Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Danantara Pastikan Proyek PSEL Pakai Teknologi Lebih Canggih dari China

Kompas.com, 22 Januari 2026, 11:46 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Indonesia memastikan teknologi canggih digunakan untuk proyek Waste to Energy (WtE) atau Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).

Menurut Lead of Waste to Energy BPI Danantara Indonesia, Fadli Rahman, teknologi ini lebih canggih dibandingkan 80 persen teknologi serupa yang diterapkan di China. Diketahui, China adalah salah satu negara yang sukses menjalankan program WtE.

Baca juga: 

"Kami tidak menerapkan teknologi yang lama tetapi teknologi yang baru, yang setiap posisi memiliki karakteristik yang berbeda-beda tetapi standarnya jauh lebih tinggi daripada yang kami sudah set di proposal (WtE)," kata Fadli dalam diskusi Tenggara Strategics, Jakarta Pusat, Rabu (22/1/2026).

Danantara pakai teknologi lebih canggih untuk PSEL

Lead of Waste to Energy BPI Danantara Indonesia, Fadli Rahman menjelaskan soal proyek PSEL Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026). KOMPAS.com/ZINTAN Lead of Waste to Energy BPI Danantara Indonesia, Fadli Rahman menjelaskan soal proyek PSEL Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026).

Dia menjelaskan, sistem insinerasi yang diterapkan pada fasilitas PSEL tidak bisa disamakan dengan pembakaran sampah konvensional. Pembakarannya disebut sempurna, dengan suhu hingga 1.000 derajat celsius.

Sementara itu, pembakaran sampah atau insinerator biasa suhunya lebih rendah dan menimbulkan gas beracun.

"Teknologi yang kami pakai itu adalah teknologi dengan pembakarannya yang sempurna ditambah dengan beberapa filtering untuk memastikan gas-gas atau senyawa gas residu yang beracun ditangkap," jelas Fadli.

"Sehingga udara yang keluar atau asap yang keluar itu adalah asap bersih dengan standar lebih ketat daripada standar Eropa, lebih ketat lagi daripada standar yang sudah kita punya di Kementerian Lingkungan Hidup," imbuh dia.

Teknologi tersebut bukanlah bagian dari eksperimen, melainkan sudah diterapkan di sejumlah negara.

Selain itu, teknologi tersebut menjadi satu-satunya yang diperbolehkan untuk proyek PSEL di Indonesia sesuai ketentuan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan Melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.

Baca juga:

Pengumuman hasil lelang proyek

Danantara Indonesia menyampaikan, teknologi PSEL dalam negeri akan lebih cangih dibandingkan yang digunakan di China. UNSPLASH/JOHN CAMERON Danantara Indonesia menyampaikan, teknologi PSEL dalam negeri akan lebih cangih dibandingkan yang digunakan di China.

Danantara Indonesia akan mengumumkan hasil lelang proyek PSEL tahap pertama pada Februari 2026.

Fadli menuturkan, fasilitas PSEL terlebih dahulu dibangun di Bogor, Denpasar, Yogyakarta, dan Bekasi karena dinyatakan siap.

"Pertengahan Februari (pengumumannya). Tergantung pimpinan (daerah), kami menyiapkan untuk empat kota/kabupaten tersebut," ujar dia.

Pembangunan konstruksi PSEL nantinya dilakukan usai pengumuman tender tersebut yakni sekitar Maret 2026. Waktu yang dibutuhkan pengerjaan proyek ini selama 1,5 hingga dua tahun.

Baca juga:

Fadli merincikan saat ini ada 24 perusahaan asing dari China, Perancis, dan Jepang yang terpilih sebagai Badan Usaha Pengembang dan Pengelola PSEL.

Mereka lolos seleksi peninjauan Danantara dari yang sebelumnya berjumlah 200 sebagai Daftar Penyedia Teknologi (DPT).

Perusahaan terpilih akan membentuk konsorsium yang terdiri dari perusahaan-perusahaan lokal sebagai mitranya.

"Yang milih mereka (pemenang tender), tetapi kami harus me-review. Kami harus pastikan bahwa mereka memang betul-betul mumpuni juga perusahaan lokalnya. Jangan sampai nanti perusahaan lokalnya tidak mumpuni," ucap dia.

Danantara telah menetapkan tujuh kabupaten/kota yang akan dibangun proyek PSEL mencakup Bali, Yogyakarta, Bogor Raya, Tangerang Raya, Kota Semarang, Bekasi Raya, dan Medan Raya.

Setidaknya, satu lokasi PSEL akan mengelola 1.000-1.500 ton sampah dengan maksimal 50.000 ton sampah per harinya.

Namun, berdasarkan data tahun 2025, timbulan sampah di Indonesia per harinya 140.000 ton per hari.

"Solusi ini (PSEL) hanya 30 persen dari masalah kita, itu pun sudah susahnya setengah mati. 70 persennya saya rasa harus dilakukan dengan lain, insinerasi lainnya, gasifikasi, terutama juga dengan pemilahan, jadi betul ini bisa menjadi solusi tetapi yang selalu kita sampaikan semua solusi harus tetap harus kita laksanakan," jelas Fadli.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau