Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga

Kompas.com, 20 Januari 2026, 17:54 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Krisis iklim yang terus meningkat disebut menggerus pendapatan tahunan industri olahraga global sebesar 1,6 triliun dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 27.110 triliun) pada tahun 2050, dengan heat stress dianggap sebagai risiko nomor satu.

Hal tersebut berdasarkan analisis baru dari Oliver Wyman, yang didukung oleh Forum Ekonomi Dunia (World Economy Forum atau WEF) dan lebih dari 120 organisasi lainnya dari seluruh lingkup olahraga dan lingkungan global.

Baca juga:

Pendapatan olahraga dunia dipengaruhi krisis iklim

Panas dan cuaca ekstrem jadi risiko

Pendapatan tahunan industri olahraga global diproyeksikan mengalami tingkat pertumbuhan gabungan sebesar 10 persen hingga tahun 2030. Pada akhir dekade ini, diperkirakan akan mencapai 3,7 triliun dollar AS (sekitar Rp 62.695 triliun).

Oleh karena itu, tak sedikit yang bertaruh besar pada industri ini, terutama dalam balap mobil, sepak bola, dan olahraga raket, dilansir dari Edie, Selasa (20/1/2026).

Perkiraan jangka panjang sebelumnya menyimpulkan bahwa pendapatan tahunan dapat melonjak hingga 8,8 triliun dollar AS (sekitar Rp 149.133 triliun) pada tahun 2050.

Namun, analisis baru menyimpulkan bahwa sekitar 18 persen dari jumlah tersebut, setara dengan 1,6 triliun dollar AS (sekitar Rp 27.115 triliun), berisiko akibat perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.

Krisis iklim yang terus meningkat disebut menggerus pendapatan tahunan industri olahraga global sebesar 1,6 triliun dollar AS.Dok. Unsplash/Tobias Flyckt Krisis iklim yang terus meningkat disebut menggerus pendapatan tahunan industri olahraga global sebesar 1,6 triliun dollar AS.

Risiko utama meliputi panas dan cuaca ekstrem. Beberapa wilayah geografis akan menjadi terlalu panas bagi atlet untuk berkompetisi dengan aman pada waktu-waktu tertentu dalam sehari atau setahun pada tahun-tahun mendatang.

Sementara itu, cuaca ekstrem akan mengurangi keandalan infrastruktur transportasi dan energi yang diandalkan oleh tempat penyelenggaraan, atlet, dan penonton.

Risiko-risiko ini juga kemungkinan akan mengganggu rantai pasokan barang dagangan olahraga dan mencegah masyarakat umum untuk tetap aktif, terutama di luar ruangan.

Saat ini, satu dari lima orang di seluruh dunia kesulitan berolahraga di luar ruangan karena kondisi cuaca.

Baca juga:

Tak bisa diselesaikan oleh satu organisasi saja

Penulis laporan ini pun menyimpulkan bahwa perlu tindakan terintegrasi untuk mengatasi permasalahan industri olahraga.

Dengan kata lain, risiko lingkungan bersifat berjenjang sehingga hal tersebut tidak dapat diatasi oleh satu organisasi saja.

Meningkatkan ketahanan fasilitas olahraga, tempat penyelenggaraan, dan rantai nilai akan membutuhkan kolaborasi terpadu antara pemerintah nasional, pemerintah daerah, berbagai perusahaan, dan para ahli pembangunan berkelanjutan.

Selain kolaborasi lokal ini, kemitraan baru harus dibentuk secara global untuk berbagi praktik terbaik dan membuka pendanaan tambahan.

Laporan tersebut mencatat bahwa momentum telah terbentuk melalui inisiatif Sports for Climate Action dan Sports for Nature yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sementara itu, Federasi Industri Barang Olahraga Dunia (WFSGI) berkolaborasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia.

Lebih lanjut, tindakan prioritas yang diidentifikasi untuk semua organisasi di seluruh rantai nilai olahraga adalah mendorong pendanaan untuk ketahanan dan keberlanjutan, menekankan pentingnya olahraga bagi perekonomian kota, dan memperjuangkan pengelolaan sumber daya alam.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau