KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mewanti-wanti munculnya virus Nipah di Indonesia, akibat keanekaragaman spesies kelelawar serta kedekatan habitat satwa liar tersebut dengan permukiman.
Peneliti Ahli Utama Virologi, Emerging dan Re-emerging Diseases BRIN, Niluh Putu Indi Dharmayanti menuturkan, sejumlah spesies kelelawar berpotensi menjadi reservoir alami Nipah.
Baca juga:
"Kedekatan habitat kelelawar dengan permukiman manusia, praktik perburuan dan perdagangan kelelawar, serta keberadaan pasar hewan dengan sanitasi yang buruk meningkatkan risiko terjadinya spillover virus ke manusia dan hewan domestik," jelas Niluh saat dihubungi, Rabu (28/1/2026).
Selain itu, lanjut dia, keberadaan populasi babi dalam jumlah besar di beberapa wilayah dapat berperan sebagai inang.
Virus Nipah sejauh ini belum ditemukan di Indonesia. Namun, BRIN mengingatkan deteksi dini dan surveilans untuk mencegah penyebaran virus. Mengingat potensi kemunculan virus Nipah di Indonesia, surveilans dan deteksi dini, penilaian risiko, serta perencanaan kesiapsiagaan harus dilakukan guna meminimalkan dampak wabah pada masa depan.
Hal tersebut meskipun kasus virus Nipah menginfeksi manusia belum ditemukan di Indonesia.
"Lalu, sosialisasi atau peningkatan kesadaran masyarakat mengenai risiko kontak dengan kelelawar dan babi, serta bahaya konsumsi makanan yang terkontaminasi, dapat menjadi langkah efektif dalam menurunkan risiko penularan virus Nipah," tutur dia.
Adapun virus Nipah pertama kali teridentifikasi di Malaysia pada tahun 1998, dan saat ini kembali menjadi perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
"Wabah NiV telah dilaporkan di Malaysia, Singapura, Bangladesh, India, dan Filipina. Di Bangladesh dan India, wabah terjadi hampir setiap tahun dengan angka kematian kasus berkisar antara 40–75 persen," papar Niluh.
Niluh menjelaskan, hingga saat ini belum ada vaksin ataupun terapi antivirus spesifik untuk virus Nipah.
Penanganan kasus masih bergantung pada perawatan suportif sehingga pencegahan dan pengendalian sangat krusial.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya