Ketika air meninggi, tanah menjadi lebih basah dan kadar oksigen di zona perakaran menurun. Dalam kondisi ini, tanaman kurang aktif dan menyerap lebih sedikit CO2.
Kondisi itu terjadi karena, dalam kondisi basah, lahan gambut membutuhkan lebih sedikit cahaya sebelum mulai menyerap lebih banyak CO2 daripada yang dilepaskan.
"Ketika ambang batas ini tercapai lebih awal siang hari, Anda mendapatkan lebih banyak jam dengan penyerapan karbon bersih. Perhitungan kami menunjukkan bahwa efek ini sangat kuat di wilayah utara, karena malam musim panas yang panjang dan terang. Hal ini memberikan banyak jam tambahan di mana sistem tetap berada di sisi positif, yang dapat meningkatkan total penyerapan CO2 secara signifikan," tutur Zhao.
Suhu terbukti menjadi faktor kunci. Saat suhu naik, mikroorganisme mengurai bahan organik lebih cepat, serta emisi CO2 meningkat.
Artinya, efek dari permukaan air yang tinggi paling besar terjadi di iklim dingin dan pemanasan global masa depan bisa mengurangi manfaatnya. Dalam praktiknya, permukaan air, suhu, dan kondisi lokal perlu dipertimbangkan secara bersamaan.
Baca juga:
Pemupukan dan panen juga memengaruhi keseimbangan iklim. Lebih banyak memberikan pupuk menghasilkan biomassa yang semakin besar tanpa mengurangi emisi CO2 atau metana secara signifikan.
Namun, pemanenan memiliki efek lebih kentara, yang mana karbon terlepas saat tumbuhan dipotong. Jika pemanenan sangat sering, lebih banyak karbon yang dapat diambil daripada yang dibangun kembali dari waktu ke waktu. Bahkan, lapisan gambut dapat secara bertahap kehilangan karbon ketika permukaan air tetap tinggi.
Maka dari itu, penting untuk mempertimbangkan tingkat air, pemupukan, dan strategi panen secara bersamaan.
Langkah-langkah menurunkan emisi GRK dalam jangka pendek berpotensi mengurangi penyimpanan karbon pada jangka panjang, yang melemahkan kesehatan tanah.
"Salah satu solusinya bisa berupa paludikultur yaitu menanam spesies tanaman yang toleran terhadap kondisi basah sehingga biomassa dapat diproduksi tanpa menjaga tanah tetap kering," ucapnya.
Hasil penelitian menemukan perbedaan besar dalam emisi di lahan yang sama. Beberapa area memang menyerap CO2, sedangkan area lainnya malah melepaskan CO2 dalam jumlah besar.
Variasi lokal semacam itu dapat sangat memengaruhi perhitungan iklim nasional dan bagaimana langkah-langkah mitigasi dirancang karena satu faktor emisi GRK standar mungkin tidak mencerminkan realitas.
"Hasil dari studi kami menunjukkan kebutuhan yang jelas untuk pengukuran yang lebih rinci dan pengelolaan permukaan air yang lebih tepat dalam praktiknya, terutama di tempat-tempat di mana kondisi tanah dan pertanian sangat bervariasi antar lokasi," ujar Zhao.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya