Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - IPB University menegaskan komitmennya untuk tidak ada mahasiswa yang putus kuliah karena kendala ekonomi.
Hal ini disampaikan oleh Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan Slamet, guna memastikan akses pendidikan bisa merata bagi semua.
“IPB University menjamin bahwa tidak pernah ada kejadian drop out (DO) yang disebabkan oleh masalah keuangan, karena pintu beasiswa terbuka lebar dengan prioritas utama pada mahasiswa dari keluarga kurang mampu,” ungkap Alim Setiawan Slamet dalam keterangan resminya, Rabu (28/1/2026).
Rektor berharap masyarakat tetap optimistis menatap masa depan pendidikan. Hal ini karena masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk bisa kuliah di IPB University.
"Jangan takut akan biaya, karena tersedia banyak beasiswa yang siap menopang kebutuhan studi mahasiswa. IPB University memiliki prinsip kuat bahwa tidak boleh ada mahasiswa yang berhenti kuliah karena alasan biaya," ujar Dr Alim.
Sepanjang 2025, IPB mencatat realisasi penyaluran beasiswa yang masif kepada mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi ini. Berdasarkan data rekapitulasi beasiswa tahun 2025, total dana yang disalurkan mencapai Rp 141,72 miliar.
Dr Alim menjelaskan bahwa sebaran beasiswa IPB University berdasarkan kriteria menunjukkan mayoritas penerima beasiswa tahun 2025 adalah mahasiswa tidak mampu dengan persentase mencapai persentase 71,74 persen. Angka ini setara dengan 7.820 mahasiswa dengan total dana beasiswa sebesar Rp 98,69 miliar.
Sementara itu, porsi beasiswa untuk kategori prestasi dan tidak mampu tercatat sebesar 11,47 persen (1.250 mahasiswa) dengan dana Rp 11,01 miliar, dan kategori murni prestasi sebesar 16,80 persen (1.831 mahasiswa) dengan serapan dana Rp 31,81 miliar.
Baca juga: Urban Farming Bisa Turunkan Suhu Kota, Ini Hasil Riset IPB
Rektor menambahkan, peluang untuk memperluas beasiswa berbasis prestasi dan tidak mampu melalui peningkatan kerja sama dengan donatur non-pemerintah masih sangat terbuka.
Rektor juga menyebut, bahwa IPB University memberikan afirmasi akses pendidikan tinggi bagi calon mahasiswa dari daerah terdampak bencana seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Kami telah menyiapkan skema jalur khusus dan beasiswa untuk masyarakat terdampak bencana di tiga wilayah tersebut. Kami mengelola program deposito wakaf. Imbal hasil deposito wakaf jilid 1 dan 2 telah disalurkan,” jelas Rektor.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya