finansial bagi Perempuan Pemilik UMKM
Pemerintah Bersama Mercy Corps dan DBS Foundation Perkuat Literasi Finansial bagi Perempuan Pemilik UMKM
Pemerintah
Dampak Ekspansi Panel Surya China, Keanekaragaman Burung Turun
Dampak Ekspansi Panel Surya China, Keanekaragaman Burung Turun
Pemerintah
Dari Limbah Jadi Material Masa Depan, MYCL dan Parongpong Bangun Ekonomi Sirkular
Dari Limbah Jadi Material Masa Depan, MYCL dan Parongpong Bangun Ekonomi Sirkular
Swasta
Biaya Transportasi dan Masalah Ekonomi Hambat Distribusi Pangan Dunia
Biaya Transportasi dan Masalah Ekonomi Hambat Distribusi Pangan Dunia
Pemerintah
Startup MYCL Ubah Limbah Pertanian Jadi Biomaterial Pengganti Plastik
Startup MYCL Ubah Limbah Pertanian Jadi Biomaterial Pengganti Plastik
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau