Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pertanian yang Produktif Bisa Menekan Laju Emisi Gas Rumah Kaca

Kompas.com, 17 Januari 2026, 23:03 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Pertanian bisa menghasilkan lebih banyak pangan tanpa mempercepat krisis iklim, menurut temuan terbaru ilmuwan dari Cornell University dan Joint Research Centre (JRC) milik Komisi Eropa.

Dipublikasikan di jurnal Science Advances, menunjukkan bahwa produktivitas lahan pertanian yang semakin tinggi menjadi faktor utama melambatnya pertumbuhan emisi sektor pertanian secara global.

Baca juga:

"Ada tujuan lingkungan yang dapat dicapai sambil meningkatkan produktivitas," kata penulis utama Ariel Ortiz-Bobea, associate professor di Dyson School of Applied Economics and Management, di Cornell S.C. Johnson College of Business, Ariel Ortiz-Bobea, dilansir dari Phys.org, Sabtu (17/1/2026).

''Kita harus melihat lebih seksama cara termurah dan paling efisien untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, dan apa yang kita lihat masa lalu adalah bahwa peningkatan produktivitas juga menjadi pendorong utama dalam mengendalikan emisi," imbuh dia. 

Produktivitas pertanian tinggi bisa tekan laju emisi global

Para peneliti menganalisis data pertanian dunia dari periode 1961 hingga 2021. Hasilnya menunjukkan, ketika petani mampu menghasilkan output lebih besar dari setiap unit input, emisi dapat ditekan meski produksi terus naik.

Sejak tahun 1961, produksi pertanian global memang terus meningkat. Namun, laju pertumbuhannya tidak sejalan dengan kenaikan emisi.

Dalam periode enam dekade tersebut, produktivitas pertanian global meningkat hingga 270 persen. Sementara itu, emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian hanya naik sekitar 45 persen.

Baca juga:

Pertanian masih menyumbang emisi besar

Studi global mengungkap produktivitas pertanian tinggi mampu menahan pertumbuhan emisi gas rumah kaca.pixabay Studi global mengungkap produktivitas pertanian tinggi mampu menahan pertumbuhan emisi gas rumah kaca.

Meski pertumbuhannya melambat, sektor pertanian tetap menjadi penyumbang besar emisi global.

Pertanian dan perubahan penggunaan lahan menyumbang sekitar seperlima dari total emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia. Maka dari itu, pengurangan emisi tetap dibutuhkan untuk menahan laju pemanasan global.

Penelitian ini mencoba menjawab pertanyaan besar soal mengapa produksi pertanian meningkat jauh lebih cepat dibanding emisinya.

Ortiz-Bobea bersama Simone Pieralli, ekonom pertanian dari JRC, menemukan bahwa produktivitas output per unit input menjadi faktor paling dominan.

Artinya, hal yang paling berpengaruh adalah seberapa efisien input tersebut diubah menjadi hasil, tidak hanya jumlah lahan atau tenaga kerja yang menentukan.

Peneliti menilai banyak riset sebelumnya terlalu fokus pada jumlah produksi atau kalori. Padahal dalam statistik nasional, yang diukur adalah nilai ekonomi.

"Kalori memang penting, tapi ketika kita membicarakan statistik nasional, mereka tidak mengukur kalori, melainkan mengukur nilai," ucap Ortiz-Bobea.

"Berapa banyak nilai yang kita hasilkan? Berapa banyak modal, bahan baku, dan tenaga kerja yang kita gunakan dalam prosesnya? Dan berapa banyak gas rumah kaca yang dihasilkan sebagai produk sampingan? Kami ingin menghubungkan ide-ide ini dan memasukkannya ke dalam kerangka kerja yang sama," lanjut dia. 

Data global dari puluhan negara

Studi global mengungkap produktivitas pertanian tinggi mampu menahan pertumbuhan emisi gas rumah kaca.Shutterstock/Basicdog Studi global mengungkap produktivitas pertanian tinggi mampu menahan pertumbuhan emisi gas rumah kaca.

Dalam studi ini, peneliti menggunakan data input dan produksi pertanian dari USDA yang mencakup hampir seluruh negara di dunia.

Data emisi diambil dari Food and Agriculture Organization (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Hasil analisis menunjukkan bahwa kenaikan output per unit input memiliki peran terbesar dalam menekan pertumbuhan emisi.

Contohnya meliputi benih unggul, pupuk yang lebih efisien, dan teknologi pertanian modern.

Teknologi seperti ini membantu petani menghasilkan lebih banyak dari lahan yang sama. Dampaknya, tekanan terhadap perluasan lahan dan emisi bisa ditekan.

Baca juga:

"Sepertinya arah perubahan teknologi, setidaknya secara global, sebenarnya dapat membantu mengurangi emisi karbon,” kata Ortiz-Bobea. 

"Namun, kita membutuhkan model lain untuk benar-benar memahami trade-off yang ada dan mengidentifikasi arah ideal bagi perubahan teknologi. Kita tidak tahu pasti, tetapi kita ingin mengidentifikasi arah-arah berbeda yang dapat didorong oleh kebijakan," tambah dia. 

Temuan ini juga membawa pesan kuat bagi pembuat kebijakan.

Ortiz-Bobea menyoroti kondisi di Amerika Serikat. Produktivitas pertanian mulai melambat akibat stagnasi pendanaan riset dan pengembangan selama empat dekade terakhir.

Dalam kondisi sumber daya yang terbatas, kebijakan R&D perlu diarahkan dengan tujuan yang jelas.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau