KOMPAS.com - Kepala Bidang Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Simon Stiell mengkritik keputusan Amerika Serikat (AS) yang menarik diri dari 66 organisasi internasional. Presiden AS, Donald Trump juga menghentikan pendanaan untuk berbagai organisasi di bawah PBB dan non-PBB.
Stiell menilai, langkah itu sebagai kesalahan besar yang hanya akan merugikan AS.
Baca juga:
"Keputusan Trump hanya akan merugikan perekonomian AS, lapangan kerja, dan standar hidup. Ini adalah kesalahan besar yang akan membuat Amerika Serikat menjadi kurang aman dan kurang sejahtera,” kata Stiell, dilansir dari AFP, Jumat (9/1/2026).
Dalam Momerandum Presiden yang terbit Rabu (7/1/2026), Trump memerintahkan penarikan diri dari 66 organisasi serta perjanjian global, yang separuhnya berafiliasi dengan PBB.
Pasalnya, organisasi itu dianggap bertentangan dengan kepentingan Amerika Serikat.
Salah satu kebijakan yang paling disorot adalah pengunduran diri sebagai anggota United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), landasan utama semua perjanjian iklim internasional.
Executive Secretary of the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), Simon Stiell, bersama Ketua FPCI, Dino Patti Djalal, Sabtu (26/7/2025). Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres pun menyesalkan keputusan AS untuk menarik diri dari berbagai badan internasional, tanpa menyebut satu organisasi tertentu.
“Perserikatan Bangsa-Bangsa memiliki tanggung jawab untuk memberikan hasil bagi mereka yang bergantung pada kami, dan kami akan terus menjalankan mandat kami dengan tekad,” ucap Guterres.
Dia lantas mengingatkan negara-negara anggota tentang kewajiban hukum mereka mendanai PBB.
Baca juga:
Langkah Donald Trump menarik Amerika Serikat dari organisasi internasional, termasuk UNFCCC, menuai kritik berbagai pihak, termasuk PBB. Di sisi lain, Jake Schmidt dari Natural Resources Defense Council mewanti-wanti keputusan Trump bakal mengisolasi negaranya sendiri panggung global.
“Sangat penting Amerika Serikat menjadi peserta dan secara aktif berupaya mengurangi perubahan iklim. Ini (Amerika) adalah ekonomi terbesar di dunia, sekaligus pengemisi historis terbesar,” sebut Schmidt.
Langkah tersebut bakal mencatatkan AS sebagai negara pertama dari 198 anggota yang keluar dari perjanjian iklim global.
Sebagai informasi, UNFCCC merupakan perjanjian yang diadopsi pada tahun 1992, sebuah bentukkerja sama antar-negara untuk memangkas emisi gas rumah kaca pemicu pemanasan global. Setiap anggota juga berkomitmen beradaptasi dengan dampak perubahan iklim.
Konstitusi AS mengizinkan presiden untuk membuat perjanjian dengan syarat dua pertiga senator yang hadir menyetujuinya, tapi tidak secara jelas mengatur proses penarikan diri dari perjanjian.
Hal ini menjadi ambiguitas hukum yang berpotensi memicu gugatan di pengadilan.
Baca juga: IESR Sebut Impor Minyak Indonesia Tak Terdampak Konflik AS-Venezuela
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya