Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Takut Dituduh Greenwashing, Perusahaan Jadi Enggan Berinvestasi Hijau

Kompas.com, 28 Januari 2026, 20:33 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Rasa takut disebut bisa menghambat perusahaan untuk berinvestasi hijau, menurut survei dari Earthly. 

Survei terhadap 200 direktur keberlanjutan (CSO) dan pengambil keputusan di bidang keberlanjutan menemukan, ketakutan terhadap kredibilitas proyek dan reputasi bisnis merupakan faktor utama yang menghalangi organisasi untuk berinvestasi pada iklim dan alam.

Baca juga:

"Apa yang kami dengar dari CSO sudah jelas. Ambisi bukanlah masalahnya, kepercayaanlah yang menjadi masalah. Para pemimpin ingin berinvestasi di alam, tetapi mereka membutuhkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan dan dapat mereka dukung," ucap CEO dan co-founder Earthly, Oliver Bolton, dikutip dari Edie.com, Rabu (28/1/2026). 

Rasa takut halangi perusahaan untuk investasi hijau

Satu dari lima CSO lebih takut dituduh melakukan greenwashing

Kekhawatiran reputasi, kredibilitas proyek, dan greenwashing membuat banyak perusahaan menahan investasi hijau.PEXELS/PAVEL DANILYUK Kekhawatiran reputasi, kredibilitas proyek, dan greenwashing membuat banyak perusahaan menahan investasi hijau.

Lebih dari separuh responden (51 persen) tersebut menyatakan bahwa integritas adalah kekhawatiran utama mereka terkait investasi hijau.

Survei tersebut juga menemukan bahwa satu dari lima (23 persen) CSO lebih takut dituduh melakukan greenwashing daripada merasa khawatir jika mereka tidak mengambil tindakan nyata terkait iklim.

Sebagai informasi, greenwashing adalah taktik pemasaran atau komunikasi yang mana sebuah perusahaan memberikan kesan palsu atau klaim yang menyesatkan bahwa produk, tujuan, atau kebijakan mereka lebih ramah lingkungan daripada yang sebenarnya.

Baca juga:

Kesulitan mempertahankan klaim dan proyek berbasis alam

Kekhawatiran reputasi, kredibilitas proyek, dan greenwashing membuat banyak perusahaan menahan investasi hijau. Kekhawatiran reputasi, kredibilitas proyek, dan greenwashing membuat banyak perusahaan menahan investasi hijau.

Tidak hanya itu, sebanyak 14 persen dari mereka yang disurvei menyatakan bahwa mereka kesulitan untuk mempertahankan klaim dan proyek berbasis alam, meskipun terdapat tekanan internal yang kuat untuk segera bertindak.

Kekhawatiran ini didukung oleh data dari Earthly, yang menunjukkan bahwa dari 1.000 proyek alam yang dibuat selama lima tahun, sebanyak 92 persen gagal memenuhi ambang batas kualitas minimum.

Hal itu terjadi ketika proyek dinilai berdasarkan integritas karbon, hasil keanekaragaman hayati, dan perlindungan sosial.

Sebagian besar proyek juga gagal dalam hal-hal spesifik seperti melindungi hak-hak masyarakat adat atau kualitas air, serta gagal memberikan bukti yang memuaskan dan prinsip tambahan.

Para CSO menyebutkan bahwa "penilaian proyek yang independen dan berbasis sains" adalah hal terpenting untuk membangun kepercayaan diri dalam investasi restorasi alam.

Baca juga:

Keystone 3.0

Menanggapi temuan-temuan ini, Earthly meluncurkan Keystone 3.0, sebuah sistem atau alat penilaian terbaru yang dipromosikan sebagai "penilaian proyek alam paling komprehensif di dunia".

Tujuannya untuk memulihkan kepercayaan terhadap klaim-klaim karbon, keanekaragaman hayati, dan dampak sosial di industri tersebut.

Penilaian tersebut mengevaluasi proyek secara independen melalui lebih dari 160 titik data dan tiga pilar yaitu karbon, keanekaragaman hayati, dan manusia.

Proyek yang gagal memenuhi standar dasar penilaian akan ditolak. Hal itu mencerminkan peningkatan pengakuan bahwa dampak iklim juga mencakup faktor komunitas dan integritas ekologis.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Studi Ungkap 28 Kebijakan Iklim Efektif Kurangi Emisi, Mana yang Terbaik?
Studi Ungkap 28 Kebijakan Iklim Efektif Kurangi Emisi, Mana yang Terbaik?
LSM/Figur
Banyak Negara Gagal Penuhi Target Pengurangan Risiko Pestisida PBB
Banyak Negara Gagal Penuhi Target Pengurangan Risiko Pestisida PBB
LSM/Figur
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
LSM/Figur
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
Swasta
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
LSM/Figur
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
LSM/Figur
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
Swasta
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
Pemerintah
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Pemerintah
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Pemerintah
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
Swasta
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Swasta
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
LSM/Figur
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
LSM/Figur
THR Tak Bikin Daya Beli Masyarakat Naik, Ahli Jelaskan Penyebabnya
THR Tak Bikin Daya Beli Masyarakat Naik, Ahli Jelaskan Penyebabnya
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau