Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemakaian Obat Kutu Hewan Bisa Berdampak pada Lingkungan

Kompas.com, 14 Januari 2026, 15:32 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Obat-obatan yang umum digunakan untuk membasmi kutu dan caplak pada anjing dan kucing bisa menimbulkan risiko lingkungan yang signifikan bagi serangga di alam liar, menurut penelitian terbaru di jurnal Environmental Toxicology and Chemistry. 

Obat anti parasit isoxazoline disebut sebagai jenis obat baru yang digunakan oleh dokter hewan untuk mengobati hewan peliharaan guna mengendalikan kutu dan caplak, dilansir dari Phys.org, Rabu (14/1/2026).

Baca juga:

Pertama kali diluncurkan pada tahun 2013, obat ini menjadi populer karena disebut sebagai obat oral pertama yang efektif melawan kutu dan caplak selama sebulan atau lebih. Anjing dan kucing mengeluarkan obat tersebut melalui feses.

Waspada obat anti kutu untuk hewan peliharaan

Kekhawatiran berdampak pada spesies non-target

Obat yang umum digunakan untuk membasmi kutu pada hewan peliharaan bisa menimbulkan risiko lingkungan bagi serangga di alam bebas.shutterstock Obat yang umum digunakan untuk membasmi kutu pada hewan peliharaan bisa menimbulkan risiko lingkungan bagi serangga di alam bebas.

European Medicines Agency (Badan Obat-obatan Eropa) telah menyoroti risiko penggunaan obat tersebut karena mencemari ekosistem, meskipun data tentang pelepasan ke lingkungan masih terbatas.

Tidak hanya itu, terdapat kekhawatiran akan potensi kontaminasi lingkungan dan dampak parasitisida hewan terhadap spesies non-target.

Saat ini, studi terbaru menunjukkan bahwa hewan peliharaan memindahkan bahan pembasmi kutu dan caplak tersebut ke lingkungan melalui kotoran, urie, atau bulu mereka yang rontok yang dapat berdampak pada hewan lain.

Terdapat kekhawatiran bahwa paparan obat tersebut dapat membunuh serangga pemakan kotoran, termasuk lalat, kumbang kotoran, dan beberapa kupu-kupu yang penting untuk siklus nutrisi, kesehatan tanah, dan pengendalian hama.

Hal itu terjadi ketika hewan-hewan itu mengonsumsi feses anjing dan kucing yang diobati dengan obat-obatan tersebut. 

Baca juga:

Obat yang umum digunakan untuk membasmi kutu pada hewan peliharaan bisa menimbulkan risiko lingkungan bagi serangga di alam bebas.Unsplash/szamanm Obat yang umum digunakan untuk membasmi kutu pada hewan peliharaan bisa menimbulkan risiko lingkungan bagi serangga di alam bebas.

Temuan ini didapat setelah para peneliti mempelajari 20 anjing dan 20 kucing milik mahasiswa kedokteran hewan yang diobati dengan obat anti parasit isoxazoline selama periode tiga bulan.

Peneliti kemudian mengumpulkan sampel feses dari hewan peliharaan tersebut. Tujuannya untuk menentukan potensi paparan serangga pemakan kotoran terhadap bahan kimia beracun itu.

Selanjutnya, para peneliti menganalisis embuangan isoxazoline melalui feses pada anjing dan kucing. Mereka mendeteksi dua dari empat zat aktif dalam obat antiparasit isoxazoline pada kotoran hewan peliharaan, bahkan setelah periode perawatan yang direkomendasikan berakhir.

Penilaian risiko lingkungan akhirnya menunjukkan bahwa serangga pemakan kotoran dapat terpapar bahan pembasmi parasit isoxazoline secara intens akibat pengobatan hewan peliharaan, dengan konsekuensi yang berpotensi menimbulkan bencana bagi siklus hidup lingkungan.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
LSM/Figur
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
LSM/Figur
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
LSM/Figur
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
LSM/Figur
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Pemerintah
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
LSM/Figur
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
LSM/Figur
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas 'Waste to Energy' Danantara
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas "Waste to Energy" Danantara
Pemerintah
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
LSM/Figur
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
LSM/Figur
Siswa MAN 1 Kendari Olah Limbah Kulit Udang dan Kepiting Jadi Kemasan Ramah Lingkungan
Siswa MAN 1 Kendari Olah Limbah Kulit Udang dan Kepiting Jadi Kemasan Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Jakarta Utara Harus Jadi Model Pengelolaan Sampah Nasional, Ini Alasannya
Jakarta Utara Harus Jadi Model Pengelolaan Sampah Nasional, Ini Alasannya
Pemerintah
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Pemerintah
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau