KOMPAS.com - Studi baru dari Queensland University of Technology (QUT) mengungkapkan lahan pertanian dunia ternyata bisa menjadi salah satu alat yang digunakan untuk melawan perubahan iklim.
Makalah yang dipublikasikan di Plant Physiology ini menyajikan kerangka kerja untuk menilai bagaimana inovasi pertanian tanaman dan biologi sintetik dapat membantu memitigasi perubahan iklim dengan memotong emisi gas rumah kaca dan meningkatkan penyimpanan karbon.
Penulis utama, Profesor Claudia Vickers, dari QUT mengungkapkan meski pertanian saat ini bagian dari masalah iklim, namun ukurannya yang luas membuatnya juga menjadi bagian kuat dari solusi iklim.
Profesor Vickers berpendapat bahwa perubahan atau inovasi kecil yang diterapkan secara luas di sektor pertanian akan memiliki dampak positif kumulatif yang masif pada skala global untuk mitigasi iklim.
Baca juga: Krisis Iklim dan Penggunaan Pestisida di Pertanian Ancam Populasi Kupu-Kupu
"Lahan pertanian global diperkirakan menangkap lebih dari 115 gigaton karbon dioksida setiap tahun melalui fotosintesis," ujarnya.
"Bahkan peningkatan sederhana dalam cara tanaman menangkap, menggunakan, dan menyimpan karbon tersebut, jika diterapkan di seluruh lahan pertanian yang ada, dapat memberikan manfaat iklim yang sangat besar," terangnya Vickers seperti dikutip dari Phys, Rabu (26/11/2025).
Tindakan paling mendesak dan efektif yang dapat dilakukan sektor pertanian untuk mitigasi iklim adalah mengurangi penggunaan pupuk nitrogen buatan.
Langkah ini memiliki potensi luar biasa besar untuk mengurangi emisi dengan dampak yang relatif cepat.
Dalam jangka panjang, pendekatan biologi sintetik juga secara kolektif dapat berkontribusi hingga 260 gigaton setara karbon dioksida selama satu abad mendatang.
Lebih lanjut, keberhasilan mitigasi iklim melalui pertanian tidak hanya ditentukan oleh seberapa efisien suatu teknologi, melainkan oleh seberapa luas teknologi tersebut dapat disebarluaskan.
Oleh karena itu, para ahli menekankan bahwa pendekatan komprehensif yang melibatkan banyak intervensi secara bersamaan adalah satu-satunya cara untuk mengatasi masalah ini.
Baca juga: FAO Masukkan Salak Bali Dalam Daftar Warisan Pertanian Baru
Profesor Vickers mengatakan bahwa intervensi yang berhasil harus layak secara teknis, layak secara ekonomi, berkelanjutan, dan terukur, sekaligus memastikan kerusakan minimal terhadap ekosistem.
Meningkatkan penyerapan karbon pertanian juga membantu mewujudkan prioritas pangan, pakan, dan serat, serta pendapatan dan keamanan petani.
Hal ini menjadikan solusi-solusi ini sebagai solusi yang mengutamakan tiga tujuan utama yakni menangani dampak sosial, lingkungan, dan ekonomi.
"Pertanian memiliki posisi unik untuk menyediakan pangan dunia sekaligus memerangi perubahan iklim. Namun, kita perlu berfokus pada intervensi yang dapat memberikan hasil yang bermakna dan terukur. Pekerjaan kami menyediakan peta jalan untuk mewujudkan hal tersebut," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya