KOMPAS.com - Rasa takut disebut bisa menghambat perusahaan untuk berinvestasi hijau, menurut survei dari Earthly.
Survei terhadap 200 direktur keberlanjutan (CSO) dan pengambil keputusan di bidang keberlanjutan menemukan, ketakutan terhadap kredibilitas proyek dan reputasi bisnis merupakan faktor utama yang menghalangi organisasi untuk berinvestasi pada iklim dan alam.
Baca juga:
"Apa yang kami dengar dari CSO sudah jelas. Ambisi bukanlah masalahnya, kepercayaanlah yang menjadi masalah. Para pemimpin ingin berinvestasi di alam, tetapi mereka membutuhkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan dan dapat mereka dukung," ucap CEO dan co-founder Earthly, Oliver Bolton, dikutip dari Edie.com, Rabu (28/1/2026).
Kekhawatiran reputasi, kredibilitas proyek, dan greenwashing membuat banyak perusahaan menahan investasi hijau.
Lebih dari separuh responden (51 persen) tersebut menyatakan bahwa integritas adalah kekhawatiran utama mereka terkait investasi hijau.
Survei tersebut juga menemukan bahwa satu dari lima (23 persen) CSO lebih takut dituduh melakukan greenwashing daripada merasa khawatir jika mereka tidak mengambil tindakan nyata terkait iklim.
Sebagai informasi, greenwashing adalah taktik pemasaran atau komunikasi yang mana sebuah perusahaan memberikan kesan palsu atau klaim yang menyesatkan bahwa produk, tujuan, atau kebijakan mereka lebih ramah lingkungan daripada yang sebenarnya.
Baca juga:
Kekhawatiran reputasi, kredibilitas proyek, dan greenwashing membuat banyak perusahaan menahan investasi hijau.Tidak hanya itu, sebanyak 14 persen dari mereka yang disurvei menyatakan bahwa mereka kesulitan untuk mempertahankan klaim dan proyek berbasis alam, meskipun terdapat tekanan internal yang kuat untuk segera bertindak.
Kekhawatiran ini didukung oleh data dari Earthly, yang menunjukkan bahwa dari 1.000 proyek alam yang dibuat selama lima tahun, sebanyak 92 persen gagal memenuhi ambang batas kualitas minimum.
Hal itu terjadi ketika proyek dinilai berdasarkan integritas karbon, hasil keanekaragaman hayati, dan perlindungan sosial.
Sebagian besar proyek juga gagal dalam hal-hal spesifik seperti melindungi hak-hak masyarakat adat atau kualitas air, serta gagal memberikan bukti yang memuaskan dan prinsip tambahan.
Para CSO menyebutkan bahwa "penilaian proyek yang independen dan berbasis sains" adalah hal terpenting untuk membangun kepercayaan diri dalam investasi restorasi alam.
Baca juga:
Menanggapi temuan-temuan ini, Earthly meluncurkan Keystone 3.0, sebuah sistem atau alat penilaian terbaru yang dipromosikan sebagai "penilaian proyek alam paling komprehensif di dunia".
Tujuannya untuk memulihkan kepercayaan terhadap klaim-klaim karbon, keanekaragaman hayati, dan dampak sosial di industri tersebut.
Penilaian tersebut mengevaluasi proyek secara independen melalui lebih dari 160 titik data dan tiga pilar yaitu karbon, keanekaragaman hayati, dan manusia.
Proyek yang gagal memenuhi standar dasar penilaian akan ditolak. Hal itu mencerminkan peningkatan pengakuan bahwa dampak iklim juga mencakup faktor komunitas dan integritas ekologis.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya