Penulis
KOMPAS.com - Pertanian bisa menghasilkan lebih banyak pangan tanpa mempercepat krisis iklim, menurut temuan terbaru ilmuwan dari Cornell University dan Joint Research Centre (JRC) milik Komisi Eropa.
Dipublikasikan di jurnal Science Advances, menunjukkan bahwa produktivitas lahan pertanian yang semakin tinggi menjadi faktor utama melambatnya pertumbuhan emisi sektor pertanian secara global.
Baca juga:
"Ada tujuan lingkungan yang dapat dicapai sambil meningkatkan produktivitas," kata penulis utama Ariel Ortiz-Bobea, associate professor di Dyson School of Applied Economics and Management, di Cornell S.C. Johnson College of Business, Ariel Ortiz-Bobea, dilansir dari Phys.org, Sabtu (17/1/2026).
''Kita harus melihat lebih seksama cara termurah dan paling efisien untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, dan apa yang kita lihat masa lalu adalah bahwa peningkatan produktivitas juga menjadi pendorong utama dalam mengendalikan emisi," imbuh dia.
Para peneliti menganalisis data pertanian dunia dari periode 1961 hingga 2021. Hasilnya menunjukkan, ketika petani mampu menghasilkan output lebih besar dari setiap unit input, emisi dapat ditekan meski produksi terus naik.
Sejak tahun 1961, produksi pertanian global memang terus meningkat. Namun, laju pertumbuhannya tidak sejalan dengan kenaikan emisi.
Dalam periode enam dekade tersebut, produktivitas pertanian global meningkat hingga 270 persen. Sementara itu, emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian hanya naik sekitar 45 persen.
Baca juga:
Studi global mengungkap produktivitas pertanian tinggi mampu menahan pertumbuhan emisi gas rumah kaca.Meski pertumbuhannya melambat, sektor pertanian tetap menjadi penyumbang besar emisi global.
Pertanian dan perubahan penggunaan lahan menyumbang sekitar seperlima dari total emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia. Maka dari itu, pengurangan emisi tetap dibutuhkan untuk menahan laju pemanasan global.
Penelitian ini mencoba menjawab pertanyaan besar soal mengapa produksi pertanian meningkat jauh lebih cepat dibanding emisinya.
Ortiz-Bobea bersama Simone Pieralli, ekonom pertanian dari JRC, menemukan bahwa produktivitas output per unit input menjadi faktor paling dominan.
Artinya, hal yang paling berpengaruh adalah seberapa efisien input tersebut diubah menjadi hasil, tidak hanya jumlah lahan atau tenaga kerja yang menentukan.
Peneliti menilai banyak riset sebelumnya terlalu fokus pada jumlah produksi atau kalori. Padahal dalam statistik nasional, yang diukur adalah nilai ekonomi.
"Kalori memang penting, tapi ketika kita membicarakan statistik nasional, mereka tidak mengukur kalori, melainkan mengukur nilai," ucap Ortiz-Bobea.
"Berapa banyak nilai yang kita hasilkan? Berapa banyak modal, bahan baku, dan tenaga kerja yang kita gunakan dalam prosesnya? Dan berapa banyak gas rumah kaca yang dihasilkan sebagai produk sampingan? Kami ingin menghubungkan ide-ide ini dan memasukkannya ke dalam kerangka kerja yang sama," lanjut dia.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya