Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lahan Pertanian Bisa Jadi Kunci Melawan Perubahan Iklim

Kompas.com, 27 November 2025, 20:45 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Studi baru dari Queensland University of Technology (QUT) mengungkapkan lahan pertanian dunia ternyata bisa menjadi salah satu alat yang digunakan untuk melawan perubahan iklim.

Makalah yang dipublikasikan di Plant Physiology ini menyajikan kerangka kerja untuk menilai bagaimana inovasi pertanian tanaman dan biologi sintetik dapat membantu memitigasi perubahan iklim dengan memotong emisi gas rumah kaca dan meningkatkan penyimpanan karbon.

Penulis utama, Profesor Claudia Vickers, dari QUT mengungkapkan meski pertanian saat ini bagian dari masalah iklim, namun ukurannya yang luas membuatnya juga menjadi bagian kuat dari solusi iklim.

Profesor Vickers berpendapat bahwa perubahan atau inovasi kecil yang diterapkan secara luas di sektor pertanian akan memiliki dampak positif kumulatif yang masif pada skala global untuk mitigasi iklim.

Baca juga: Krisis Iklim dan Penggunaan Pestisida di Pertanian Ancam Populasi Kupu-Kupu

"Lahan pertanian global diperkirakan menangkap lebih dari 115 gigaton karbon dioksida setiap tahun melalui fotosintesis," ujarnya.

"Bahkan peningkatan sederhana dalam cara tanaman menangkap, menggunakan, dan menyimpan karbon tersebut, jika diterapkan di seluruh lahan pertanian yang ada, dapat memberikan manfaat iklim yang sangat besar," terangnya Vickers seperti dikutip dari Phys, Rabu (26/11/2025).

Tindakan paling mendesak dan efektif yang dapat dilakukan sektor pertanian untuk mitigasi iklim adalah mengurangi penggunaan pupuk nitrogen buatan.

Langkah ini memiliki potensi luar biasa besar untuk mengurangi emisi dengan dampak yang relatif cepat.

Dalam jangka panjang, pendekatan biologi sintetik juga secara kolektif dapat berkontribusi hingga 260 gigaton setara karbon dioksida selama satu abad mendatang.

Lebih lanjut, keberhasilan mitigasi iklim melalui pertanian tidak hanya ditentukan oleh seberapa efisien suatu teknologi, melainkan oleh seberapa luas teknologi tersebut dapat disebarluaskan.

Oleh karena itu, para ahli menekankan bahwa pendekatan komprehensif yang melibatkan banyak intervensi secara bersamaan adalah satu-satunya cara untuk mengatasi masalah ini.

Baca juga: FAO Masukkan Salak Bali Dalam Daftar Warisan Pertanian Baru

Profesor Vickers mengatakan bahwa intervensi yang berhasil harus layak secara teknis, layak secara ekonomi, berkelanjutan, dan terukur, sekaligus memastikan kerusakan minimal terhadap ekosistem.

Meningkatkan penyerapan karbon pertanian juga membantu mewujudkan prioritas pangan, pakan, dan serat, serta pendapatan dan keamanan petani.

Hal ini menjadikan solusi-solusi ini sebagai solusi yang mengutamakan tiga tujuan utama yakni menangani dampak sosial, lingkungan, dan ekonomi.

"Pertanian memiliki posisi unik untuk menyediakan pangan dunia sekaligus memerangi perubahan iklim. Namun, kita perlu berfokus pada intervensi yang dapat memberikan hasil yang bermakna dan terukur. Pekerjaan kami menyediakan peta jalan untuk mewujudkan hal tersebut," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Atasi Emisi, Koalisi Perusahaan Luncurkan Superpollutant Action Initiative
Atasi Emisi, Koalisi Perusahaan Luncurkan Superpollutant Action Initiative
Pemerintah
Karhutla Landa 5 Desa di Kalbar, Luasnya Capai 17 Hektar
Karhutla Landa 5 Desa di Kalbar, Luasnya Capai 17 Hektar
Pemerintah
 50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis
50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis
Pemerintah
KPAI: Pembatasan Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Cegah Pornografi hingga Cyberbullying
KPAI: Pembatasan Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Cegah Pornografi hingga Cyberbullying
Pemerintah
Bumi Memanas Dua Kali Lipat Lebih Cepat dari Dekade Sebelumnya
Bumi Memanas Dua Kali Lipat Lebih Cepat dari Dekade Sebelumnya
Pemerintah
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut, BMKG Pantau Tiga Bibit Siklon Tropis di Selatan RI
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut, BMKG Pantau Tiga Bibit Siklon Tropis di Selatan RI
Pemerintah
Gelombang Panas Makin Sering, Risiko Kekeringan Mendadak Ikut Meningkat
Gelombang Panas Makin Sering, Risiko Kekeringan Mendadak Ikut Meningkat
LSM/Figur
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau