Penulis
KOMPAS.com - Jika rata-rata suhu Bumi naik melampaui 1,5 derajat celsius, seberapa pun besarnya kerja keras penyerapan karbon dioksida di atmosfer tidak akan lagi berguna.
Metode penyerapan karbon dioksida atau CDR yang dimaksud meliputi upaya berbasis alam sepeti penyerapan emisi oleh hutan atau alga atau upaya artifisial contohnya menangkap karbon dioksida dari udara.
Temuan tersebut mengemuka dalam penelitian terbaru Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim atau IPCC yang dipublikasikan di jurnal Nature, Rabu (9/10/2024), sebagaimana dilansir Reuters.
Baca juga: Emisi Karbon Naik 50.000 persen Akhir Abad Ini Akibat Hutan Mangrove Rusak
Dalam penelitian tersebut, kenaikan rata-rata suhu Bumi lebih dari 1,5 derajat celsius akan membuat perubahan iklim meninggalkan dampak permanen.
Beberapa dampak dari perubahan iklim sangat beragam mulai dari kenaikan permukaan laut hingga perubahan sirkulasi laut.
"Bahkan jika Anda telah menurunkan suhu lagi, dunia yang akan kita lihat tidak akan sama," kata Carl-Friedrich Schleussner dari International Institute of Applied Systems Austria, salah satu peneliti yang terlibat dalam studi tersebut.
Penelitian tersebut, upaya mengurangi karbon dioksida bisa lebih sulit lagi jika suhu Bumi naik lebih jauh setelah ambang batas terlewati.
Baca juga: Komitmen Netral Karbon, Kompas.com akan Tanam 5.000 Mangrove di Subang
Hal itu karena pemanasan global dan perubahan iklim sudah telanjur mencairkan lapisan es dan menyusutkan lahan gambut.
Berbagai dampak tersebut mengakibatkan lebih banyak lagi metana yang lepas ke atmosfer dan memicu pemanasan global yang lebih parah.
Kapasitas CDR yang ada saat ini disebut menyerap sekitar 2 miliar metrik ton karbon dioksida dari atmosfer setiap tahun.
Menurut penelitian terpisah yang diterbitkan pada Juni, kapasitas CDR harus dilipatgandakan menjadi sekitar 7 miliar hingga 9 miliar ton untuk mencegah suhu Bumi naik melampaui ambang batas.
Baca juga: Studi Sebut Pemilik Kendaraan Listrik Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Namun, Joeri Rogelj dari Imperial College London menuturkan, sangat tidak logis untuk mengubah semua tempat di Bumi menjadi hutan baru untuk menyerap karbon dioksida.
Di sisi lain, teknologi artifisial untuk menyerap karbon saat ini masih sangat mahal.
"Jika kita mulai menggunakan lahan secara eksklusif untuk pengelolaan karbon, ini dapat sangat bertentangan dengan peran penting lahan lainnya, baik itu keanekaragaman hayati (atau) produksi pangan," kata Rogelj.
"Risiko yang dihadapi dunia akibat kelebihan emisi jauh lebih besar daripada yang diketahui," katanya.
Baca juga: Wali Asuh Mangrove, Bentuk Tanggung Jawab Kompas.com atas Emisi Karbon yang Dihasilkan
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya