Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa AS Ingin Membeli Greenland? Keamanan hingga Cadangan Mineral

Kompas.com, 8 Januari 2026, 13:52 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dan para pejabat lainnya berulang kali membahas tentang membeli Greenland, wilayah semi-otonomi di utara bumi yang dimiliki Denmark.

"Hal itu (membeli Greenland) saat ini sedang aktif dibahas oleh Presiden (Trump) dan tim keamanan nasionalnya," ujar juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, dilansir dari BBC, Kamis (8/1/2026).

Baca juga:

Pihak Greenland dan Denmark berkali-kali menegaskan bahwa pulau itu tidak untuk dijual. AS membuka semua opsi untuk memperoleh Greenland, termasuk menggunakan kekuatan militer.

Hal itu ditambah dengan Trump yang telah secara sepihak menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, dan menguasai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia itu.

"Opsi pertama Trump selalu diplomasi," tutur Leavitt.

Mengapa Amerika Serikat ingin membeli Greenland?

Donald Trump. AS keluar dari 66 organisasi internasional.GETTY IMAGES NORTH AMERICA/JOE RAEDLE via AFP Donald Trump. AS keluar dari 66 organisasi internasional.

Bulan lalu, sebelum pasukan AS menyerang Venezuela, Trump mengatakan bahwa pihaknya memerlukan Greenland.

"Kami membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional," ucap Trump kala itu. 

Setelah serangan AS ke Venezuela, Eropa mulai menanggapi Trump dengan serius. Pada Selasa (6/1/2025), para pemimpin Denmark, Perancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris Raya menanggapinya dalam pernyataan bersama.

Mereka menyatakan, keamanan di wilayah Arktik harus dicapai melalui kerja sama sekutu NATO, serta menegaskan kembali kedaulatan Greenland.

Di balik alasan keamanan, motif sebenarnya Trump ingin menguasai Greenland dipertanyakan ulang, mengingat AS disebut menguasai Venezuela untuk memperoleh cadangan minyaknya.

Baca juga:

Greenland punya cadangan minyak dan gas

Greenland disebut penting bagi keamanan Amerika Serikat. Cadangan mineral langka dan krisis iklim membuatnya diincar.UNSPLASH/VISIT GREENLAND Greenland disebut penting bagi keamanan Amerika Serikat. Cadangan mineral langka dan krisis iklim membuatnya diincar.

Berdasarkan Survei Geologi AS, Greenland memiliki cadangan minyak dan gas yang belum ditemukan dalam jumlah signifikan. Greenland juga mempunyai cadangan mineral tanah jarang terbesar kedelapan di dunia.

AS disebut telah mengamankan akses ke mineral-mineral itu sebagai prioritas utama karena dominasi China dalam rantai pasokan banyak logam penting.

Namun, iklim Greenland yang keras, lokasinya yang terpencil, serta hukum dan peraturan lingkungan membuat sebagian besar sumber daya alamnya sulit, atau bahkan tidak mungkin diekstraksi.

Greenland melarang eksplorasi minyak dan gas lepas pantai baru pada tahun 2021, dengan krisis iklim sebagai alasan utamanya.

Sebelum dilarang Greenland, sebuah perusahaan Inggris mendapatkan beberapa izin pengeboran aktif di satu area lepas pantai itu. Perusahaan tersebut saat ini sedang bekerja sama dengan industri minyak dan gas di AS untuk pengeboran, meski belum ada kegiatan produksi.

"Cadangan mineral pulau itu telah menarik minat lebih besar dari perusahaan asing, tapi perusahaan-perusahaan tersebut menghadapi hambatan yang cukup besar," ujar Sekretaris Tetap Kementerian Bisnis, Sumber Daya Mineral, Energi, Keadilan, dan Kesetaraan Gender Greenland, Jørgen Hammeken-Holm, dilansir dari Inside Climate News.

Selain itu, perusahaan yang telah memperoleh izin mengeksplorasi salah satu cadangan mineral Greenland lebih dari satu dekade lalu, sudah dilarang mengaksesnya sejak tahun 2021.

Pelarangan penambangan uranium yang bercampur dengan mineral tanah jarang menjadi pembatasan baru setelah warga lokal khawatir dengan polusi radioaktif dari aktivitas ekstraktif tersebut.

Cadangan mineral lainnya, logam tanah jarang yang telah dilisensikan kepada perusahaan milik AS. Proyek itu menghadapi kendala dan belum berproduksi karena kesulitan memproses mineral usai diekstraksi.

Aturan lingkungan memang akan mencegah dampak buruk dari kegiatan pertambangan. Namun, kata dia, sampai saat ini, sebagian besar proyek gagal untuk maju karena kurangnya pendanaan.

Menurut Hammeken-Holm, negara-negara Eropa lebih vokal menyatakan minat mereka untuk pertambangan di Greenland.

Amerika Serikat bersikap dingin kepada kami selama setahun terakhir sejak Trump menjabat," ucapnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau