JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Indonesia memastikan teknologi canggih digunakan untuk proyek Waste to Energy (WtE) atau Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).
Menurut Lead of Waste to Energy BPI Danantara Indonesia, Fadli Rahman, teknologi ini lebih canggih dibandingkan 80 persen teknologi serupa yang diterapkan di China. Diketahui, China adalah salah satu negara yang sukses menjalankan program WtE.
Baca juga:
"Kami tidak menerapkan teknologi yang lama tetapi teknologi yang baru, yang setiap posisi memiliki karakteristik yang berbeda-beda tetapi standarnya jauh lebih tinggi daripada yang kami sudah set di proposal (WtE)," kata Fadli dalam diskusi Tenggara Strategics, Jakarta Pusat, Rabu (22/1/2026).
Lead of Waste to Energy BPI Danantara Indonesia, Fadli Rahman menjelaskan soal proyek PSEL Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026). Dia menjelaskan, sistem insinerasi yang diterapkan pada fasilitas PSEL tidak bisa disamakan dengan pembakaran sampah konvensional. Pembakarannya disebut sempurna, dengan suhu hingga 1.000 derajat celsius.
Sementara itu, pembakaran sampah atau insinerator biasa suhunya lebih rendah dan menimbulkan gas beracun.
"Teknologi yang kami pakai itu adalah teknologi dengan pembakarannya yang sempurna ditambah dengan beberapa filtering untuk memastikan gas-gas atau senyawa gas residu yang beracun ditangkap," jelas Fadli.
"Sehingga udara yang keluar atau asap yang keluar itu adalah asap bersih dengan standar lebih ketat daripada standar Eropa, lebih ketat lagi daripada standar yang sudah kita punya di Kementerian Lingkungan Hidup," imbuh dia.
Teknologi tersebut bukanlah bagian dari eksperimen, melainkan sudah diterapkan di sejumlah negara.
Selain itu, teknologi tersebut menjadi satu-satunya yang diperbolehkan untuk proyek PSEL di Indonesia sesuai ketentuan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan Melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.
Baca juga:
Danantara Indonesia menyampaikan, teknologi PSEL dalam negeri akan lebih cangih dibandingkan yang digunakan di China. Danantara Indonesia akan mengumumkan hasil lelang proyek PSEL tahap pertama pada Februari 2026.
Fadli menuturkan, fasilitas PSEL terlebih dahulu dibangun di Bogor, Denpasar, Yogyakarta, dan Bekasi karena dinyatakan siap.
"Pertengahan Februari (pengumumannya). Tergantung pimpinan (daerah), kami menyiapkan untuk empat kota/kabupaten tersebut," ujar dia.
Pembangunan konstruksi PSEL nantinya dilakukan usai pengumuman tender tersebut yakni sekitar Maret 2026. Waktu yang dibutuhkan pengerjaan proyek ini selama 1,5 hingga dua tahun.
Baca juga:
Fadli merincikan saat ini ada 24 perusahaan asing dari China, Perancis, dan Jepang yang terpilih sebagai Badan Usaha Pengembang dan Pengelola PSEL.
Mereka lolos seleksi peninjauan Danantara dari yang sebelumnya berjumlah 200 sebagai Daftar Penyedia Teknologi (DPT).
Perusahaan terpilih akan membentuk konsorsium yang terdiri dari perusahaan-perusahaan lokal sebagai mitranya.
"Yang milih mereka (pemenang tender), tetapi kami harus me-review. Kami harus pastikan bahwa mereka memang betul-betul mumpuni juga perusahaan lokalnya. Jangan sampai nanti perusahaan lokalnya tidak mumpuni," ucap dia.
Danantara telah menetapkan tujuh kabupaten/kota yang akan dibangun proyek PSEL mencakup Bali, Yogyakarta, Bogor Raya, Tangerang Raya, Kota Semarang, Bekasi Raya, dan Medan Raya.
Setidaknya, satu lokasi PSEL akan mengelola 1.000-1.500 ton sampah dengan maksimal 50.000 ton sampah per harinya.
Namun, berdasarkan data tahun 2025, timbulan sampah di Indonesia per harinya 140.000 ton per hari.
"Solusi ini (PSEL) hanya 30 persen dari masalah kita, itu pun sudah susahnya setengah mati. 70 persennya saya rasa harus dilakukan dengan lain, insinerasi lainnya, gasifikasi, terutama juga dengan pemilahan, jadi betul ini bisa menjadi solusi tetapi yang selalu kita sampaikan semua solusi harus tetap harus kita laksanakan," jelas Fadli.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya