Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bisakah Biaya Retur Kurangi Dampak Industri Fast Fashion?

Kompas.com, 22 Januari 2026, 14:44 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kontribusi industri tekstil terhadap emisi karbon global dinilai cukup signifikan, sekitar delapan sampai 10 persen dari emisi dunia. Angka tersebut melebihi gabungan jejak karbon dari sektor penerbangan dan pengiriman jalur laut. 

Namun, dampak terhadap lingkungan dinilai bisa semakin besar akibat layanan pengembalian produk (product returns atau retur).

Baca juga: 

Sebab, layanan tersebut mencakup transportasi tambahan, packaging, proses inspeksi dan pemilahan yang memerlukan energi, serta pembuangan, dilansir dari The Conversation dan Phys.org, Kamis (22/1/2026).

Dampak lingkungan industri fashion

Biaya retur bisa jadi solusi?

Pengembalian pakaian online ternyata menambah emisi karbon. Biaya retur dinilai belum menyentuh akar masalah fast fashion.Dok. Freepik/Freepik Pengembalian pakaian online ternyata menambah emisi karbon. Biaya retur dinilai belum menyentuh akar masalah fast fashion.

Perusahaan ritel fesyen online (daring), Asos memperkenalkan biaya tambahan untuk pelanggan yang hendak mengembalikan produk.

Tujuannya mendorong pembeli dengan tingkat pembelian tertinggi untuk mengurangi kebiasaannya.

Diketahui, selama ini kebijakan retur gratis dan tanpa hambatan menjadi keunggulan kompetitif utama dalam industri fast fashion. 

Terdapat dua skenario umum belanja fast fashion. Pertama, pelanggan membeli tiga atau empat barang sejenis dengan ukuran berbeda, kemudian mengembalikan barang yang tidak diinginkan.

Sementara itu, skenario kedua adalah pelanggan membeli tiga atau empat produk yang berbeda.

Dalam skenario pertama, pendekatan "pembatasan ukuran" dalam industri ritel kemungkinan lebih terpengaruh oleh biaya retur yang baru.

Hal ini bisa mendorong beberapa pembeli untuk mengurangi ukuran pesanan mereka, kemungkinan dari empat, menjadi dua, yang berdampak positif terhadap lingkungan jika mereka terus berbelanja di Asos.

Pengembalian pakaian online ternyata menambah emisi karbon. Biaya retur dinilai belum menyentuh akar masalah fast fashion.Freepik Pengembalian pakaian online ternyata menambah emisi karbon. Biaya retur dinilai belum menyentuh akar masalah fast fashion.

Adapun skenario kedua merupakan pembelian impulsif yang menghasilkan hampir 40 persen dari total pengeluaran online secara global, dengan pakaian sebagai kategori yang paling sering dibeli.

Namun, ketika dihadapkan dengan biaya retur, pembeli impulsif jauh lebih cenderung menghindari proses pengembalian sepenuhnya jika dianggap rumit atau mahal.

Sebuah studi di Amerika Serikat menemukan, 75 persen pembeli online menyimpan barang-barang yang tidak diinginkan karena proses pengembalian yang rumit atau mahal.

Alih-alih kembali produk ke toko online untuk kemudian bisa diperbaiki dan dijual kembali, barang tersebut justru tetap berada di rumah pembeli atau berakhir di tempat pembuangan sampah setempat.

Secara keseluruhan, biaya retur hanya memindahkan beban limbah dari rantai pasokan ritel ke rumah tangga individu dan sistem pengelolaan limbah pemerintah daerah.

Asos menyatakan bahwa perusahaannya menyadari tanggung jawab untuk mengurangi dampak usahanya terhadap lingkungan dan melindungi orang-orang dalam rantai pasokannya.

Polemik retur di fast fashion

Pengembalian pakaian online ternyata menambah emisi karbon. Biaya retur dinilai belum menyentuh akar masalah fast fashion.PIXABAY/PREIS_KING Pengembalian pakaian online ternyata menambah emisi karbon. Biaya retur dinilai belum menyentuh akar masalah fast fashion.

Ketika suatu barang dikembalikan, barang tersebut akan memasuki sistem logistik terbalik yang jauh kurang efisien daripada rantai asli dari produsen ke pemasok.

Pengembalian barang sering kali memerlukan pengambilan oleh kurir secara individual, yang menambah biaya transportasi dan emisi.

Secara sepintas, biaya retur tampaknya menawarkan solusi yang mudah yaitu mencegah pengembalian, mengurangi emisi transportasi, dan meringankan beban sistem pengelolaan limbah.

Kendati demikian, logika ini gagal memperhitungkan perilaku konsumen ketika dihadapkan dengan sanksi finansial.

Pakaian yang dibiarkan di lemari tanpa pernah dipakai sama saja dengan membuang-buang sumber daya.

Hal itu karena semua air, bahan kimia, energi, dan tenaga kerja yang diinvestasikan dalam produksinya tidak menghasilkan nilai apa pun.

Membuang pakaian secara lokal hanya akan memindahkan beban ke sistem pengelolaan sampah pemerintah daerah yang seringkali tidak siap menangani tekstil.

Biaya retur tidak selalu menyelesaikan masalah sampah dan hanya mengurangi pilihan konsumen, bahkan terkadang memaksa mereka untuk memilih alternatif yang lebih buruk. 

Dengan demikian, akar permasalahan lingkungan bukanlah pengembalian barang, melainkan fast fashion itu sendiri.

Alternatif lain

Pengembalian pakaian online ternyata menambah emisi karbon. Biaya retur dinilai belum menyentuh akar masalah fast fashion.Dok. Freepik Pengembalian pakaian online ternyata menambah emisi karbon. Biaya retur dinilai belum menyentuh akar masalah fast fashion.

Berikut beberapa langkah yang kemungkinan lebih efektif ketimbang pengenaan biaya untuk pengembalian barang yang tidak akan terlalu berdampak terhadap lingkungan.

Pertama, tanggung jawab produsen yang diperluas (Extended Producer Responsibility/EPR).

Di Perancis, pengecer diwajibkan untuk membiayai sistem pengumpulan dan penyortiran mereka, menciptakan insentif untuk merancang produk yang lebih tahan lama, serta mengelola akhir masa pakainya dengan benar.

Hal ini menggeser tanggung jawab dari konsumen ke produsen, yang mana memang seharusnya tanggung jawab itu berada.

Kedua, pajak atas bahan berbahaya. Usulan pajak Swedia terhadap pakaian yang mengandung bahan kimia berbahaya menargetkan fase produksi, dengan sebagian besar kerusakan lingkungan terjadi.

Ketiga, investasi dalam infrastruktur daur ulang. Hambatan utama dalam industri tekstil adalah daur ulangnya. Tanpa daur ulang berskala besar, penggunaan kembali menjadi satu-satunya pilihan ekonomi sirkular.

Baca juga: 

Keempat, standar desain. Campuran poliester mempersulit daur ulang. Persyaratan persentase kandungan daur ulang yang lebih tinggi atau pembatasan campuran serat akan mengatasi beberapa akar penyebab limbah.

Kelima, transparansi data pengembalian barang. Berbagai studi menunjukkan bahwa peritel kekurangan data dasar tentang ke mana barang yang dikembalikan berakhir.

Pengungkapan wajib tentang tindakan mereka dengan barang yang dikembalikan akan mengungkap masalah pemusnahan dan meningkatkan akuntabilitas mereka.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Pemerintah
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
Pemerintah
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemerintah
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Pemerintah
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
LSM/Figur
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
LSM/Figur
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
Pemerintah
Ketika AI 'Haus' Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
Ketika AI "Haus" Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau