KOMPAS.com - Dalam keadaan alaminya, lahan gambut menjadi salah satu penyimpan karbon terbesar. Sebab, tanah gambut jenuh air dan rendah oksigen, dengan material tumbuhan mati terurai sangat lambat.
Lapisan gambut yang tebal terbentuk dari tumbuhan dengan kondisi tidak sepenuhnya terurai dan terakumulasi selama ribuan tahun.
Baca juga:
Ketika lahannya dikeringkan untuk penggunaan pertanian, permukaan air turun dan oksigen masuk ke lapisan gambut.
Mikroorganisme kemudian dapat menguraikan material tumbuhan tua jauh lebih cepat, melepaskan karbon yang telah tersimpan selama bertahun-tahun. Alhasil, pengeringan lahan berkontribusi menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) karbon dioksida (CO2).
Tingginya air tanah di lahan gambut Arktik yang dibudidayakan kemungkinan menjadi langkah efektif untuk mengatasi krisis iklim.
Lahan gambut yang luas di Eropa dan wilayah Nordik telah dikeringkan sejak tahun 1600-an. Banyak penelitian telah menyelidiki bagaimana pengeringan dan perubahan permukaan air memengaruhi emisi GRK.
Namun, masih sedikit pengetahuan tentang lahan gambut yang dikeringkan di wilayah paling utara, di mana iklimnya dicirikan oleh suhu rendah dan musim tanam berdurasi pendek.
"Dari penelitian di wilayah yang lebih hangat, kita tahu bahwa peningkatan permukaan air tanah di lahan gambut yang dikeringkan dan dibudidayakan sering kali mengurangi emisi CO2, karena gambut terurai lebih lambat," ujar peneliti Norwegian Institute of Bioeconomy Research (NIBIO), Junbin Zhao, dilansir dari Phys.org, Rabu (28/1/2026).
Pada saat yang sama, kondisi yang lebih basah dan rendah oksigen bisa meningkatkan metana karena mikroba penghasil metana berkembang biak ketika hampir tidak ada oksigen di dalam tanah.
Dalam kondisi tertentu, emisi dinitrogen oksida juga dapat meningkat. Hal ini terjadi saat tanah lembap, tapi tidak sepenuhnya tergenang air sehingga penguraian nitrogen berhenti di tengah jalan dan menghasilkan dinitrogen oksida.
"Karena setiap GRK bereaksi berbeda terhadap perubahan permukaan air, satu gas dapat menurun sedangkan gas lain meningkat. Itulah mengapa penting untuk melihat keseimbangan gas secara keseluruhan. Kita perlu mengukur CO2, metana, dan dinitrogen oksida secara bersamaan dan sepanjang musim untuk memahami efek bersih yang sebenarnya di daerah pertanian paling utara," jelas Zhao.
Baca juga:
Berdasarkan hasil penelitian, pengeringan lahan gambut di lembah Pasvik, Norwegia utara, melepaskan emisi CO2 dalam jumlah besar.
Namun, saat air tanah dinaikkan hingga 25–50 sentimeter di bawah permukaan, emisi GRK turun tajam. Pada tingkat air yang lebih tinggi ini, emisi metana dan dinitrogen oksida yang dilepaskan juga rendah.
"Sehingga menghasilkan keseimbangan gas keseluruhan yang jauh lebih baik. Dalam kondisi seperti itu, ladang gas bahkan menyerap sedikit lebih banyak CO2 daripada yang dilepaskannya," ucapnya.
Tingginya air tanah di lahan gambut Arktik yang dibudidayakan kemungkinan menjadi langkah efektif untuk mengatasi krisis iklim.
"Temuan kami sangat menarik karena emisi diukur secara terus menerus sepanjang waktu. Ini berarti kami menangkap lonjakan singkat emisi yang luar biasa tinggi dan fluktuasi harian alami, detail yang sering terlewatkan ketika pengukuran hanya dilakukan sesekali," ujar Zhao.
Tingginya air tanah di lahan gambut Arktik yang dibudidayakan kemungkinan menjadi langkah efektif untuk mengatasi krisis iklim.
Ketika air meninggi, tanah menjadi lebih basah dan kadar oksigen di zona perakaran menurun. Dalam kondisi ini, tanaman kurang aktif dan menyerap lebih sedikit CO2.
Kondisi itu terjadi karena, dalam kondisi basah, lahan gambut membutuhkan lebih sedikit cahaya sebelum mulai menyerap lebih banyak CO2 daripada yang dilepaskan.
"Ketika ambang batas ini tercapai lebih awal siang hari, Anda mendapatkan lebih banyak jam dengan penyerapan karbon bersih. Perhitungan kami menunjukkan bahwa efek ini sangat kuat di wilayah utara, karena malam musim panas yang panjang dan terang. Hal ini memberikan banyak jam tambahan di mana sistem tetap berada di sisi positif, yang dapat meningkatkan total penyerapan CO2 secara signifikan," tutur Zhao.
Suhu terbukti menjadi faktor kunci. Saat suhu naik, mikroorganisme mengurai bahan organik lebih cepat, serta emisi CO2 meningkat.
Artinya, efek dari permukaan air yang tinggi paling besar terjadi di iklim dingin dan pemanasan global masa depan bisa mengurangi manfaatnya. Dalam praktiknya, permukaan air, suhu, dan kondisi lokal perlu dipertimbangkan secara bersamaan.
Baca juga:
Pemupukan dan panen juga memengaruhi keseimbangan iklim. Lebih banyak memberikan pupuk menghasilkan biomassa yang semakin besar tanpa mengurangi emisi CO2 atau metana secara signifikan.
Namun, pemanenan memiliki efek lebih kentara, yang mana karbon terlepas saat tumbuhan dipotong. Jika pemanenan sangat sering, lebih banyak karbon yang dapat diambil daripada yang dibangun kembali dari waktu ke waktu. Bahkan, lapisan gambut dapat secara bertahap kehilangan karbon ketika permukaan air tetap tinggi.
Maka dari itu, penting untuk mempertimbangkan tingkat air, pemupukan, dan strategi panen secara bersamaan.
Langkah-langkah menurunkan emisi GRK dalam jangka pendek berpotensi mengurangi penyimpanan karbon pada jangka panjang, yang melemahkan kesehatan tanah.
"Salah satu solusinya bisa berupa paludikultur yaitu menanam spesies tanaman yang toleran terhadap kondisi basah sehingga biomassa dapat diproduksi tanpa menjaga tanah tetap kering," ucapnya.
Hasil penelitian menemukan perbedaan besar dalam emisi di lahan yang sama. Beberapa area memang menyerap CO2, sedangkan area lainnya malah melepaskan CO2 dalam jumlah besar.
Variasi lokal semacam itu dapat sangat memengaruhi perhitungan iklim nasional dan bagaimana langkah-langkah mitigasi dirancang karena satu faktor emisi GRK standar mungkin tidak mencerminkan realitas.
"Hasil dari studi kami menunjukkan kebutuhan yang jelas untuk pengukuran yang lebih rinci dan pengelolaan permukaan air yang lebih tepat dalam praktiknya, terutama di tempat-tempat di mana kondisi tanah dan pertanian sangat bervariasi antar lokasi," ujar Zhao.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya