KOMPAS.com - Obat-obatan yang umum digunakan untuk membasmi kutu dan caplak pada anjing dan kucing bisa menimbulkan risiko lingkungan yang signifikan bagi serangga di alam liar, menurut penelitian terbaru di jurnal Environmental Toxicology and Chemistry.
Obat anti parasit isoxazoline disebut sebagai jenis obat baru yang digunakan oleh dokter hewan untuk mengobati hewan peliharaan guna mengendalikan kutu dan caplak, dilansir dari Phys.org, Rabu (14/1/2026).
Baca juga:
Pertama kali diluncurkan pada tahun 2013, obat ini menjadi populer karena disebut sebagai obat oral pertama yang efektif melawan kutu dan caplak selama sebulan atau lebih. Anjing dan kucing mengeluarkan obat tersebut melalui feses.
Obat yang umum digunakan untuk membasmi kutu pada hewan peliharaan bisa menimbulkan risiko lingkungan bagi serangga di alam bebas.European Medicines Agency (Badan Obat-obatan Eropa) telah menyoroti risiko penggunaan obat tersebut karena mencemari ekosistem, meskipun data tentang pelepasan ke lingkungan masih terbatas.
Tidak hanya itu, terdapat kekhawatiran akan potensi kontaminasi lingkungan dan dampak parasitisida hewan terhadap spesies non-target.
Saat ini, studi terbaru menunjukkan bahwa hewan peliharaan memindahkan bahan pembasmi kutu dan caplak tersebut ke lingkungan melalui kotoran, urie, atau bulu mereka yang rontok yang dapat berdampak pada hewan lain.
Terdapat kekhawatiran bahwa paparan obat tersebut dapat membunuh serangga pemakan kotoran, termasuk lalat, kumbang kotoran, dan beberapa kupu-kupu yang penting untuk siklus nutrisi, kesehatan tanah, dan pengendalian hama.
Hal itu terjadi ketika hewan-hewan itu mengonsumsi feses anjing dan kucing yang diobati dengan obat-obatan tersebut.
Baca juga:
Obat yang umum digunakan untuk membasmi kutu pada hewan peliharaan bisa menimbulkan risiko lingkungan bagi serangga di alam bebas.
Temuan ini didapat setelah para peneliti mempelajari 20 anjing dan 20 kucing milik mahasiswa kedokteran hewan yang diobati dengan obat anti parasit isoxazoline selama periode tiga bulan.
Peneliti kemudian mengumpulkan sampel feses dari hewan peliharaan tersebut. Tujuannya untuk menentukan potensi paparan serangga pemakan kotoran terhadap bahan kimia beracun itu.
Selanjutnya, para peneliti menganalisis embuangan isoxazoline melalui feses pada anjing dan kucing. Mereka mendeteksi dua dari empat zat aktif dalam obat antiparasit isoxazoline pada kotoran hewan peliharaan, bahkan setelah periode perawatan yang direkomendasikan berakhir.
Penilaian risiko lingkungan akhirnya menunjukkan bahwa serangga pemakan kotoran dapat terpapar bahan pembasmi parasit isoxazoline secara intens akibat pengobatan hewan peliharaan, dengan konsekuensi yang berpotensi menimbulkan bencana bagi siklus hidup lingkungan.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya