Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim dan Penggunaan Pestisida di Pertanian Ancam Populasi Kupu-Kupu

Kompas.com, 10 November 2025, 16:37 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Krisis iklim dan tekanan lingkungan di perkotaan dan kawasan pertanian dengan penggunaan pestisida secara terus-menerus dalam jangka panjang, mengancam populasi kupu-kupu.

Sebagai bioindikator kelestarian suatu lingkungan, kupu-kupu sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan habitat.

Kupu-kupu tidak akan menghisap nutrisi pada tanah basah di lingkungan yang tercemar polutan atau mekanisme air sampai udara dalam ekosistemnya terganggu. Bahkan, krisis iklim berdampak terhadap seluruh fase metamorfosis kupu-kupu. Khususnya, pada fase telur.

Baca juga: 20 Tahun Terakhir, Kupu-kupu Kian Langka, Tanda Bahaya untuk Kita

Induk kupu-kupu berusaha meletakkan telurnya di tempat tersembunyi untuk menghindari paparan sinar matahari dan menjauhkan dari jangkauan predator.

Misalnya, menaruh telur di bawah permukaan daun, lipatan-lipatan bunga, dan ranting, serta dititipkan di dekat tumbuhan inang.

Namun, saat terjadi kenaikan suhu akibat krisis iklim, telur akan mengalami 'dehidrasi' dan menjadi pemicu gagalnya penetasan.

Menurut penggiat konservasi kupu-kupu dari Yayasan Negeri Kupu-Kupu Lestari (Nektar), Yohannes Agus Sunarko, 'dehidrasi' juga terjadi pada fase larva dan pupa, sehingga kenaikan suhu berdampak nyata terhadap kegagalan kupu-kupu untuk melanjutkan metamorfosis.

Krisis iklim juga berdampak terhadap gangguan sikronisasi pada siklus kehidupan kupu-kupu.

"Ketidaktepatan ini pun masih memungkinkan untuk terjadi karena pihak ketiga, yaitu manusia dan fenomena nature fight back (alam melawan balik) seperti anomali kemunculan ulat dalam jumlah banyak di wilayah perkebunan, pertanian, bahkan hutan atau sekitar rumah kita," ujar Yohannes dalam webinar beberapa hari lalu.

Selain itu, krisis iklim meningkatkan frekuensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, hingga kekeringan, yang mengubah peta biodiversitas. Bencana hidrometeorologi menghancurkan eksosistem yang menjadi habitat untuk kupu-kupu.

Padahal, pemulihan habitat kupu-kupu pasca bencana hidrometeorologi membutuhkan waktu puluhan tahun dan biaya yang sangat mahal.

Krisis iklim juga berdampak terhadap fragmentasi habitat kupu-kupu. Berdasarkan evolusi timbal balik antara kupu-kupu dan tumbuhan inang, terdapat dua kategori hubungan, yaitu, spesialis dan generalis.

Untuk spesies kupu-kupu dengan kategori generalis, bisa memakan berbagai macam tumbuhan inang. Misalnya, kupu-kupu jenis Rapala manea yang dapat beradaptasi dengan lingkungan secara baik karena dapat memakan lebih dari 10 jenis tumbuhan inang.

Kemampuan bertahan hidup kupu-kupu jenis Rapala manea yang bagus memungkinkannya keluar dari fragmentasi habitat akibat krisis iklim. Sedangkan spesies kupu-kupu dengan kategori spesialis, hanya mampu memakan satu jenis tumbuhan inang.

Jika terjadi fragmentasi habitat, kupu-kupu jenis ini sangat rentan terhadap ancaman kepnuhan karena tidak memiliki pilihan untuk memakan tumbuhan lain.

Baca juga: Studi Ungkap, Ruang Hijau di Tepi Jalan Tingkatkan Keragaman Kupu-Kupu

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
LSM/Figur
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
Swasta
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
LSM/Figur
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
LSM/Figur
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
Swasta
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
Pemerintah
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Pemerintah
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Pemerintah
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
Swasta
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Swasta
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
LSM/Figur
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
LSM/Figur
THR Tak Bikin Daya Beli Masyarakat Naik, Ahli Jelaskan Penyebabnya
THR Tak Bikin Daya Beli Masyarakat Naik, Ahli Jelaskan Penyebabnya
LSM/Figur
Mikroba Laut Dalam Jadi Sekutu Hadapi Perubahan Iklim
Mikroba Laut Dalam Jadi Sekutu Hadapi Perubahan Iklim
Pemerintah
Pulihkan Kualitas Air, 7.000 Liter Eco Enzyme Dituangkan ke Sungai Jeletreng Tangsel
Pulihkan Kualitas Air, 7.000 Liter Eco Enzyme Dituangkan ke Sungai Jeletreng Tangsel
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau